Jika kita menelaah lebih mendetail mengenai nikmat yang telah Allah berikan kepada umat Islam, maka kita tidak akan pernah bisa menghitungnya. Begitu banyak nikmat yang telah kita terima mulai dari nikmat iman, Islam, kehidupan, kesehatan dan lain sebagainya. Salah satu ciri mukmin yang shahih adalah mensyukuri nikmat yang telah ada, bukan malah mengufurinya. Bahkan janji Allah siapa yang bersyukur atas nikmat-Nya maka Allah akan menambahkan nikmat-nikmat yang lain. Sebaliknya, jika kita mengufurinya, maka adzab-Nya sangatlah pedih. Berbicara tentang nikmat yang sangat besar, terdapat dalam surat al-Kautsar.
Surat Al Kautsar (الكوثر) adalah surat ke-108 dan merupakan surat terpendek dalam Al-Qur’an. Surat ini terdiri dari tiga ayat dan merupakan Surat Makkiyah, menurut para ulama. Ia adalah surat ke-14 atau ke-15 yang turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yakni setelah Surat Al-Adiyat dan sebelum surat At-Takatsur. Ada sebagian ulama yang berpendapat surat ini Madaniyah karena di dalamnya instruksi inhar (berkorbanlah). Sedangkan ibadah qurban disyariatkan setelah hijrah ke Madinah. Namun pendapat ini ditolak ulama lainnya karena sejak di Mekkah sudah dikenal penyembelihan binatang sebagai pengorbanan.
Makna Al-Kautsar
Terdapat hadits dalam shahih Muslim, dari Anas, ia berkata, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya, “Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?” “Baru saja turun kepadaku suatu surat.” Lalu beliau membaca,
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3).
Kemudian beliau berkata, “Tahukah kalian apa itu Al-Kautsar?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, jawab kami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِى. فَيَقُولُ مَا تَدْرِى مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ
“Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Namun ada dari sebgaian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut. Allah berfirman: Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah berbuat bid’ah sesudahmu.” (HR Muslim no. 400).
Ada pelajaran berharga dari Ibnu Katsir mengenai cerita tentang surat Al-Kautsar di atas, Beliau berkata, “Kebanyakan ahli qiroah berdalil dari sini bahwa surat Al-Kautsar adalah surat Madaniyah. Dan kebanyakan dari fuqoha memandang bahwa basmalah adalah bagian dari surat ini karena ia turun bersamanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 476).
Ibnu Jauzi merinci ada enam pendapat mengenai makna Al Kautsar: Pertama, Al Kautsar adalah sungai di surga. Kedua, Al Kautsar adalah kebaikan yang banyak yang diberikan pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pendapat Ibnu ‘Abbas. Ketiga, Al Kautsar adalah ilmu dan Al Qur’an. Demikian pendapat Al Hasan Al Bashri. Keempat, Al Kautsar adalah nubuwwah (kenabian), sebagaimana pendapat ‘Ikrimah. Kelima, Al Kautsar adalah telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak manusia mendatanginya. Demikian kata ‘Atho’. Keenam, Al Kautsar adalah begitu banyak pengikut dan umat. Demikian kata Abu Bakr bin ‘Iyasy. (Lihat Zaadul Masiir, 9: 247-249) (bersambung…)




















