Jakarta, Gontornews – Di salah satu ruangan di Markas Organisasi Penerbangan Sipil Dunia (The International Civil Aviation Organization/ICAO) di Montreal, Kanada, dipajang nama-nama peraih penghargaan Edward Pearson Warner Award. Ini adalah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang atau organisasi yang berjasa atau memberikan kontribusi untuk penerbangan sipil atau penerbangan perintis. Nama penghargaan ini diambil dari nama Dr Edward Pearson Warner, presiden pertama Dewan ICAO.
Penghargaan ini terdiri dari dua item, yaitu medali dan sertifikat. Medali terbuat dari emas padat dan bertuliskan nama penerima penghargaan. Sedangkan sertifikat merupakan pengakuan alasan pemberian penghargaan itu. Edward Warner Award diakui di seluruh dunia sebagai penghargaan bergengsi di bidang penerbangan sipil internasional. Tidak ada lagi penghargaan sejenis dan bergengsi seperti itu.
Utusan khusus Indonesia untuk ICAO Prof Dr Indroyono Soesilo menyebutkan, nama-nama peraih penghargaan Edward Warner Award itu dipajang di Hall of Firm. “Ini ruangan orang-orang hebat. Di sana terdapat 39 nama, salah satunya adalah Pak Habibie,” ujarnya kepada Gontornews.com di ruang kerjanya.
Bacharuddin Jusuf Habibie, pembangun pesawat N-250, menerima penghargaan itu pada tahun 1994. Habibie pernah memperlihatkan medali Edward Warner Award usai upacara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-17 di Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, Jumat (10/8/2012).
Medali Edward Warner Award itu diterima Habibie dalam peringatan Tahun Emas (Golden Jubilee) atau HUT ke-50 berdirinya ICAO di Montreal, Kanada, 7 Desember 1994.
Selain Habibie, di antara nama-nama orang hebat itu adalah: Igor Ivanovich Sikorsky, pelopor dan pembuat helikopter yang meraih penghargaan tahun 1990 dan Charles Augustus Lindbergh, pelintas Laut Atlantik dengan penerbangan solo.
Pelopor penerbangan lainnya yang telah menerima Edward Warner Award antara lain: Sir William Hildred (1965), Henri Bouché (1968), Ruben Martin Berta (1971), Shizuma Matsuo (1973), Professor Dr Alex Meyer (1974), Mohammed Soliman El Hakim (1977), Maurice Bellonte (1984), Anesia Pinheiro Machado (1989), Dr Kenneth Rattray (1998), dan Petro Balabuyev (2001).
Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman ini mengaku kagum atas prestasi yang ditorehkan Habibie. Mantan Presiden RI ke-3 ini diakui kehebatannya di dunia penerbangan internasional. Dan Indroyono menjadi saksi kehebatan Habibie ketika melakukan kunjungan ke kantor ICAO di Montreal.
Menurut Indroyono, kini, selain Habibie, masih banyak ilmuwan atau orang-orang Indonesia yang memiliki potensi besar di dunia penerbangan. Mereka sudah berkiprah di dunia penerbangan internasional. Mereka ada yang bekerja di Boeing, Airbus, Bombardier, dan perusahaan-perusahaan penerbangan lainnya. Tentu saja ini membanggakan, dan menjadi asset masa depan bangsa. Namun sayangnya, Indonesia tak lagi menjadi anggota Dewan ICAO, sejak tahun 2001.
Tapi, Indonesia akan kembali mencalonkan diri menjadi anggota Dewan ICAO periode 2016-2019. ICAO yang merupakan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang fokus di bidang penerbangan sipil, saat ini beranggotakan 191 negara. Di antaranya terdapat 36 negara yang merupakan anggota Dewan yang memiliki hak eksklusif yang ikut menentukan regulasi penerbangan dunia. Mereka inilah anggota elite ICAO.
Indonesia sendiri mencalonkan Indroyono dalam pemilihan anggota Dewan ICAO yang akan berlangsung September mendatang di Montreal, Kanada. “Dengan menjadi anggota Dewan ICAO, Indonesia bisa mewarnai kebijakan penerbangan internasional dan mengambil manfaat dari kedudukan itu,” papar Idroyono kepada Gontornews.com.
Raihan rating Kategori 1 oleh otoritas penerbangan Amerika Serikat (FAA) pada bulan Maret 2016 sebagaimana disebutkan dalam rilis FAA, Senin (15/8), bisa menjadi ‘senjata’ Indonesia untuk memenangkan pemilihan anggota Dewan ICAO. Sebab, Kategori 1 berarti penerbangan sipil di Indonesia sudah sesuai dengan standar ICAO. Tentu saja hal ini makin menambah kepercayaan dunia penerbangan internasional terhadap Indonesia. Dan itu bisa dimanfaatkan untuk mengumpulkan suara pada pemilihan nanti.
Sebuah sumber Gontornews.com menyebutkan, dalam hitungan kasar, Indonesia akan mampu mengumpulkan minimal 114 suara atau bahkan 125 agar dengan aman melenggang menjadi anggota Dewan ICAO. “Saat ini sudah ada 85 negara yang fixed mendukung Indonesia, dan 49 negara lainnya masih mempertimbangkan,” paparnya.
Indroyono sendiri dalam perbincangan dengan Gontornews.com beberapa waktu lalu menyebutkan, untuk bisa masuk menjadi anggota Dewan ICAO, Indonesia membutuhkan sedikitnya 125 suara. “Saat ini kami sudah memperoleh dukungan 97 negara, jadi kurang 30 suara lagi,” jelasnya.
Indonesia akan bersaing dengan Malaysia untuk memperebutkan kursi di Dewan ICAO. Pemilihan anggota Dewan ICAO ini akan berlangsung saat Sidang Umum ICAO itu.
Indroyono optimis Indonesia bisa mengalahkan Malaysia. Pada pemilihan tiga tahun silam, Indonesia dikalahkan oleh Malaysia. Saat itu Indonesia hanya memperoleh 97 suara. Untuk bisa menjadi anggota Dewan ICAO, Indonesia minimal harus mengumpulkan 125 suara. “Sebanyak 97 suara yang diperoleh pada tahun 2013 harus kita pertahankan, dan kita masih butuh dukungan 30 suara,” lanjut Indroyono.
Melihat track record penerbangan Malaysia yang relatif buruk dalam tiga tahun terakhir ini, seperti hilangnya pesawat MH370 atau jatuhnya pesawat MH17, agaknya peluang Indonesia untuk menyingkirkan Malaysia terbuka lebar.
Namun demikian, yang lebih penting adalah mempertahankan rating Kategori 1 yang sudah berhasil diraih dengan susah payah. Bagaimana agar semua pihak mempunyai komitmen untuk mempertahankan raihan ini, bahkan meningkatkan skor keamanan dan keselamatan penerbangan Indonesia.
Dalam kaitan inilah, perlunya semua pihak berkomitmen untuk menjaga konsistensi dan tidak lengah agar peringkat Indonesia tidak turun lagi seperti yang pernah dialami tahun 2007 silam.
Untuk itulah diperlukan dukungan semua pihak, baik regulator, operator, pihak-pihak terkait lain seperti pengelola bandara, maupun segenap masyarakat Indonesia. Inilah tugas berat kita: Menjaga momentum untuk mempertahankan standar internasional penerbangan yang telah kita raih demi meraih kursi anggota Dewan ICAO. [Rusdiono Mukri]























