Lamongan, Gontornews — Tafsir at-Tanwir adalah tafsir resmi kelembagaan yang ditulis oleh organisasi Muhammadiyah. “Tafsir at-Tanwir hadir dengan metode baru, kami menyebutnya Tafsir at-Tajdidiyyu,” jelas Dr Rhain kepada Gontornews.com. Al–Tafsir al-Tajdidiyy, yaitu tafsir yang hadir dengan semangat pembaharuan.
Tafsir at-Tanwir ditulis pada tahun 2016 oleh Majelis Tarjih, yaitu salah satu majelis yang menangani masalah hukum kegamaan di Muhammadiyah. Sebagai tafsir resmi kelembagaan, Tafsir at-Tanwir harus selaras dengan keputusan tarjih.
Penelitian yang dipromotori oleh Prof H Syafiq Mughni, MA, PhD dan Prof Dr H M Roem Rowi, MA, ini bertujuan untuk mengetahui dinamika dan pembaruan at-Tanwir yang meliputi metode dan corak penafsiran. Penelitian ini juga berusaha untuk melihat relevansi antara Tafsir at-Tanwir dengan keputusan tarjih Muhammadiyah
Jenis penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kepustakaan (library research). Penelitian ini pun merujuk pada sumber-sumber literatur yang berkaitan dengan pokok bahasan, seperti buku, jurnal, dan majalah yang dipublikasikan oleh Majelis Tarjih. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif dengan metode induktif.
Berdasarkan pembahasan disertasi yang berjudul, “Dinamika Tafsir Muhammadiyah (Studi relevansi Antara at-Tanwir Dengan Keputusan Tarjih)”, tersebut dapat disimpulkan beberapa hal.
Pertama, metode penafsiran at-Tanwir adalah bi al-ra’yi bila dilihat dari sumber penafsiranya. “Sedangkan jika dilihat dari tertibnya adalah tahlili,” jelas Dr Ainur Rhain.
Sedikit khazanah hadits yang dijadikan sumber referensi dalam at-Tanwir. At-Tanwir hadir dengan metode penafsiran yang baru, yaitu menyajikan tafsir dengan membagi beberapa ayat yang masih berhubungan menjadi tema-tema sesuai dengan kandungan ayat tersebut.
Kedua, corak yang disuguhkan secara global adalah adabi ijtima’i dengan beberapa sentuhan corak ilmi di beberapa bagian ayat. At-Tanwir hadir dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dianggap sesuai dengan ayat yang dikupas.
Suami Anifa Lidia Putri tersebut menambahkan bahwa At-Tanwir tidak mengutip beberapa ayat yang dijadikan penafsiran bagi ayat lainya. Namun, sambung Rhain, hanya menyebutkan nomor ayat dan surat saja.
Ketiga, Tafsir at-Tanwir menghadirkan pembaharuan dalam tafsir al-tajdid fi tafsir. Artinya yaitu mengurai beberapa ayat dengan sentuhan sains dan tekhnologi.
“Sedangkan selama ini ayat tersebut hanya didekati dengan pendekatan normative,” tutur pria yang kini tengah merintis Pondok Pesantren Nurul Husna tersebut. Seperti hubungan kemunafikan dengan gelombang elektromagnetik serta kekafiran dengan sikap mimicry.
Ada tiga catatan yang memerlukan tela’ah kritis, tambah pria kelahiran Lamongan, 3 Juli 1984 itu. Pertama, tidak adanya tarjih atau pemilihan dari kata jannah (surga) tempat di mana Nabi Adam AS tinggal antara di langit dan bumi.
Kedua, pernyataan bahwa manusia yang pertama adalah “Adam” yang hidup paling akhir 300.000 SM (homo sapiens), bukan Adam yang hidup 5000 SM (Nabi Adam AS). Kemudian ketiga, disebutkan pula bahwa kemungkinan ada nabi sebelum Nabi Adam AS.
“Ketiga poin tersebut tidak relevan dengan keputusan tarjih Muhammadiyah,” jelas ayah dari A’izzah itu. Dijelaskan dalam al-Qur’an, hadits, khabar al-sahabah, athar al-tabi’in, jumhur ulama, dan manhaj tarjih bahwa surga adalah di langit dan manusia yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT adalah Nabi Adam AS. “Sehingga tidak ada manusia dan nabi sebelum Nabi Adam AS,” tegasnya.
Adapun saran Dr Rhain selaku peneliti, adalah untuk melihat relevansi antara Tafsir at-Tanwir dengan keputusan tarjih Muhammadiyah, khususnya dalam tiga poin di atas.
Adapun tiga poin tersebut adalah, jannah yang ditempati Nabi Adam AS adalah surga sebagaimana yag dipahami oleh jumhur ulama, yaitu jannah yang ada di langit bukan di bumi. Manusia pertama sekaligus nabi pertama adalah Nabi Adam AS dan tidak ada kenabian sebelum Nabi Adam AS.
“Masukan selanjutnya adalah penulisan tafsir yang hanya menyebutkan nomor ayat dan surat tanpa mengutipan ayat bisa mengurangi pesan yang sampai kepada pembaca,” terang pria yang hobi tulis menulis tersebut.
Demikian juga dengan beberapa buku Muhammadiyah seperti, “Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah”, yang menggunakan sistem footnote dalam menulis referensi, sehingga menyulitkan bagi pembaca.
Karena referensi dalil tidak ditulis sekaligus, akan tetapi di halaman belakang. “Alangkah baiknya bila ditulis sekaligus tanpa menggunakan footnote untuk referensi dalil,” tegas alumnus Gontor Putra tahun 2004 ini. Adapun untuk HPT, tambahnya, tidak masalah mennggunakan sistem footnote. Karena itu adalah buku induk dalam manhaj tarjih Muhammadiyah.
Selanjutnya, peneliti menyarankan agar penulisan setiap keputusan di HPT tetap dijaga tradisi penulisan dengan menggunakan Bahasa Arab dan dengan terjemahan Bahasa Indonesia. Karena Bahasa Arab cenderung tidak mengalami banyak perubahan dibandingkan Bahasa Indonesia yang dalam beberapa masa mengalami perubahan yang signifikan.
“Ini adalah bagian dari dokumentasi agar suatu saat nanti tidak menjadi salah arti,” pungkas pengasuh Panti Asuhan Muhammadiyah Nurul Husna Patrang, Jember itu. <Edithya Miranti>
Biodata Penulis
Nama : Dr M Ainur Rhain, Dip MThI
Tempat Tanggal Lahir : Lamongan, 3 Juli 1984
Alumni : PMDG tahun 2004
Istri : Anifa Lidia Putri
Pekerjaan : Pengajar dan Pengasuh Panti Asuhan Muhammadiyah Nurul Husna Patrang Jember
Pendidikan :
- S1 di IAIN Sulthan Thoha Syaifuddin, Jambi, jurusan Tafsir al-Qur’an dan Hadits, 2009
- S2 di UIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Tafsir al-Qur’an dan Hadits, 2013
- S3 di UIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, 2019.
Karya Tulis :
- Buku, “KH M Dawam Saleh: Anak Sopir Mendirikan Pesantren”.
- Buku, “Studi hadits: Kritik Skeptisisme Hadis Joseph Schacht”.
- Buku, “Metode Tafsir dan Israiliyat pada Tafsir Ibnu Katsir”.
- Buku, “Kaidah Tafsir”
- Buku fiksi, “Mahkota Cahaya”.
Pengalaman :
- Pengajar di beberapa pondok seperti, Pondok Modern Darussalam Gontor, Pondok Pesantren Karangasem, Pondok Pesantren Al-Ishlah, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Manarul Qur’an, juga Pondok Tahfidul Qur’an Al-Fanani Universitas Muhammadiyah, Jember.
- Dosen Universitas Muhammadiyah, Jember.
- Penanggungjawab Syar’i Kuttab al-Fatih Jember.





















