Padalarang, Gontornews — Perjalanan seseorang dalam menjalankan usaha punya ragam pengalaman. Ada yang berjalan mulus, ada juga yang berjalan penuh liku, salah satunya yang dialami Asep Muchdar owner PT Alendors Global Production (AGP) yang berdomisili di Padalarang, Bandung Barat ini.
Ketika Majalah Gontor menemui sosok pengusaha milenial ini di tempat workshopnya yang baru, ia menampakkan sosok yang rendah hati. Sekilas tak terlihat kalau ternyata dia yang menggaji 300-an karyawan yang sedang bekerja merakit baju pesanan pelanggan.
Kang Asep, begitu sapaan akrabnya. Putra Sunda kelahiran Bandung, 22 Oktober 1982, ini mulai mengenal dunia konveksi sejak di bangku SMP. Ia kerap menghimpun keinginan teman-teman sekelas dalam pembuatan kaos.
Saat kuliah di Unisba, orangtuanya juga memodali untuk usaha studio musik, namun hanya berjalan dua tahun. Setelah itu ia pindah niaga menjalankan minimarket ayahnya namun gagal lagi. Selanjutnya ia kelola konter handphone, tapi juga gagal. Berlanjut jadi agen galon gagal juga. Bahkan ia pernah jadi loper koran lagi-lagi gagal.
Kang Asep mengakui kalau usaha yang ia geluti karena suka latah melihat orang lain usaha maju, lalu ia ingin mencobanya. Namun apa yang dilihat ternyata tak semudah yang ia jalani. “Liat orang lain usaha maju, ingin jalani. Terakhir dijual semua bangkrut dan tidak lagi usaha,” ungkap lelaki yang pernah nyantri di Pondok Modern Gontor selama 3 tahun ini.
Meskipun pernah nyantri, namun kelakuan Kang Asep saat itu tidak menjalankan perintah agama. Waktu itu, ia jalani usaha tak peduli halal atau haram yang penting ada hasil. Dan yang menyedihkan lagi ia jajal investasi pembangunan jalan, ternyata malah ditipu sehingga menyisakan utang sampai Rp1,5 miliar.
“Dengan keadaan terbatas, saya hanya punya modal laptop, lalu daftar di kaskus belajar usaha. Saat itu saya beli baju di kaskus. Akhirnya inisiatif bikin desain sendiri lalu saya pasarkan ternyata ada yang minat,” jelas suami dari Dini Maryani ini.
Dengan cara pre order, pesanan mulai dari selusin, dua lusin terus meningkat. Hingga pada suatu saat, orang yang ia percaya untuk pergi ke tukang kain, cutting, sablon pindah domisili ke luar Jawa. Ia pun sempat bingung melakukannya sendiri.
“Akhirnya saya turun sendiri, ke tukang cutting, sablon, di tempat yang berbeda-beda. Bikin kaos hanya dua lusin tapi mondar mandirnya begini,” ujar bapak dari tiga anak ini.
Seiring berjalannya waktu, pesanan dari yang awalnya kaos meningkat ke kemeja, jaket, celana. Bahkan ada salah satu customer yang sejak tahun 2012 hingga 2022 belum pernah komunikasi via telepon atau bertemu. “Selama ini hanya via email, namun orderannya mencapai 40 ribu per bulan,” ungkapnya.
Karena masih punya utang imbas dari investasi pembangunan jalan yang tidak jelas, ia pun mulai mencoba pertobatan berharap usahanya lancar. Saat itu ia amalkan 40 hari 40 malam shalat tepat waktu, menjalankan sunnah qabliah dan sedekah. “Saat saya jalani beban kehidupan makin berat,” katanya.
Lalu ia tambah lagi 40 hari berikutnya, namun masalah belum ada solusi hingga 40 hari ketiga masalah semakin berat. Bahkan istri harus ia pulangkan sementara ke Garut. Dalam kondisi beban yang menghimpit, ada teman menyarankan untuk minta maaf ke ibu dan minta doa restu.
Saran temannya ini pun ia lakukan, bahkan saat menghadap sang ibu ia tidak tahan dan menangis hingga mencuci kaki ibunya.
Setelah merasa lega menumpahkan uneg-uneg ke ibunya, seiring waktu ia merasakan usaha yang dijalani semakin membaik produksinya. Orderan mulai banyak, penjahit juga mulai bertambah, dari awalnya 4 penjahit bertambah jadi 25 penjahit.
Untuk pengembangan konveksinya, ia pun menyewa ruko lagi untuk menambah produksi. Namun di tengah perjalanan, ada karyawan meninggal dunia secara mendadak, ia pun difitnah bahwa kematiannya karena diguna-guna. Akhirnya para penjahit serentak pergi, padahal saat itu kerjaan setengah jadi.
Ia pun orderkan ke tempat lain, namun hasilnya jauh dari harapan, bahkan ia harus mengganti produk yang tidak sesuai dengan pesanan. Ia pun akhirnya mencari lagi para penjahit dan kepala produksi untuk bisa melanjutkan kerjaan konveksi. “Setiap kali ada hajat sekecil apapun, saya selalu meminta doa restu dari ibu,” tuturnya.
Pekerjaan mulai berjalan lagi, ia pun menambah mesin dengan sistem cicilan pembayaran. Ketika produksi mulai jalan normal, tiba-tiba ada musibah pandemi Covid. Ia pun harus merumahkan 60 karyawan.
“Alhamdulillah setelah tiga bulan Covid, kami mulai ada orderan lagi. Dan kesempatan ini saya gunakan untuk menyaring lagi tenaga yang ada, termasuk kepala produksi yang tidak bisa mengelola operasional karena sebelumnya operasional bengkak,” ujarnya.
Perlahan, meski kondisi masih pandemi, ia kembali menerima orderan, beberapa penjahit pun menjalankan pekerjaannya dengan memperhatikan protocol Covid yang dianjurkan pemerintah. Pesanan kian banyak, karena penjualan para customer kian ramai dengan sistem jualan online.
Suatu hari, ketika ia ingin membeli hewan kurban di Ustadz Hazrul yang juga alumni Gontor. Ia melihat ada tanah luas tak terpakai. Ia pun ingin menyewa, namun ia tertantang untuk membeli karena tanah tersebut oleh pemiliknya akan dijual. Akhirnya setelah melalui negosiasi ia bisa membeli tanah tersebut di masa pandemi.
Di atas tanah 2000 meter itu, berdiri bangunan gedung pabrik yang diisi oleh 300-an karyawan. Sekarang mesin ada 270 buah, output produksi mencapai 40 ribu pis per bulan. Sedangkan per hari antara 1700 sampai 2000 pis tergantung jenis barangnya.
“Desember 2021 saya pindah ke tempat baru ini, bahkan masyarakat sekitar menganggapnya ini milik orang cina yang ekspansi ke Padalarang. Padahal ia asli Sunda, putra Padalarang,” kelakarnya.
Dalam menjalankan usaha di tempat barunya ini, ia mewajibkan karyawan laki-laki ketika waktunya shalat, produksi harus berhenti untuk menjalankan shalat berjamaah di masjid yang ada di depan pabrik. “Saya juga menganjurkan karyawan untuk memperbanyak baca shalawat, minimal 100 kali agar ada keberkahan dalam berkarya,” ungkapnya.
Kini, berbagai merk ternama telah menggunakan Alendors Global Production, seperti merk Whatchout, Gabriel, Elzata, MoC dan masih banyal lagi. “Jadi selama ini yang saya pelajari, pada prinsipnya intinya kita harus konsisten dan istiqamah. Apapun usaha ada tantangannya dan kita pasti mampu. Jika saat itu saya mengeluh dan berhenti mungkin tidak sampai pada titik seperti ini. Butuh proses, sabar dan terus berdoa,” tuturnya. [Fath]






















