Saat ini games kian hari kian digemari anak-anak. Jangan dipikir saat bermain games, anak yang tadinya super aktif lalu menjadi pendiam. Faktanya, games banyak mengandung unsur kekerasan dan pornografi yang diberikan bagi para penikmatnya.
Saat ini banyak games yang memiliki rating AO (Adult Only) atau M (Mature) yang dibajak Entertainment Software Rating Board (ESRB), lalu
diubah ratingnya menjadi Teen, seperti GTA San Andreas, Mass Effect, dan Gta IV.
Untuk GTA San Andreas dan Mass Effect banyak
mendapat kecaman keras karena banyak menyajikan kekerasan dalam games.
Beberapa hal penting yang ternyata membuat anak terus kecanduan games karena menuntut keterampilan lebih kompleks dan kecekatan yang lebih tinggi.
Ini jelas membuat anak semakin tertantang. Sedangkan dengan kepolosannya, anak tidak sadar jika kala itu otaknya sedang diserang dengan beragam efek buruk games.
Sebagai teknologi canggih di zaman ini, internet sangat mudah menyebarkan situs porno. Ketua
Yayasan Kita dan Buah Hati Elly Risman menuturkan, ada games action yang berisi permainan tembak-tembakan, namun ternyata
jika anak berhasil mencapai level akhir, bonus di akhir level adalah ML (Making Love) dengan PSK
(Pekerja Seks Komersial).
Tidak hanya itu, ada juga games berjenis role playing yang inti permainannya adalah tentang
bagaimana cara memperkosa paling asyik. Anak pun bisa memilih perempuan model apa yang diinginkan. Gambar perempuan tidak berbusana lalu tinggal pilih bagian tubuh mana yang mau dipegang pertama kali. Kursor berbentuk tangan yang digerakkan oleh anak-anak kita.
Nah, dibalik serangan pornografi ini tujuannya adalah agar generasi kita bermental model porno
dan mengalami kerusakan otak permanen, yang hasil akhir yang diincar adalah incest. Selain itu
sasaran utama adalah anak yang belum balig.
Jika sudah mengalami ejakulasi 33-36 kali, mereka akan menjadi pecandu pornografi,
mereka pasar empuk masa depan industri pornografi.
“Sekali anak mencoba kenikmatan semu, ia akan kebanjiran hormon dopamin. Akibatnya, ia akan merasa senang namun dalam hatinya timbul
perasaan bersalah,” terang psikolog kelahiran 21 April 1951 ini.
Saat anak merasa senang, ia akan terganggu dalam membuat analisa, pemahaman, pengambilan keputusan, dan lainnya.
Akibatnya, spiritualitas anak akan terkikis dan bermental model porno yang bisa berujung pada incest. Jika narkoba hanya merusak tiga bagian otak, tetapi pornografi akan merusak lima bagian. Jika anak sudah ejakulasi 30-33 kali, sensor otaknya akan mengalami kerusakan permanen.
Dari sini orangtua diharapkan agar lebih banyak meluangkan waktu, memberi keteladanan yang baik, dan konsisten di hadapan anak.
Orangtua tidak boleh hanyut dalam tren sehingga dengan mudah membelikan anak ponsel canggih sedangkan orangtua gaptek.
Selain itu, orangtua harus memberi batasan
dan aturan saat anak menggunakan ponsel. [Edithya Miranti]




















