Jakarta, Gontornews — Hampir dua bulan, dunia kesehatan tanah air digemparkan oleh peredaran vaksin palsu. Geger ini berawal dari laporan masyarakat dan berita media massa. Antara lain ada bayi meninggal setelah imunisasi.
Aparat Kepolisian, Dinas Kesehatan, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun bergerak melakukan penyelidikan. Hasilnya, ternyata ada belasan vaksin palsu yang beredar sejak 2003. Antara lain vaksin DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus), Polio, Hepatitis B, BCG, dan campak Awalnya teridentifikasi di 14 RS/Klinik di Bekasi (12) dan Jakarta (2). Belakangan, menurut BPOM, vaksin palsu juga tersebar di 37 fasilitas kesehatan dari 9 provinsi di Indonesia.
Vaksin palsu, tentu saja, membuat para orangtua kahawatir. Tak aneh, kemudian muncul petisi publik lewat media sosial. Masyarakat kesehatan Indonesia pun heboh. Penemuan vaksin palsu yang berawal dari Kota Bekasi, Jawa Barat, ini langsung membuat berbagai kalangan dari pemerintahan atau bahkan dari kepolisian langsung bertindak cepat untuk mendapatkan informasi mendalam mengenai hal ini.
Menurut Sekretaris Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Hindra Irawan, pemberian vaksin palsu bisa menimbulkan efek nyeri atau kemerahan di seputar tempat suntikan . Namun kerugian terbesar, tambahnya, adalah anak tak mendapatkan kekebalan dan rentan terhadap penyakit
Lantas, bagaimana kita dapat mengenali vaksin palsu? Menurut Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Tety Manurung, vaksin palsu mudah diketahui dari kemasannya. Kemasan vaksin palsu cenderung lebih kasar. Selain itu, kode produksi atau nomor batch-nya cenderung samar-samar atau tidak jelas sebagaimana vaksin asli.
Sementara itu, dr Dirga Sakti Rambe, vaksinolog lulusan University of Siena, Italia, berbagi informasi lewat twitter pribadinya. Menurutnya, ada lima cara mudah membedakan vaksin palsu dan vaksin asli secara visual.
Pertama, meneliti kemasan. Orangtua perlu teliti dan mintalah izin kepada dokter untuk melihat kemasan dari vaksin yang akan digunakan. Vaksin asli kualitas cetakan hurufnya jelas, tidak buram. Kemasan juga harus dalam keadaan bagus, tidak robek, dan bersih.
Kedua, vaksin asli pasti mencantumkan tanggal kadaluarsa pada kemasannya. Selain itu, pada vaksin asli terdapat nomor unik yang dinamakan lot number atau batch number. Nomor unik pada setiap vaksin ini berbeda dengan vaksin lainnya.
Ketiga, saat kemasan dibuka, tanggal kadaluarsa serta lot number botol vaksin asli akan sama seperti yang tertera pada kemasannya. Sementara, vaksin palsu tanggal dan nomor batch berbeda atau tidak sinkron antara kemasan dan isinya.
Keempat, cairan vaksin asli berwarna bening dan tidak keruh. Vaksin ini juga hanya digunakan 1 kali saja. Vaksin palsu umumnya berwarna keruh dan atau agak keruh. Antara lain karena hasil daur ulang.
Kelima, mengecek segelnya. Vaksin asli memiliki penutup yang disegel dan tidak cacat. Vaksin palsu bisa tanpa segel atau ada cacat pada segel penutupnya.
Maka, Anda para orangtua atau siapa pun yang peduli, jika kita melihat ciri-ciri vaksin yang mencurigakan, ada baiknya segera menghubungi pakar kesehatan, baik itu dokter, bidan, atau bahkan perawat, agar anak-anak terhindar dari vaksin palsu.
Kelak, para pemalsu mungkin dapat mengelabui dokter/paramedis. Kecanggihan membuat kemasan dan mengelola nomor kedaluwarsa dapat mengaburkan tanda-tanda visual tersebut. Jika begitu, untuk memastikan vaksin itu asli atau palsu harus melalui uji laboratorium. Maka, peran aktif BPOM dan petugas Dinas Kesehatan menjadi penting di sini.
Dedi Junaedi




















