Jakarta, Gontornews — Serangkaian aksi teror mengerikan telah terjadi di Prancis. Setelah serangan teror yang menewaskan tiga orang di sebuah gereja di Nice, Prancis pada Kamis (29/10/ 2020), pemenggalan seorang guru juga terjadi di Prancis pada Jumat sore (16/10/ 2020).
Kondisi Prancis yang semakin memanas pasca aksi teror yang oleh pejabat Prancis diklaim sebagai aksi teror Islam turut menghiasi perbedatan publik dan membuat beberapa umat Muslim di Prancis menghadapi dilema.
Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin menyebut Muslim Prancis sebagai musuh dari dalam. Sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron bersumpah, terus melawan separatisme Islam.
Masjid di sana bahkan ada yang sudah ditutup, menyusul penangkapan sejumlah kelompok yang dianggap ekstremis oleh pemerintah, dan bahkan menyarankan mengosongkan rak-rak makanan berlabel halal di supermarket.
Pernyataan-pernyataan kontroversial itu di satu sisi mendapatkan reaksi keras dari beberapa negara Muslim, di sisi lain membuat penduduk Muslim Prancis berada dalam kebingungan.
“Setelah serangan ini, lima atau enam juta orang harus membenarkan diri mereka sendiri. Tapi kami tidak tahu apa yang diharapkan dari kami,” kata Mehdy Belabbas (42), putra seorang pekerja konstruksi Muslim keturunan Aljazair yang tinggal di Ivry-sur-Seine.
“Selama dua pekan terakhir, saya hanya memikirkan satu hal. Saya bertanya-tanya apakah saya harus meninggalkan Prancis?” ujar Belabbas dilansir New York Times, Jumat (30/10).
Dikutip Republika, Anggota LES Musulmans, sebuah asosiasi kelompok Muslim dan masjid di Prancis, Naziha Mayoufi juga merasakan ketakutan dan kesedihan yang tak terhingga, kepada keluarga korban dan teman-teman Katoliknya.
Peristiwa penyerangan di gereja Nice merupakan alasan yang membuatnya lebih takut. Dia juga takut dengan politikus dan berbagai pendapat yang membuat Islam semakin dianggap sebagai musuh dari dalam. “Sebagai Muslim, kita juga membayar kerugian dari kedua bentuk ekstremisme itu,” ucapnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Presiden Annour, organisasi pengawas pembangunan masjid, Mohamed Akrid. Ia mengatakan semua Muslim akan dikaitkan dengan paradigma baru separatisme dan akan selalu dicurigai.
Bahkan sejak 2004, kata dia, umat Muslim di Ivry-sur-Seine harus puas dengan gym yang suram dan tenda yang dipinjamkan balai kota untuk menampung 2.000 orang jemaah shalat Jumat di sana.
Ditambahkannya, Islam di Prancis telah dikalahkan oleh faksi radikal yang memiliki pengaruh kuat pada kaum muda, terutama di jejaring sosial.
Akan tetapi tindakan keras Prancis terhadap kelompok Muslim yang dituduh radikal berisiko menciptakan lebih banyak kebingungan daripada melawan faksi radikal itu sendiri.
Pada pekan lalu, misalnya, polisi menggerebek dan menangkap puluhan orang yang tidak selalu terkait dengan pemenggalan.
Menurut Akrid, banyak anak muda saat ini abai tentang agama dan mereka akan mendidik diri mereka sendiri di jejaring sosial dengan belas kasihan para manipulator.
Karenanya umat Islam memasuki debat publik dan bekerja menuju pemahaman yang lebih baik tentang teks-teks agama sangat dibutuhkan. Akan tetapi kebijakan asimilasi Prancis, yang cenderung menafikan perbedaan, dapat bertentangan dengan peran tersebut.
Begitupun dengan rencana aksi pengosongan rak-rak makanan yang berlabel halal, menurut Claire Renklicay, pemilik restoran keturunan Kurdi, hal tersebut bisa memunculkan radikalisme pada kelompok tertentu terutama anak muda.
“Kebingungan itu berbahaya, dalam arti apa yang Anda lakukan berisiko semakin meradikalisasi kelompok tertentu, terutama kaum muda yang mungkin merasa ditolak,” kata Claire Renklicay dikutip Republika beberapa waktu lalu.[]






















