Oleh Dedi Junaedi
Wartawan dan Dosen INAIS Bogor
Menjelang akhir Maret 2017, peneliti NASA menemukan fakta observasi menarik. Ternyata, dalam rentang waktu tiga tahun 15 hari, aktivitas bintik Matahari menurun drastis. Fenomena ini memunculkan dugaan akan hadirnya siklus bintik minimum pada 2019-2020.
Dua gambar permukaan bintik Matahari hasil pengamatan Solar Dynamics Observatory (SDO) NASA.
Apa yang akan terjadi tahun 2019/2020? Besar kemungkinan bintik Matahari akan mencapai puncak siklus minimumnya. Ini berkorelasi dengan minimalnya aktivitas magnetik di pusat tatasurya. Maknanya, akan terjadi periode pendingan dan bermuara pada perubahan iklim global. Era zaman es dan badai salju ekstrem, bisa jadi, akan terulang kembali di Bumi seperti era abad ke-17.
Mengawali April, NASA menampilkan gambar bintik hasil pengamatan 20 Maret 2017. Tampak gambar permukaan Matahari berwarna yang kuning mulus, nyaris tanpa bintik matahri. Gambar ini amat kontras berbeda dengan hasil jepretan tanggal 27 Febuari 2014. Seperti terlihat pada gambar, bintik-bintik hitam –yang mencerminkan intensitas aktivitas Matahari– tampak jelas tersebar di sekitar permukaan kuning Matahari.
Menurut NASA, kondisi bintik Matahari pada 20 Maret 2017 amat mirip dengan kondisi April 2010. Bintik Matahari kala itu disebut-sebut sebagai akhir dari periode siklus minimum bintik Matahari. Titik terendah bintik minimum yang terakhir terjadi sepanjang tahun 2008. Mengikuti siklus 11 tahunan, maka peneliti memprakirakan trend bintik minimum akan berlanjut dan menuju puncaknya pada 2009-2010.
Fakta empiris menunjukkan, bintik Matahari mengikuti pola siklus 11 tahunan. Siklus alami biasanya ditandai dengan munculnya dua kondisi bintik ekstrem: bintik maksimum dan bintik minimum. Ekstrem maksimum misalnya terjadi tahun 2002/2002 dan 2013/2014. Sebaliknya, bintik minimum terjadi tahun 2008/2009.
Bintik merupakan daerah gelap sebagai ekspresi dari aktivitas magnetik kompleks pada permukaan Matahari. Ini berbanding lurus dengan aktivitas internal inti Matahari. Kondisi maksimum terjadi ketika intensitas aktivitas dan jumlah bintik terbanyak dan terbesar. Sebaliknya, lembah minimum terjadi ketika aktivitas Matahari kurang aktif dan jumlah bintik Matahari mencapai angka terendah. Bintik Matahari disebut-sebut juga terkait dengan adanya aliran energy berkecepatan tinggi dari bagian lubang koronal, yang memercik aurora dan efek cuaca astronomi lainnya, jelas Lina Tran dari Goddard Space Flight Center NASA.
Ikhwal akan munculnya bintik Matahari minimum pernah diungkap peneliti lainnya empat tahun lalu. Perkiraan dibuat para observer berdasarkan analisis terhadap 25 gambar dari hasil observasi April 2012 – April 2013. Kala itu, Tim NASA menduga jagat raya sedang menuju siklus minimum bintik matahari.
Secara historis, teori bintik Matahari mulai abad ke-17 ketika ilmuwan mulai teratur mengamatinya. Kondisi ekstrem terjadi dalam kurun waktu bervariasi. Mulai 9 tahunan hingga sekitar 14 tahunan. Akurasi data pengamatan menjadi penyebabnya mengingat medan pengamatan terbilang amat jauh. Bayangkan, jarak Bumi – Matahari mencapai lebih dari 150 juta km.
“Bintik Matahari menjadi penanda abadi untuk memahami mekanisme aktivitas interior Matahari,” kata Scott McIntosh, ilmuwan ruang di National Center for Atmospheric Research (NCAR) di Boulder, Colorado, dalam Astrophysical Journal (September 2014). Meski diakui tidak mudah, dia melihat ada titik terang upaya menyibak aktivitas inti Matahari dengan menganalisis dinamika atmosfirnya.
Menurut astronom ITB, Avivah Yamani, bintik Matahari dari Bumi akan tampak seperti bintik hitam. Kadang tampak samar karena kecil, bisa juga tampak jelas dan cukup besar. Bintik Matahari merupakan area di lapisan fotosfer yang suhunya lebih dingin dibanding area di sekelilingnya. Secara umum, bintik Matahari lebih dingin 1500 K dari area sekelilingnya. Temperatur fotosfer sekitar 5800 K. Saat ada bintik Matahari, area gelap itu sekitar 4300 K. Bintik yang terbentuk bukan area static, bisa berkembang membesar hingga berdiameter 80000 km atau sekitar 6 kali diameter Bumi. Area gelap bintik Matahari memiliki medan magnet ribuan kali lebih kuat dari medan magnet Bumi. Kondisi medan magnetiknya 1000 kali lebih kuat dari area fotosfer sekelilingnya.
Perbandingan bintik Matahari AR 2529 dan Bumi. Kredit: Karzaman Ahmad dari Observatorium Nasional Langkawi
Para astronom menengarai bintik merupakan indikasi terlepasnya sejumlah besar energi lewat ledakan Matahari dan badai besar atau lontaran kotoran di bintik Matahari. Pembentukan bintik dapat bertahan beberapa jam sampai beberapa bulan dan bergerak bersama perputaran Matahari.
Pengamatan Bintik Matahari
Catatan tertua pengamatan bintik Matahari dibukukan astronom China sekitar 800 SM. Astrolog China dan Korea kemudian meyakini kehadirannya terkait kejadian-kejadian penting di Bumi. Sketsa pertama dibuat John Worcester di Inggris 8 Desember 1128. Lima hari kemudian, astronom di Songdo, Korea, menyaksikan citra ‘uap air merah’ memenuhi langit dari barat laut ke barat daya. Penundaanmerupakan jeda rata-rata dari terbentuknya bintik Matahari sampai penampakan aurora borealis di area lintang rendah. Tahun berikutnya, astronom China mengamati bintik itu menghilang tanggal 14 April.
Sebelum Galileo Galilei mempublikasikan pengamatan bintik Mataharinya 1610, Thomas Harriot telah memperlihatkan catatan aktivitas periode 1560 – 1621. Setahun kemudian, pengamatan serupa dilaporkan David dan Johannes Fabricius. Pasangan ayah-anak ini melihat bintik bergerak dari timur ke barat, bersama gerak rotasi Matahari pada porosnya.
Tahun 1611, Christoph Scheiner dan Galileo Galilei menerbitkan hasil pengamatannyai. Mereka berdebat soal asal usul bintik Matahari. Cristoph Scheiner berpendapat Matahari itu bulat sempurna. Menurutnya, bintik merupakan ekspresi dari bayangan satelit kala melintas di depan Matahari.
Galileo punya pandangan berbeda. Menurutnya, bintik Matahari itu nyatai. Dia dapat muncul, berubah bentuk dan menghilang dari piringan Matahari. Matahari tidak sempurna. Melalui buku Rosa Ursina, Scheneir membenarkan Galileo dengan menyatakan, bintik berada di permukaan atau di atmosfer Matahari.
Dampak di Bumi
Pengamatan bintik Matahari ini terus berlangsung selama berabad-abad kemudian. Tahun 1825, Heinrich Schwabe dari Jerman mulai mengamati bintik matahari dengan teleskop. Selama 42 tahun dia menemukan siklus bintik Matahari. Dalam jurnal Astronomische Nachrichten, dia menulis, bintik Matahari memiliki siklus 11 tahun. Hasil pengamatan dan kesimpulan Heinrich dikonfirmasi Alex von Humboldt melalui buku Cosmos (1951).
Astronom Jerman Gustav Sporer menyebut bintik Matahari tidak hadir selama 90 tahun, dari tahun 1420 sampai 1550. Fenomena ini kemudian dikenal dengan Sporer Minimum. Selanjutnya, Edward Maunder menemukan aktivitas sangat minim dalam selang waktu 1645 – 1715. Menurut Jack Eddy dari High Altitude Observatory (1976) di Boulder, Colorado, kondisi ini berhubungan dengan zaman es kecil atau musim salju ekstrim yang melanda Eropa kala itu. Dan, kondisi ekstrem –disebut Minimum Maunder—berpotensi terjadi lagi dua-tiga tahun lagi. Siapkah kita menghadapinya?.
Dedi Junaedi



















