pesanan-baju-kaos
31 °c
Pecenongan
Mon
Tue
Sunday, 8 November, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Saintek Sains

Bintik Matahari Berkurang, Bumi Mendingin?

Dedi Junaedi by Dedi Junaedi
10 years ago
in Sains
0

Oleh Dedi Junaedi
Wartawan dan Dosen INAIS Bogor

Menjelang akhir Maret 2017, peneliti NASA menemukan fakta observasi menarik. Ternyata, dalam rentang waktu tiga tahun 15 hari, aktivitas bintik Matahari menurun drastis. Fenomena ini memunculkan dugaan akan hadirnya siklus bintik minimum pada 2019-2020.
Dua gambar permukaan bintik Matahari hasil pengamatan Solar Dynamics Observatory (SDO) NASA.
Apa yang akan terjadi tahun 2019/2020? Besar kemungkinan bintik Matahari akan mencapai puncak siklus minimumnya. Ini berkorelasi dengan minimalnya aktivitas magnetik di pusat tatasurya. Maknanya, akan terjadi periode pendingan dan bermuara pada perubahan iklim global. Era zaman es dan badai salju ekstrem, bisa jadi, akan terulang kembali di Bumi seperti era abad ke-17.
Mengawali April, NASA menampilkan gambar bintik hasil pengamatan 20 Maret 2017. Tampak gambar permukaan Matahari berwarna yang kuning mulus, nyaris tanpa bintik matahri. Gambar ini amat kontras berbeda dengan hasil jepretan tanggal 27 Febuari 2014. Seperti terlihat pada gambar, bintik-bintik hitam –yang mencerminkan intensitas aktivitas Matahari– tampak jelas tersebar di sekitar permukaan kuning Matahari.
Menurut NASA, kondisi bintik Matahari pada 20 Maret 2017 amat mirip dengan kondisi April 2010. Bintik Matahari kala itu disebut-sebut sebagai akhir dari periode siklus minimum bintik Matahari. Titik terendah bintik minimum yang terakhir terjadi sepanjang tahun 2008. Mengikuti siklus 11 tahunan, maka peneliti memprakirakan trend bintik minimum akan berlanjut dan menuju puncaknya pada 2009-2010.

Fakta empiris menunjukkan, bintik Matahari mengikuti pola siklus 11 tahunan. Siklus alami biasanya ditandai dengan munculnya dua kondisi bintik ekstrem: bintik maksimum dan bintik minimum. Ekstrem maksimum misalnya terjadi tahun 2002/2002 dan 2013/2014. Sebaliknya, bintik minimum terjadi tahun 2008/2009.
Bintik merupakan daerah gelap sebagai ekspresi dari aktivitas magnetik kompleks pada permukaan Matahari. Ini berbanding lurus dengan aktivitas internal inti Matahari. Kondisi maksimum terjadi ketika intensitas aktivitas dan jumlah bintik terbanyak dan terbesar. Sebaliknya, lembah minimum terjadi ketika aktivitas Matahari kurang aktif dan jumlah bintik Matahari mencapai angka terendah. Bintik Matahari disebut-sebut juga terkait dengan adanya aliran energy berkecepatan tinggi dari bagian lubang koronal, yang memercik aurora dan efek cuaca astronomi lainnya, jelas Lina Tran dari Goddard Space Flight Center NASA.
Ikhwal akan munculnya bintik Matahari minimum pernah diungkap peneliti lainnya empat tahun lalu. Perkiraan dibuat para observer berdasarkan analisis terhadap 25 gambar dari hasil observasi April 2012 – April 2013. Kala itu, Tim NASA menduga jagat raya sedang menuju siklus minimum bintik matahari.





Secara historis, teori bintik Matahari mulai abad ke-17 ketika ilmuwan mulai teratur mengamatinya. Kondisi ekstrem terjadi dalam kurun waktu bervariasi. Mulai 9 tahunan hingga sekitar 14 tahunan. Akurasi data pengamatan menjadi penyebabnya mengingat medan pengamatan terbilang amat jauh. Bayangkan, jarak Bumi – Matahari mencapai lebih dari 150 juta km.
“Bintik Matahari menjadi penanda abadi untuk memahami mekanisme aktivitas interior Matahari,” kata Scott McIntosh, ilmuwan ruang di National Center for Atmospheric Research (NCAR) di Boulder, Colorado, dalam Astrophysical Journal (September 2014). Meski diakui tidak mudah, dia melihat ada titik terang upaya menyibak aktivitas inti Matahari dengan menganalisis dinamika atmosfirnya.

BACA JUGA

Rutin Konsumsi Teh Turunkan Risiko Penyakit Jantung

Manfaat Olahraga Aerobik untuk Kesehatan Jantung

Laba-Laba Bisa Bermimpi, Benarkah?

Risiko Depresi Karena Asupan Garam Tinggi

Komunitas Psikiatri Dunia Soroti Tingginya Angka Kematian Akibat Bunuh Diri

Menurut astronom ITB, Avivah Yamani, bintik Matahari dari Bumi akan tampak seperti bintik hitam. Kadang tampak samar karena kecil, bisa juga tampak jelas dan cukup besar. Bintik Matahari merupakan area di lapisan fotosfer yang suhunya lebih dingin dibanding area di sekelilingnya. Secara umum, bintik Matahari lebih dingin 1500 K dari area sekelilingnya. Temperatur fotosfer sekitar 5800 K. Saat ada bintik Matahari, area gelap itu sekitar 4300 K. Bintik yang terbentuk bukan area static, bisa berkembang membesar hingga berdiameter 80000 km atau sekitar 6 kali diameter Bumi. Area gelap bintik Matahari memiliki medan magnet ribuan kali lebih kuat dari medan magnet Bumi. Kondisi medan magnetiknya 1000 kali lebih kuat dari area fotosfer sekelilingnya.

Perbandingan bintik Matahari AR 2529 dan Bumi. Kredit: Karzaman Ahmad dari Observatorium Nasional Langkawi
Para astronom menengarai bintik merupakan indikasi terlepasnya sejumlah besar energi lewat ledakan Matahari dan badai besar atau lontaran kotoran di bintik Matahari. Pembentukan bintik dapat bertahan beberapa jam sampai beberapa bulan dan bergerak bersama perputaran Matahari.



Pengamatan Bintik Matahari
Catatan tertua pengamatan bintik Matahari dibukukan astronom China sekitar 800 SM. Astrolog China dan Korea kemudian meyakini kehadirannya terkait kejadian-kejadian penting di Bumi. Sketsa pertama dibuat John Worcester di Inggris 8 Desember 1128. Lima hari kemudian, astronom di Songdo, Korea, menyaksikan citra ‘uap air merah’ memenuhi langit dari barat laut ke barat daya. Penundaanmerupakan jeda rata-rata dari terbentuknya bintik Matahari sampai penampakan aurora borealis di area lintang rendah. Tahun berikutnya, astronom China mengamati bintik itu menghilang tanggal 14 April.
Sebelum Galileo Galilei mempublikasikan pengamatan bintik Mataharinya 1610, Thomas Harriot telah memperlihatkan catatan aktivitas periode 1560 – 1621. Setahun kemudian, pengamatan serupa dilaporkan David dan Johannes Fabricius. Pasangan ayah-anak ini melihat bintik bergerak dari timur ke barat, bersama gerak rotasi Matahari pada porosnya.
Tahun 1611, Christoph Scheiner dan Galileo Galilei menerbitkan hasil pengamatannyai. Mereka berdebat soal asal usul bintik Matahari. Cristoph Scheiner berpendapat Matahari itu bulat sempurna. Menurutnya, bintik merupakan ekspresi dari bayangan satelit kala melintas di depan Matahari.
Galileo punya pandangan berbeda. Menurutnya, bintik Matahari itu nyatai. Dia dapat muncul, berubah bentuk dan menghilang dari piringan Matahari. Matahari tidak sempurna. Melalui buku Rosa Ursina, Scheneir membenarkan Galileo dengan menyatakan, bintik berada di permukaan atau di atmosfer Matahari.

Dampak di Bumi
Pengamatan bintik Matahari ini terus berlangsung selama berabad-abad kemudian. Tahun 1825, Heinrich Schwabe dari Jerman mulai mengamati bintik matahari dengan teleskop. Selama 42 tahun dia menemukan siklus bintik Matahari. Dalam jurnal Astronomische Nachrichten, dia menulis, bintik Matahari memiliki siklus 11 tahun. Hasil pengamatan dan kesimpulan Heinrich dikonfirmasi Alex von Humboldt melalui buku Cosmos (1951).

Astronom Jerman Gustav Sporer menyebut bintik Matahari tidak hadir selama 90 tahun, dari tahun 1420 sampai 1550. Fenomena ini kemudian dikenal dengan Sporer Minimum. Selanjutnya, Edward Maunder menemukan aktivitas sangat minim dalam selang waktu 1645 – 1715. Menurut Jack Eddy dari High Altitude Observatory (1976) di Boulder, Colorado, kondisi ini berhubungan dengan zaman es kecil atau musim salju ekstrim yang melanda Eropa kala itu. Dan, kondisi ekstrem –disebut Minimum Maunder—berpotensi terjadi lagi dua-tiga tahun lagi. Siapkah kita menghadapinya?.
Dedi Junaedi

Tags: Bintik MatahariBumiIklimMendingin
Share27Tweet17Send
Previous Post

HTI Protes Pembubaran Ormas Melanggar UU

Next Post

Hakim Vonis Ahok 2 Tahun Penjara

Dedi Junaedi

Dedi Junaedi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
KH Izzat Fahd Ajak Santri Baitul Arqom Jember Selalu Menjaga dan Memperjuangkan Pondok

KH Izzat Fahd Ajak Santri Baitul Arqom Jember Selalu Menjaga dan Memperjuangkan Pondok

2 November 2026
Kiai Jamhari dan Wasiat Kemandirian Perempuan

Kiai Jamhari dan Wasiat Kemandirian Perempuan

2 November 2026

Komjen (Purn) Dr Nurfaizi Suwandi: Mutiara Indonesia di Negeri Piramida

13 February 2018
Santriwati Darul Muttaqin Parung Bogor Kunjungi Majalah Gontor

Santriwati Darul Muttaqin Parung Bogor Kunjungi Majalah Gontor

1 November 2026
Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

29 October 2026
Al-Amanah Al-Gontory Gelar Kuliah Umum Pendidikan Holistik

Al-Amanah Al-Gontory Gelar Kuliah Umum Pendidikan Holistik

0
Al-Amien Prenduan Raih Juara Umum ATLAS 2026

Al-Amien Prenduan Raih Juara Umum ATLAS 2026

0
Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

0
Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

0
Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

0
Al-Amanah Al-Gontory Gelar Kuliah Umum Pendidikan Holistik

Al-Amanah Al-Gontory Gelar Kuliah Umum Pendidikan Holistik

8 November 2026
Al-Amien Prenduan Raih Juara Umum ATLAS 2026

Al-Amien Prenduan Raih Juara Umum ATLAS 2026

8 November 2026
Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

7 November 2026
Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

7 November 2026
Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

6 November 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alhamdulillah, Pre-Order dibuka lagi, kini tersedia Crewneck Sweatshirt. Tersedia saat ini Warna :

1. Black
2. Navy
3. Maroon
4. Army
5. Light Pink

Silahkan di pesan melalui link :
https://tinyurl.com/pesan-baju/

atau bisa lihat link di profile

#majalahgontor
#gontornews
  • Bazar Buku. Silahkan japri untuk pemesanan via instagram hari ini.
  • Buku ini ditulis untuk kamu yang sedang atau pernah menjalani kehidupan di pesantren. Pesan sekarang atau kunjungi stan Majalah Gontor di ESPECTO BAZAR.
  • ESPECTOR BAZAR AL HASSAN BEKASI 24 - 25 OKTOBER 2026.  DAPATAKAN DISKON 15% BAGI PEMESAN BUKU INI VIA INSTAGRAM. 
BELUM TERMASUK ONGKIR. 
UNTUK PEMESANAN BISA JAPRI ADMIN.
  • Assalamu
  • Pre Order dibuka kembali hingga 25 Oktober 2026

Link pembelian bisa dilihat di bagian akhir gambar atau di profile.
atau bisa langsung ke link dibawah ini :
https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews
  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133

untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah

#majalahgontor 
#gontornews 
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.

#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025

Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan: 
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-

Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802

Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews 

#majalahgontor 
#majalahgontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result