Bekasi, Gontornews — Madrasah Tsanawiyah (MTs) Attaqwa 03 Babelan menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat memenuhi kebutuhan makan bergizi siswa. Kepala MTs Attaqwa 03 Babelan, H Irfan Sidiq, menjelaskan program ini juga sangat membantu para orang tua murid dalam penyediaan makan siang seiring dengan program full-day school yang mereka selenggarakan.
Meski masih ditemukan sejumlah kendala teknis di lapangan, pihak sekolah berharap pengawasan terhadap dapur penyedia makanan terus ditingkatkan agar kualitas program tetap terjaga.
“Ketika belum program MBG belum ada, setiap orang tua harus menyiapkan bekal atau terkadang mengirim makanan ke sekolah pada siang hari. Namun, ketika ada program ini terselenggara, baik orang tua murid dan sekolah, dalam hal ini MTs Attaqwa 03 Babelan, sangat terbantu,” ungkap H Irfan kepada Gontornews.com.
Selain itu, program MBG juga membuat pola makan siswa menjadi lebih teratur. Pihak sekolah mengaku lebih mudah melakukan pengawasan terhadap makanan yang dikonsumsi siswa dibanding sebelumnya, terutama saat mereka lebih banyak membeli jajanan di luar.
“Kalau sebelumnya (MBG) anak-anak banyak jajan dan kita tidak bisa mengontrol apa yang mereka makan. Padahal mereka di sekolah sampai sore. Nah, sekarang makan mereka lebih terjamin,” tutur peraih gelar Magister Pendidikan Islam dari Universitas Islam 45 Bekasi.
Sebagai informasi, 590 murid MTs Attaqwa 03 Babelan dan 55 orang guru dan karyawan menerima paket MBG. Jika ratusan murid mulai menerima MBG pada bulan Oktober 2025, maka untuk guru dan karyawan MTs Attaqwa 03 Babelan menerima paket MBG mulai awal bulan Mei 2026.
Menurut H Irfan, mereka mendapatkan tawaran langsung dari pihak SPPG yang berlokasi tidak jauh dari sekolah mereka. “Kalau di Babelan, kami termasuk yang awal-awal menerima MBG. Pihak SPPG yang datang menawarkan ke sekolah,” katanya berkisah tentang pendistribusian MBG ke lembaga yang ia pimpin.
Mayoritas siswa dan siswi MTs Attaqwa 03 Babelan merasa senang dengan adanya program MBG. Tidak hanya itu, guru Mts Attaqwa 03 Babelan juga berusaha mengelola program tersebut bukan sekadar pembagian makanan gratis, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter dan kedisiplinan.
“Kami selalu mendampingi para siswa saat makan. Sebelum makan, kami mengedukasi para siswa untuk mencuci tangan, membaca doa sebelum makan dan diawasi langsung oleh wali kelasnya masing-masing. Jadi ada sentuhan edukatif juga,” ucap alumni Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Sultan Agung Semarang tersebut.
Terkait dampak terhadap kantin sekolah, ia menilai ada sedikit pengaruh terhadap penjualan jajanan, tetapi tidak terlalu signifikan. Sebab, para siswa tetap membeli makanan ringan di luar jam makan siang.
Meski demikian, ia mengakui pelaksanaan program di lapangan masih memiliki sejumlah kekurangan. Salah satunya terkait kualitas menu hingga keterlambatan distribusi makanan dari pihak penyedia. “Pernah ada kejadian makanan telat sampai jam dua siang baru dikirim. Kita langsung sampaikan ke pihak SPPG bahwa keterlambatan seperti itu tidak boleh terulang lagi,” jelas Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada siswa. Menurutnya, pihak penyedia jangan hanya berorientasi pada keuntungan semata tanpa memperhatikan kelayakan menu. “Kalau terlalu memperhitungkan keuntungan tapi mengurangi kualitas makanan, tentu tidak baik juga,” katanya.
Pihak sekolah berharap Badan Gizi Nasional (BGN) untuk terus melakukan pengawasan terhadap dapur Satuan Penyelenggara Pemenuhan Gizi (SPPG) secara ketat. Mereka berharap pengawasan tersebut dapat meningkatkan kualitas program dan tujuan pemerintah untuk meningkatkan gizi anak dapat tercapai.
“Program ini sebenarnya sudah sangat baik. Tinggal pengawasan dan pelaksanaannya yang perlu terus diperbaiki supaya benar-benar sesuai harapan,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]























