Jakarta, Gontornews — Islam adalah agama mayoritas di dunia sehingga pasar wisata halal di dunia pun besar. Hal itu diakui Ketua Tim Pengembangan dan Percepatan Pariwisata Halal (TP3H) Kementerian Pariwisata Riyanto Sofyan.
Riyanto mengatakan, pasar Muslim atau industrI halal memang besar dan itu bukan ceruk pasar. “Orang pikir, mungkin Muslim ini dianggap ceruk pasar. Bukan dan kalau dilihat Muslim berjumlah 1,7 miliar. Kalau Cina cuma 1,5 miliar,” tuturnya kepada Gontornews.com.
Kendati demikian, kata dia, primadona dunia saat ini adalah wisatawan Cina. Siapa-siapa maunya guide yang Cina. Baik Jepang, Eropa dan sebagainya termasuk Indonesia. Karena Cina termasuk kekuatan ekonomi yang sangat besar. “Sekarang pointnya ke sana (Cina). Makanya kita mesti berlomba-lomba juga dengan yang lain,” jelasnya.
Ryanto menjelaskan, wisata halal atau juga family tourism telah berkembang di mana-mana. Bukan hanya di negara-negara Muslim. Karena pasar akan berkembang jika ada kebutuhan. Dikatakannya, kebutuhan dewasa ini sudah bergerak dari sekedar minuman dan makanan ke sektor semua gaya hidup. Wisata, rekreasi, dan gaya hidup lain. “Ada kebutuhan itu otomatis pengusaha membaca dan menangkap itu,” katanya.
Adapun yang menghambat kemajuan perkembangan wisata halal, menurut Riyanto, karena banyak orang yang belum aware terhadap potensi Muslim tourist. “Kemudian ketika berbicara wisata halal pasti mikirnya ibu-ibu pengajian, kalau nggak wisata religi ke kuburan, atau ziarah masjid. Padahal wisata kan nggak cuma itu. Wisatawan Muslim mancanegara jumlahnya sangat banyak,” ucapnya.
Menurutnya, yang perlu disadari pelaku usaha wisata dan industri, membuat wisata dan produk halal tidak akan mempersempit pasar tapi justru akan membuka pasar lebih luas. Sebab, semua orang bisa makan dan menikmati yang halal. Tapi, tidak semua orang bisa memakan dan menikmati yang nonhalal. [Muh Khaerul Muttaqien/Rus]
























