London, Gontornews — Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, menutup seluruh kegiatan sosial di Inggris, Senin (17/3). PM Boris juga menginstruksikkan pasien atau masyarakat yang rentan COVID-19 di Inggris untuk mengisolasi diri selama 12 minggu ke depan.
Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran COVID-19 di Inggris yang sangat masif. Boris bak mendapatkan serangan balasan saat mengambil tindakan yang tidak terlalu ketat seperti Prancis, Spanyol atau Italia. Ketiga negara tersebut diketahui memberlakukan aturan ketat demi membendung penyebaran virus COVID-19.
“Apa yang kami umumkan hari ini adalah perubahan yang sangat substansial di jalan dimana kami ingin semua orang dapat menjalani hidup mereka. Saya tidak dapat mengingat sesuatu seperti itu di sepanjang hidup saya,” kata PM Boris sebagaimana dilansir Reuters.
Akibat kebijakan tersebut, masyarakat dilarang untuk datang ke pub, klub malam, restoran, bioskop hingga teater. Boris juga meminta masyarakat untuk menghindari perjalanan yang tidak perlu dan menghimbau agar para karyawan dapat bekerja dari rumah.
Kebijakan ini disambut kritik oleh kalangan industri perhotelan. Mereka berdalih tidak akan mengklaim asuransi jika mereka terpaksa menutup kegiatannya.
“Pengumuman ini akan menyebabkan ribuan bisnis menutup pintu mereka selamanya. Ratusan ribu karyawan akan kehilangan pekerjaan,” ungkap Kepala Eksekutif UK Hospitality, Kate Nicholls.
Meski demikian, Menteri Keuangan Inggris, Rishi Sunak, mengatakan akan mengumumkan dukungan lebih lanjut bagi bisnis di Inggris. Sebagaimana diketahui, banyak perusahaan terpukul akibat penyebaran COVID-19.
Sunak menambahkan bahwa rencana anggaran belanja yang akan digelontorkan oleh Pemerintah adalah yang terbesar dalam 30 tahun terakhir. [Mohamad Deny Irawan]






















