Berlin, Gontornews — Utusan PBB untuk Libya, Ghassan Salame, mengakui bahwa ia tidak dapat memprediksi apakah terminal ekspor minyak di Libya Timur akan ditutup jelang pertemuan puncak KTT Berlin, Sabtu (18/1). KTT Berlin sendiri sempat terunda demi tercapainya gencatan senjata serta dibukanya kembali termina ekspor minyak di Libya.
“Jika hal tersebut tidak dapat diselesaikan hari ini, saya berharap permasalahan ini bisa dibahas besok,” ungkap Salame sebagaimana dilansir Reuters.
Sebagaimana diketahui, terminal ekspor minyak di Libya Timur dan Tengah ditutup pada hari Jum’at (17/1) oleh sekutu komandan Khalifa Haftar. Sementara Tentara Nasional Libya (Libya National Army/LNA) yang berbasis di Timur terhalang akibat perang sepanjang sembilan bulan dengan pasukan pemerintah yang menguasai ibu kota Libya, Tripoli.
Para diplomat melihat bahwa penutupan terminal ekspor minyak ini sebagai permainan kekuasaan yang dilakukan oleh LNA yang bertujuan untuk membagi pendapatan minyak kepada pemerintah Tripoli yang diakui secara internasional.
National Oil Corp (NOC) mengatakan bahwa telah terjadi kejadian tak diduga pada ekspor minyak di pelabuhan Timur Brega, Ras Lanuf, Hariga, Zueitina dan Es Sider. Akibat penutupan tersebut, produksi 800.000 barel perhari minyak Libya terpaksa ditutup.
Angka produksi minyak ini menurun drastis jika dibandingkan saat pemimpin kharismatik Libya, Muammar Qadafi, lengser pada 2011 silam yang mencapai 1,3 juta Barel per hari.
Salame juga memprediksi bahwa Haftar akan mempertimbangkan perpanjangan masa gencatan senjata, yang telah berlangsung selama satu minggu meski kedua belah pihak gagal mendantangani kesepakatan rekonsiliasi yang difasilitasi oleh Rusia-Turki di Moskow pada Senin (13/1).
“Yang berbeda sekarang adalah bahwa kita berada dalam kondisi perang. Pada 2017 tidak ada tekanan, tetapi sekarang anda memiliki ribuan orang yang telah terbunuh,” pungkas Salame. [Mohamad Deny Irawan]






















