Istanbul, Gontornews — Presiden Turki, Recep Tayyep Erdogan memperingatkan Uni Eropa soal ancaman teror jika Pemerintahan Libya yang sah jatuh. Ia juga mendesak negara-negara Eropa untuk mendukung langkah Turki menempatkan pasukan di Libya.
Seperti yang disampaikan Erdogan dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Politico, Sabtu (18/1), bahwa UE harus memberikan dukungan kepada Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) sebagai pemerintahan yang sah dan diakui di PBB untuk mempertahankan negaranya dari pasukan Khalifah Haftar.
“Eropa akan menghadapi serangkaian masalah dan ancaman baru jika pemerintah sah Libya jatuh,” tulis Erdogan.
Menurutnya, ketidakmampuan UE dalam memberikan dukungan kepada Pemerintahan Presiden Fayez al-Sarraj adalah bukti pengkhianatan terhadap nilai-nilai demokrasi dan Hak Asasi Manusia.
Erdogan juga menyampaikan bahwa organisasi teroris seperti ISIS dan al-Qaedah, yang telah menderita kekalahan di Suriah dan Irak justru akan berkembang subur di Libya jika pemerintahan sah jatuh.
“Perlu diingat bahwa Eropa kurang tertarik untuk memberikan dukungan militer ke Libya, namun pilihan yang tepat adalah bekerja sama dengan Turki, yang telah menjanjikan bantuan militer,” lanjut Erdogan.
“Kami akan melatih pasukan keamanan Libya dan membantu mereka memerangi terorisme, perdagangan manusia dan ancaman serius lainnya terhadap keamanan internasional,” tambahnya.
Pasukan komandan militer Renegade yang berbasis pada pasukan Khalifa Haftar telah melakukan serangan di Tripoli selama lebih dari sembilan bulan dan menargetkan GNA yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj. Pertempuran itu telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, termasuk 280 warga sipil serta menelantarkan puluhan ribu lainnya.
Dalam sebuah inisiatif bersama, minggu ini, Turki dan Rusia telah menjadi perantara gencatan senjata akan tetapi Haftar justru meninggalkan pembicaraan soal penyelesaian perjanjian gencatan senjata di Moskow.
Hal itu yang membuat Erdogan marah, dan pada hari Selasa kemarin, Turki bertekad untuk tidak menahan diri memberikan pelajaran kepada pasukan Pasukan Nasional Libya (LNA) Haftar jika serangan mereka terhadap GNA berlanjut.
Penempatan Pasukan Turki
Pemerintah Erdogan telah memberikan dukungannya kepada al-Sarraj dan parlemen Turki menyetujui pengerahan pasukan ke Libya awal bulan ini setelah penandatanganan keamanan kontroversial dan kesepakatan maritim antara Tripoli dan Ankara.
Sinem Koseoglu dari Al Jazeera menjelaskan, sebanyak 180 pasukan Turki diyakini sudah berada di Libya yang nantinya akan bertindak sebagai penasihat dan pelatih militer.
“Sejauh ini, militer Turki belum menyatakan apa-apa tentang potensi ukuran penyebaran ke Libya untuk mendukung GNA, tetapi kami diberitahu militer tidak akan terlibat dalam pertempuran,” katanya melaporkan dari Istanbul.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, mengatakan Haftar mendukung gencatan senjata sementara dan juga bersedia untuk menghadiri konferensi, tetapi masih perlu konfirmasu kembali.[Devi Lusiana]


















