Sejak duduk di kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Medan, Muhammad Furqan Al-Faruqiy pernah belajar Alquran(Talaqqi) kepada Muhammad Yahya Rom. Kebetulan tempat tinggalnya tak jauh dari surau guru pengajar Alquranyang merujuk kepada Qari’ al-Hafidz Syaikh Adzra’I Abdurra’uf, yaitu ulama ahli qiraah sab’ah yang sering menjadi juri qiraah internasional.
Namun setelah lulus SMA, Furqan bercita-cita menjadi seorang ahli fisika/kimia. Maka, pria kelahiran Medan, 14 Desember 1966, ini kuliah di Jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) dan mendalami penggunaan foto voltek dan konsentrator optik atau renewable energi (energi terbarukan) yang dijabarkan dalam skripsinya.
Alumni ITB tahun 1994 ini meniti karir pertamanya di dunia penelitian sebagai Kepala Departemen Sistem Informasi Center for Information and Development Studies (CIDES) tahun 1995 – 1997. Tahun 1997 – 1998, ia menjadi Vice President Direktur International Business Information Services (IBIS) Jakarta. Bahkan di usianya yang relatif muda, Furqan berhasil menjabat Staf Ahli Menteri Koperasi pada era Adi Sasono. â€Usia saya saat itu baru 29 tahun, “ terangnya kepada gontornews.com.
Namun di saat karirnya memuncak, batinnya berbisik bahwa ketenangan hidupnya tidak bisa diperoleh seperti ketika berinteraksi dengan al-Qur’an. Pada tahun 1998, Furqan pun mengambil jalur ekstrim menghafal Alqurandan mentadaburi setiap kejadian yang dialaminya. Pengalaman itu melahirkan Metode al-Qurra’ yaitu petualangan bersama Alquranmelalui Metode Al-Qurra: Maqam Nol dan Maqam Satu.
Pria yang lahir tanggal 1 Ramadhan 1386 H ini terus mengembangkan interaksi Alquransehingga melahirkan metode tahfidz talaqqi yaitu menghafal Alqurandengan cara mendengar bacaan secara berulang-ulang dari guru bersanat. Menurutnya, metode inilah yang digunakan oleh Rasulullah SAW ketika menyampaikan wahyu kepada para sahabat, lalu para sahabat menirukan bacaan berulang-ulang dengan benar. “Inilah metode tercepat menghafal Alqurandengan bacaan yang bersanat,†terangnya.
Kini metode ini juga diterapkan di Pesantren Tahfidz Alquran Bina Qalbu Cilember Bogor yang rata-rata siswanya lulusan sekolah dasar. Selama tiga tahun para santri menghafal Alquran30 juz sekaligus menghayati dan menggali isi kandungan al-Qur’an. Kombinasi antara Alqurandan ilmu-ilmu lainnya diharapkan dapat membentuk generasi tahfidz yang menguasai sains. “Kita berharap akan lahir seorang hafidz berakhlak mulia yang menguasai sains,†paparnya.
Di samping itu, penemuan yang tak kalah spektakuler yaitu metode Lisan Multilingual Mainset Center, sebuah metode penguasaan bahasa apapun, sejak anak usia dini dengan menggali potensi kejeniusan anak dari lahir. Metode hasil pengalaman empirik ini juga didukung teori-teori ilmiah neurosains, psikologi, bahasa dan pendidikan.
Metode ini juga telah dibuktikan kedua putranya bernama Syamil dan Akram yang sudah bisa berbahasa Inggris sejak usia dua dan tiga tahun. “Metode ini telah diseminarkan dan menjadi bahan training bagi orangtua yang ingin membangkitkan potensi multibahasa anak usia dini melalui sumberdaya rumah tangga,†ujarnya.
Sebelumnya Furqan tidak pernah menduga bahwa semua aktivitas yang dijalaninya justru akan memperkuat ilmu sains yang pernah dipelajarinya di ITB. Setelah mendapatkan bukti-buktinya Furqan semakin mantab bahwa Alquranadalah sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. “Seharusnya orang Islam bangga memiliki Alqurankarena memiliki peluang untuk membangun peradaban dunia,†papar pria yang sering mengisi training dan ceramah melalui Majelis Alquran Indonesia dengan tema-tema sains ini. [Ahmad Muhajir/Rusdiono Mukri]


















