Di tengah kegiatan kampus yang cukup padat, beberapa mahasiswi UNIDA Gontor Kampus Mantingan dari berbagai program studi mengikuti acara Pelatihan Jurnalistik yang dibimbing langsung oleh Dedi Junaedi dan Rusdiono Mukri, yang merupakan salah kedua dari Tim Redaksi Majalah Gontor. “Setelah acara ini, saya ingin lihat kelanjutannya seperti apa harus Anda pertanggungjawabkan,” ungkap Nurhadi Ihsan, Direktur UNIDA Gontor Kamus Putri, dalam sambutannya. Itu terjadi tiga tahun lalu. Tepatnya 25 Oktober 2018. Tulisan ini dibuat sebagai kenangan untuk membangkitkan kembali memory pelatihan jurnalistik.
Kala itu, Direktur Unida Nurhadi menambahkan, “Para mahasiswi kami ini rata-rata belum punya pengalaman di bidang jurnalistik. Sekian banyak kegiatan kok gak ada publikasinya, gak ada beritanya. Di unida pusat itu ada berita tapi yang aktif di IKPM. Saya pingin itu ada di mantingan biar anak-anak ini bisa mempublikasikan kegiatan-kegiatan mereka.” Ustadz Nurhadi berharap peserta pelatihan mampu menulis segala kegiatan yang ada dikampus 1, 2, 3, dan 5. Gontor Putri 1 berjumlah 4000 murid beserta gurunya, Gontor Putri 2 sebanyak 1500 dengan guru, Gontor Putri 3 sebanyak 3000 dengan guru, dan Unida beserta dosen seluruhnya berjumlah 1100. “Jumlah sebanyak ini kok adem ayem tidak ada beritanya? yang sudah ada dalam hal kepenulisan adalah UKM Writing Club, saya suruh menulis sebayak-banyaknya tentang karya sastra apa saja. Sedagkan yang berkaitan dengan jurnalistik belum pernah ada. Maka dari sini saya harapkan pelatihan jurnalistik ini mahasiswi kita bisa belajar menjadi jurnalis yang baik dan berkualitas.” Menurut Direktur Nurhadi, banyak anak-anak gontor yang bergerak di media. “Termasuk teman angkatan saya yang sekarang kepala pembinaan liputan 6 SCTV Mauludin Anwar.” Setelah diterima menjadi wartawan, dia tanya kenapa kok saya bisa menjadi wartawan? Setelah diterima dan dia tanya kepada divisi yang menginterview, diterimanya karena ia alumni gontor. Lha saya tanya kenapa alasannya begitu? Dia bilang karena alumni gontor dikenal terampil dalam berkomunikasi dan penguasaan bahasa dimungkinkan itu akan bermanfaat untuk kepentingan publikasi” sambut Nurhadi Ihsan, Direktur UNIDA Gontor Kampus Putri.
“Mohon maaf nih pak, ada hal penting yang harus saya sampaikan. Saya sangat kecewa sekali dengan anak-anak ini, masa ada pelatihan narasumbernya datang duluan dari pada pesertanya, gak malu kalian? Saya mau bilang karena beliau pernah belajar di gontor dan tau karakternya anak gontor ya saya seneni. Jadi, para wartawan itu harus punya disiplin yang tinggi, walaupun hidupnya gak jelas. Jadi kalo datang ngejar berita, dia pasti duluan. Katanya mau jadi wartawan, mana ada wartawan yang datang terlambat? lucu ndok… lucu. Bisa ketinggalan informasi kamu nanti,” tegas Ustadz Nurhadi waktu itu.
Tentang berita, Rusdiono Mukri, Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Gontor itu menjelaskan bahwa berita merupakan sesuatu yang baru, sesuatu yang sedang terjadi, informasi yang sebelumnya tidak diketahui, informasi yang menarik minat masyarakat luas, juga fakta yang dilaporkan. Berita memiliki ukuran nilai kelayakan tersendiri, berbeda dengan tulisan-tulusan ilmiah seperti essay, opini, paper, dan lain sebagainya. Seorang wartawan harus memutuskan, meliput dan menulis berita berdasarkan pada beberapa nilai, diantaranya dalam hal ketepatan waktu, wartawan harus mampu menemukan serta menyelesaikan berita yang akan dipublikasikan dengan segera, aktualitas berita pun harus diperhatikan, apakah berita itu baru saja terjadi ataukah sudah basi. Jika terlambat, itu akan mengurangi nilai kelayakan sebuah berita.
Keganjilan, “Hal-hal yang ganjil atau aneh itu layak untuk diberitakan, seperti halnya kasus memasang kalimat tauhid di Bandara”, katanya ketika sedang menjelaskan. Kedekatan, hal-hal yang dekat dengan lingkungan sekitar seperti faktor geografis dan psikologis pun perlu diperhatikan. Tokoh penting, terkait hal ini yang perlu diperhatikan adalah ketika memilih seorang narasumber. “Kita harus lihat terlebih dahulu, siapa dia ? ada banyak perbedaan karakteristik pada tiap-tiap narasumber. Ada narasumber yang lancar bicaranya, ada pula yang terbata-bata, biasanya karena mencoba menyeimbangkan antara hal-hal yang perlu diketahui publik dan yang patut dirahasiakan oleh pihak tertentu” jelas Rusdi.
“Ada lagi hal penting yang harus diperhatikan, yaitu fokus. Semua informasi yang diperoleh dari lapangan pada dasarnya bisa dituangkan dalam tulisan. Namun, keterbatasan ruangan di media menghendaki wartawan untuk memilah informasi yang akan ditulis” lanjut Rusdi.
Tentang reportase, Dedi Junaedi, Redaktur Majalah Gontor memaparkan bahwa wartawan harus mampu melakukan proses pengumpulan fakta dan pengecekan data secara cermat. Wartawan kadang-kadang menyaksikan suatu berita sendiri, tapi yang lebih umum adalah mereka mengetahui rinciannya dari pihak lain yang mengalami sesuatu secara langsung atau yang merupakan pakar dalam topik itu. Di samping itu, dalam hal penelitian pun wartawan cenderung mengumpulkan lebih banyak informasi disbanding jumlah yang bisa mereka masukkan kedalam berita, tapi informasi itu selalu membantu mereka memahami kejadian atau isu yang sedang mereka liput. Terkadang, informasi latar belakang sangat penting untuk memberi arti lebih dalam pada berita.
“Terkait observasi di lokasi merupakan salah satu dasar bagi liputan yang baik. Wartawan menyaksikan sendiri kejadian-kejasian atau peristiwa sehingga mereka bisa menggambarkannya dengan akurat. Wartawan yang baik, ialah mereka yang menggunakan semua indera di lokasi kejadian”, lanjut Dedi menjelaskan.
Banyak tantangan yang harus dihadapi untuk menjadi seorang jurnalis. Seorang wartawan perlu memerhatikan tata cara yang tepat dalam hal pencarian topik berita, pemilihan narasumber yang sesuai, serta tata cara kepenulisan sebuah berita yang layak dibaca publik. Wartawan menggunakan sumber utama maupun kedua. Sumber utama bisa berupa wawancara dengan orang yang punya pengalaman langsung dengan suatu kejadian atau topic, atau dokumen asli yang terkait dengan topik itu. Tetapi sebagai saksi, wartawan itu sendiri bisa juga menjadi sumber utama. Adapun sumber kedua mungkin berupa laporan tertulis berdasarkan pada dokumen asli tersebut. dalam kasus kebakaran, misalnya, orang yang rumahnya terbakar adalah sumber utama, begitu juga petugas pemadam kebakaran yang terlibat dalam upaya pemadaman. Sedangkan siaran pers yang dikeluarkan oleh dinas kebakaran keesokan harinya akan menjadi sumber kedua.
“Apa saja kesalahan yang sering terjadi didalam dunia jurnalistik yang mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kami para mahasiswi yang mungkin juga berkeinginan menjadi seorang jurnalis ?” tanya salah seorang mahasiswi UNIDA, Tasya Amelia.
“Kesalahan wartawan yang biasa terjadi dalam dunia jurnalistik karena wartawan bekerja dengan ingatan, membuat asumsi sendiri, dan berhubungan dengan sumber tangan kedua. Hal ini meliputi keakuratan, wartawan harus melakukan cek dan cek ulang atas semua informasi yang mereka kumpulkan. Bahkan juga sering terjadi kasus politik dibalik tulisan yang akan atau bahkan telah dipublikasikan. Terkait hal ini, ada sesuatu yang perlu diwaspadai”, jawab Dedi.
Ada pula salah seorang mahasiswi Program studi Farmasi, Tembayatul Muhibah bertanya “Bagaimana menjadi seorang wartawan dengan background yang tidak sesuai dengan jurusan yang sedang kami ambil di UNIDA?”. “Saat menjadi seorang wartawan, wartawan tersebut akan ditempatkan diberbagai bidang liputan secara bergilir. Dari hal tersebut, akan dilihat kesesuaian dan kemahiran wartawan tersebut dalam meliput bidang apa” jawab Dedi, mantan redaktur Republika.
Cukup langka orang yang berminat untuk menjadi seorang jurnalis. Perlu adanya kehati-hatian dalam berfikir dan bertindak. Sangat jarang para jurnalis yang mengaitkan unsur islamisasi didalam berita yang diliputinya. Sekalinya ada, justru malah dianggap radikal. “Dengan acara pelatihan jurnalistik tersebut, saya mewakili panitia berharap agar para peserta yang bersungguh-sungguh dalam mengikuti acara tersebut mampu dimasukkan kedalam UKM baru yang akan dibentuk, yaitu ‘Jurnalistic Club’. Dan harapan kami yaitu bisa mewujudkan apa yang dikatakan Ustadz Nur Hadi Ihsan tadi,” jelas Nuzulia Farah, selaku Ketua Pelatihan Jurnalistik.





















