Tafsir Surat Al-Kautsar (2-3)
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2)
Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.
Kata shalli (صل) adalah bentuk perintah dari shalat (صلاة). Sedangkan kata inhar (انحر) berasal dari kata nahr (نحر) yang artinya pangkal leher, sekitar tempat meletakkan kalung. Dari sana muncul makna penyembelihan karena menyembelih unta itu di pangkal leher. Setelah diberi penegasan nikmat yang demikian banyak, maka Rasulullah diarahkan untuk mensyukuri nikmat itu dengan shalat dan berkorban. Qatadah, Atha ‘dan Ikrimah mengatakan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah mengatur shalat idul adha dan menyembelih hewan qurban.
Sedangkan Ibnu Jarir menjelaskan bahwa maknanya adalah jadikan seluruh shalatmu untuk Tuhanmu, dengan niat ikhlas hanya kepada-Nya, tidak pada pihak selain-Nya. Demikian pula jadikan hewan sembelihanmu hanya untuk-Nya, bukan untuk berhala-berhala. Itu semua kamu lakukan demi rasa syukur atas segala yang telah Dia berikan kepadamu berupa kemuliaan dan peringatan yang tiada tandingannya. Dia it it hal itu hanya untukmu.
Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir menjelaskan, melalui ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk senantiasa shalat. Ini merupakan kebalikan dari sifat orang yang meninggalkan shalat pada Surat Al Ma’un. Allah memerintahkan shalat dengan ikhlas (lirabbika), lawan dari shalat yang riya ‘pada Surat Al-Ma’un.
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)
Sesungguhnya orang-orang yang tahu kamu dialah yang terputus.
Kata syani’aka (شانئك) berasal dari kata syana’aan (شنآن) yang artinya adalah kebencian. Kata ini digunakan untuk menunjukkan kebencian yang bukan pada tempatnya dan yang lahir dari hati. Ayat pertama definisi bahwa Rasulullah saw. Orang yang terputus dari nikmat Allah. Ayat terakhir ini berada bahwa orang yang membencinya justru yang terputus dari nikmat Allah. Ayat pertama menyatakan bahwa Rasulullah memiliki keturunan yang banyak, yang bertolak belakang dari hinaan orang-orang musyrikin Makkah yang menyebut Rasulullah abtar. Ayat terakhir ini terjadi bahwa orang yang menghina Rasulullah justru orang yang pada akhirnya abtar.
Ash bin Ratapan yang suka menghina Rasulullah “biarkan dia, sebenarnya dia abtar” justru menjadi orang abtar karena semua anaknya mati. Ia juga abtar karena terputus dari sejarah, namanya tidak dikenal kecuali dengan kejelekan. Juga abtar karena terputus dari nikmat Allah. Para pembenci Nabi pasti abtar orang ayat ini, walaupun ia punya anak banyak. Walid bin Mughirah yang menghafal Nabi, ia punya sebelas anak. Tapi anaknya tidak melanjutkan misi dan pandangan Walid sehingga ia bisa disebut abtar. Terputus dari keturunannya dan terputus pula dari kebajikan. Orang yang abtar, jika dilayani dengan al kautsar yang berada di dekat telaga surga, ia juga tidak akan meminum dari sana.
Penutup
Surat Al Kautsar adalah surat yang menjelaskan bahwa Allah memberikan banyak nikmat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara nikmat yang banyak itu, Allah memberikan keturunan yang banyak kepada Rasulullah dan telaga kautsar di surga nanti. Surat ini memberikan arahan (taujih rabbani) agar Rasulullah mensyukuri nikmat itu dengan shalat dan berqurban. Shalat yang semata-mata karena Allah dan berqurban juga untuk Allah. Salah satu bentuk kesyukuran yang dilakukan oleh Rasulullah adalah berkurban atau menyembelih hewan kurban yang semata-mata untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Wallahu A’lam bi Shawab.






















