Aleppo, Gontornews — Aleppo terus dihujani bom dari udara. Wilayah yang dikuasai para pejuang anti-pemerintah Suriah ini telah dilanda gelombang baru pemboman udara. Menurut aktivis oposisi, Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan menguasai Aleppo akan menjadi “batu loncatan” untuk mendesak ‘pemberontak’ kembali ke Turki.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris mengatakan pada hari Jumat (14/10), puluhan serangan udara telah menyerang Aleppo timur semalam. Pertempuran terus berlangsung di bagian utara dan selatan kota.
Menurut The Aleppo Media Centre, kelompok aktivis oposisi di kota, serangan udara semalam itu menewaskan dan melukai sejumlah orang, beberapa di antaranya terkubur di bawah puing-puing.
Sejak serangan tentara Suriah terhadap Aleppo yang dikuasai ‘pemberontak’ dimulai pada akhir September, pemboman Rusia dan pemerintah telah menewaskan lebih dari 370 orang, termasuk 68 anak-anak.
Seorang relawan mengatakan, selama tiga hari terakhir, sebanyak 100 orang telah tewas dalam serangan di bagian timur kota.
Meningkatnya jumlah korban di Aleppo telah mendatangkan kecaman internasional dan mendesak perundingan diplomatik baru. Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Rusia direncanakan berlangsung hari Sabtu besok.
Sejak 2012 Aleppo terbelah dua. Wilayah timur dikuasai oposisi dan barat dikuasai pemerintah.
Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Rusia yang diterbitkan Jumat (14/10), Assad mengatakan tekadnya untuk mengambil kembali kota Aleppo. Sebab, hal itu akan memberikan keuntungan politik dan strategis bagi pemerintahnya.
“Anda harus menjaga kebersihan daerah ini dan mendorong para teroris ke Turki, kembali ke tempat mereka berasal, atau membunuhnya. Tidak ada pilihan lain,” kata Assad kepada Komsomolskaya Pravda. “Aleppo akan menjadi batu loncatan yang sangat penting untuk melakukan langkah ini.”
Assad juga mengatakan kepada surat kabar, perang sipil Suriah telah menjadi konflik antara Rusia dan Barat. “Apa yang telah kita lihat baru-baru ini dan selama beberapa minggu terakhir, dan mungkin beberapa bulan, adalah sesuatu yang lebih dari Perang Dingin,” katanya.
Assad juga mengatakan, tindakan Turki yang mendukung pemberontak Suriah dengan tujuan membasmi ISIS dari wilayah perbatasannya dengan Suriah, merupakan “invasi” dan pelanggaran “hukum internasional”. [Rusdiono Mukri]





















