Sanaa, Gontornews — Perang berkepanjangan antara kelompok Houthi yang didukung oleh Iran dan Pemerintah Yaman yang didukung aliansi Arab Saudi memasuki babak baru. Kini, kedua kubu memperebutkan supremasi pemberlakukan mata uang di mata masyarakat.
Jika Houthi mendesak penggunaan mata uang Yaman yang lama, maka Pemerintah Yaman yang berkoalisi dengan Arab Saudi menghendaki penggunaan mata uang Yaman yang baru.
Pada tengah malam, gerakan Houthi yang mengendalikan ibu kota Sanaa melarang penggunaan dan kepemilikan uang kertas riyal baru yang dikeluarkan pemerintah Yaman yang berbasis di Aden. Houthi menilai bahwa penggunaan uang kertas lama perlu dilakukan guna melawan inflasi dan apa yang mereka sebut dengan percetakan uang oleh pemerintah.
Sementara Pemerintah Yaman menyebut larangan tersebut sebagai tindakan vandalisme terhadap ekonomi Yaman.
Dari segi penggunaan, rakyat Yaman mengaku bahwa larangan penggunaan mata uang baru oleh Houthi secara tidak langsung menyebabkan Yaman memilki dua mata uang dengan nilai yang berbeda.
Sebagai misal, satu bulan sebelum larangan ini disampaikan, orang-orang yang tinggal di daerah kekuasaan Houthi telah beruaha menukar uang kertas Riyal baru dengan yang lama. Akibatnya, uang riyal lama menjelma menjadi komoditas berharga dan relatif langka.
Saat ini, mata uang Yaman saat ini berada di angka 560 Riyal Yaman per Dollar AS terhitung pertengahan Desember 2019. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, nilai mata uang Riyal Yaman terus menerus turun menjadi 582 Riyal Yaman dan bahkan sempat menyentuh angka 642 Riyal Yaman per Dollar AS di wilayah Yaman Selatan.
“Yang baru tidak diterima dan yang lama usang. Mereka harus segera menemukan solusi,” kata seorang pengrajin yang tinggal di Sanaa, Abdullah Saleh Al-Dahmasi, kepada Reuters.
Sementara itu, Penasehat Gubernur Bank Sentral Yaman, Yousef Saeed Ahmad, mengatakan bahwa kelompok Houthi tidak mempertimbangkan kesulitan pembiayaan ekonomi bagi masyarakat. Ia pun berharap bahwa kebijakan ini bersifat sementara.
“Kami berharap tindakan yang diambil bersifat jangka pendek. (Kebijakan) mereka tidak dapat dipertahankan karena (kami menganut) satu sistem ekonomi. Hal tersebut tentunya terkait dengan komoditas yang mengalir dari Sanaa ke Aden maupun sebaliknya,” ujar Yousef.
Hal ini langsunga dibantah oleh kelompok Houthi yang, sekali lagi, mengatakan bahwa kesepakatan ini dilakukan unutk mempertahankan nilai mata uang Yaman.
“Bank Sentral Sanaa harus mengambil tindakan untuk membendung praktik berbabahaya yang dilakukan Bank Sentral Aden melalui kebijakan moneter mereka,” jelas Sami Al-Siyaghi, penanggungjawab operasi perbankan asing di bank sentral Sanaa.
“Pengenaan sikap moneter pada kami menyebabkan jatuhnya mata uang nasional terhadap mata uang asing. Dengan setiap penerbitan baru, anda akan melihat keruntuhan riyal terhadap mata uang asing lainnya,” pungkas Siyaghi. [Mohamad Deny Irawan]


















