Ponorogo, Gontornews — Transformasi pembelajaran digital di pendidikan dasar terus diperkuat melalui riset berbasis inovasi. Tim dosen Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor) melaksanakan Hibah Penelitian Fundamental Tahun 2025 yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI), dengan mengembangkan game edukasi 3D untuk gamifikasi pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Jawa Timur.
Penelitian berjudul “Inovasi Game 3D Berbasis Mechanic Dynamic Aesthetic Framework untuk Gamifikasi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar Islam Terpadu Jawa Timur” ini dirancang menggunakan Mechanic–Dynamic–Aesthetic (MDA) Framework. MDA sendiri merupakan sebuah pendekatan desain game yang menekankan keselarasan antara sistem permainan, pola interaksi pengguna, dan pengalaman belajar yang bermakna.
Kepada Gontornews.com, KetuaTim Peneliti, Hesti Rokhaniyah MPd, menjelaskan bahwa riset ini berangkat dari kebutuhan mendesak akan model pembelajaran Bahasa Inggris yang lebih adaptif terhadap karakteristik siswa sekolah dasar.
“Dari hasil observasi, banyak siswa SD mengalami kesulitan dan kejenuhan dalam pembelajaran Bahasa Inggris karena pendekatan yang masih berpusat pada hafalan dan kurang dimaksimalkannya fasilitas komputer di sekolah,” ujar Hesti. Melalui game 3D berbasis MDA Framework, lanjutnya, tim peneliti merancang pengalaman belajar yang aktif, kontekstual, dan mendorong keterlibatan emosional siswa.
Tim peneliti terdiri atas Aziz Musthafa SKom MT (Prodi S-1 Teknik Informatika) yang bertanggung jawab pada pengembangan sistem dan visual game 3D, serta Eka Indah Nuraini MPd (Prodi S-1 Pendidikan Bahasa Inggris) yang mengembangkan konten kebahasaan dan kesesuaian pedagogis dengan kurikulum sekolah dasar.
Berdasarkan uji coba awal (pilot testing) yang dilakukan secara terbatas di tiga SDIT Jawa Timur, yaitu SDIT Al Ibrah Gresik, SD Bayt Al-Fath, dan SDMT Ponorogo, penelitian ini menunjukkan hasil yang menjanjikan. Hasil uji usability menunjukkan tidak adanya kegagalan.
Pengujian compatibility memperlihatkan bahwa sistem dapat berjalan dengan baik pada berbagai komputer laboratorium. Validasi dari para pakar memastikan bahwa materi yang disajikan sudah tepat serta tampilan antarmuka tersusun dengan rapi. Sementara itu, uji coba pengguna di beberapa sekolah memperlihatkan adanya peningkatan pemahaman kosakata dan konteks bahasa Inggris siswa sekolah dasar.
Hesti menegaskan bahwa data tersebut masih bersifat awal, namun memberikan indikasi kuat bahwa gamifikasi berbasis game 3D memiliki potensi signifikan untuk diterapkan lebih luas.
“Hasil awal ini menjadi dasar penting untuk pengembangan lanjutan dan pengujian skala lebih besar. Kami berharap inovasi ini dapat mendukung kebijakan pembelajaran digital nasional yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik,” tambahnya.
Melalui pendanaan Hibah Penelitian Fundamental Tahun Anggaran 2025, DIKTI mendorong penguatan riset aplikatif dan kolaboratif lintas disiplin guna menghasilkan solusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional. Riset yang dilakukan UNIDA Gontor ini menjadi contoh integrasi antara teknologi, pedagogi, dan kebijakan pendidikan dalam menjawab tantangan pembelajaran abad ke-21. Aplikasi game 3D ini bisa diunduh secara mandiri melalui link: https://k-a-r-a-x-d.itch.io/funlish. [Edithya Miranti]





















