Perayaan Idul Adha tahun 2021 masih akan berlangsung di masa pandemi. Muncul optimisme bahwa perbaikan ekonomi juga diikuti dengan meningkatnya angka hewan kurban yang didorong semangat kebersamaan, semangat saling berbagi antarumat Islam
Idul Adha akan tiba. Beragam upaya digalakkan demi memeriahkan hari besar umat Islam itu, mulai dari aktivitas menabung hingga metode penyaluran daging kurban. Meski dalam masa pandemi, tapi banyak kalangan bersemangat tetap berbagi. Ayat-ayat optimisme tentang pentingnya berkurban bagi umat Muslim pun merebak di masyarakat.
Data yang dihimpun Majalah Gontor pada tahun 2020 menyebut beberapa lembaga amil zakat, infak dan sedekah melaporkan lonjakan angka kurban. Lembaga filantropi Dompet Dhuafa misalnya, melaporkan bahwa pada tahun lalu mereka mampu mengumpulkan dana ZIS yang setara dengan 45.000 ekor kambing atau domba secara nasional.
Sepanjang 2020, Dompet Dhuafa mengalami peningkatan perolehan dana kurban hingga 16,7 miliar atau tumbuh 177 persen dari tahun sebelumnya. “Alhamdulillah, Dompet Dhuafa dapat melampaui target penghimpunan hewan kurban, yaitu 45.000 setara doka (domba-kambing) secara nasional,” ujar Ketua Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa, Zainal Abidin Sidik.
“Kami juga berterima kasih kepada masyarakat yang mengamanahkan kurbannya melalui Dompet Dhuafa dengan berbagai pilihan kemudahan di kanal digital. Dompet Dhuafa akan selalu menjaga kepercayaan para donatur dengan mengirimkan laporan langsung kepada donatur sehingga transparansi dan integritas akan semakin terjamin,” sambung Zainal.
NU Care-LazisNU juga melaporkan peningkatan jumlah hewan kurban dari masyarakat. Direktur NU Care-LazisNU Achmad Sudrajat menjelaskan, pandemi tidak menyurutkan niat warga untuk berkurban. “Alhamdulillah, kita telah sampai di Hari Raya Idul Adha 1441 H. Meski di tengah pandemi, antusias masyarakat untuk berkurban tidak surut,” katanya.
“Hewan-hewan kurban tersebut telah didistribusikan untuk saudara-saudara kita, seperti TKI di Malaysia, saudara Muslim di Palestina, dan Muslim Rohingya di Bangladesh, serta bagi masyarakat tidak mampu yang berada di Bosnia, Mesir, Sudan, Rusia, Maroko, Pakistan dan Suriah,” sambung Sudrajat.
Pada Idul Kurban tahun 2020, NU Care-LazisNU turut menghimpun hewan kurban dari instansi, baik pemerintah maupun swasta. “Alhamdulillah, NU Care-LazisNU dipercaya menyalurkan hewan kurban Pak Jokowi, lintas partai, BUMN, swasta, TNI, Polri, Kementerian. Tahun ini, penghimpunan hewan kurban kami mencapai 300 persen dari tahun sebelumnya,” ucap Direktur NU Care-Lazisnu, Abdur Rouf.
Namun, Kementerian Pertanian justru memaparkan data penurunan angka hewan kurban sebesar 3,5 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2020, Kementerian Pertanian mencatat ada 1.802.651 ekor hewan kurban. “Meski demikian, stok hewan kurban lokal masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ungkap keterangan resmi Kementerian Pertanian yang dilansir Bisnis.com
Kementerian Pertanian menjamin keamanan distribusi hewan kurban jelang Idul Adha 2020 silam. Bahkan, mereka melakukan pemeriksaan fisik untuk meminimalisir kematian dan tingkat stres hewan. Pemerintah memastikan semua hewan kurban telah bersertifikat hasil uji laboratorium bebas penyakit brucellosis, anthra, dan parasit darah tirapanasoma.
Pertumbuhan Ekonomi
Di tengah penurunan kasus COVID-19, Indonesia juga terus berupaya membangkitkan kembali sektor ekonomi pasca dihantam resesi akibat pandemi. Pada tahun 2021, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 4,1 hingga 5,1 persen. Angka tersebut telah mengalami penurunan target dari kisaran 4,8 hingga 5,8 persen dalam setahun.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021 akan berada pada angka 4,1 hingga 5,1 persen. “Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia keseluruhan tahun 2021 akan berada pada kisaran 4,1 persen sampai 5,1 persen,” ucap Perry sebagaimana dilansir Kompas.
Perry menjelaskan, tren ekonomi Indonesia cenderung membaik karena ditopang oleh kinerja ekspor komoditas andalan seperti minyak kelapa sawit, kendaraan bermotor, hingga besi baja. “Volume perdagangan dan harga komoditas dunia terus meningkat sehingga mendukung kinerja ekspor negara berkembang seperti Indonesia,” ujar Perry.
Sebelumnya, Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) memprediksi pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9 persen pada tahun 2021. Namun, OECD mengingatkan Indonesia untuk tetap fokus pada pembenahan sektor ekonomi nasional serta penanganan intensif di bidang kesehatan.
“Indonesia sedang menghadapi tantangan terberatnya sejak krisis 1997. Dengan reformasi yang tepat, Indonesia dapat memanfaatkan energi dan bakat dari populasi mudanya dan membuat ekonomi bergerak maju lagi,” kata Sekretaris Jenderal OECD, Angel Gurria, sebagaimana dilansir Kontan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberi tanggapan, pemerintah sangat fokus dalam menghadapi situasi luar biasa seperti pandemi COVID-19. “Saya pikir ini relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara OECD lainnya. Jadi, kita mengalami defisit pada tahun 2020 sekitar 6,1 persen dan pada saat yang sama kondisi perekonomian relatif baik dan kontraksi sekitar 2 persen,” ujar Sri Mulyani dilansir Kontan.
“Sekarang kami benar-benar perlu fokus pada bagaimana memastikan proses pemulihan akan dilanjutkan. Pada saat yang sama, kami juga akan mempercepat pemulihan ini dan mengamati area yang membutuhkan lebih banyak dukungan kebijakan. Ini sangat pragmatis, tetapi juga fleksibel, transparan, dan akuntabel,” pungkas Sri Mulyani. []




















