Naypyitaw, Gontornews — Pemerintah Cina bersiap untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di Myanmar. Kesepakatan ini terjalin setelah pemimpin kedua negara, Presiden Xi Jinping dan, pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, menandatangani kesepakatan kerjasama percepatan pembangunan infrastruktur, Sabtu (18/1).
“Kami sedang menyusun peta jalan masa depan dengan menghidupkan hubungan bilateral berdasarkan kedekatan saudara dan saudari untuk mengatasi kesulitan bersama dan memberikan bantuan satu sama lain,” ujar Presiden Cina, Xi Jinping, Sabtu (18/1).
Sementara Suu Kyi memuji Cina sebagai negara besar yang berperan besar dalam perpolitikan maupun pergerakan ekonomi dunia.
“(Cina merupakan) negara besar yang memainkan peran penting dalam urusan internasional dan ekonomi dunia,” ujar Suu Kyi seraya meminta Presiden Xi untuk menghindari kerusakan lingkungan dan memberikan manfaat bagi penduduk setempat.
Sejumlah analis menilai bahwa kesepakatan kedua negara terjalin seiring dengan tekanan yang mereka dari dunia internasional. Meski demikian, Myanmar tetap berhati-hati terhadap investasi yang masuk dari Beijing, terkhusus, menjelang pemilihan umum akhir tahun 2020 ini.
Dalam kesepakatan kali ini, baik Myanmar maupun Cina sepakat menandatangani sekitar 33 perjanjian terkait proyek-proyek infrastruktur utama penunjang rencana jalur sutra ala Cina.
Salah satu kesepakatan yang dibuat adalah percepatan implementasi Koridor Ekonomi Cina-Myanmar yang bernilai Miliaran Dollar. Sebut saja, proyek pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Cina Barat Daya dengan Samudera Hindia, Pelabuhan laut, Rakhine, zona ekonomi eksklusif di perbatasan serta proyek kota barua di ibu kota komersial Myanmar, Yangon.
“Sebagian besar perjanjian berbeda telah ditandantangani. Tidak ada Big Bang di sini,” ungkap seorang analis dari International Crisis Group, Richard Horsey.
“Kesan yang (hadir dalam pertemuan ini adalah bahwa Myanmar tengah berhati-hati dalam menerima investasi dari Cina terutama menjelang pemilihan umum yang direncanakn pada akhir tahun ini.”
“Sementara Cina berharap bahwa kesepakatan ini merupakan langkah tambahan dalam rangka mewujudkan tujuan mega-infrastrukturnya dan membawa kemajuan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang,” tambah Horsey sebagaiman dilansir Reuters.
Sebagaimana diketahui, Cina dan Myamar memiliki hubungan historis yang sangat erat terutama setelah Myanmar dilanda krisis kemanusiaan di Rakhine sejak 2017 silam.
“Myanmar menyadari ada standar ganda dengan pendekatan yang telah diambil negara-negara Barat tentang masalah hak asasi manusia dan mereka mulai beralih ke Cina untuk mendapatkan bantuan diplomatik dan ekonomi,” pungkas salah satu artikel di media pemerintah Cina, Global Times. [Mohamad Deny Irawan]






















