New Delhi, Gontornews — Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Bloomberg, meningkatnya harga minyak kelapa sawit dalam beberapa bulan terakhir, telah membuat sejumlah pengusaha asal India mengalihkan bidikannya ke minyak bunga matahari.
Sebagaimana diketahui, impor minyak kelapa sawit ke India telah menyusut hampir 11 persen, dari bulan Oktober yang mencapai 696.000 ton, menjadi ‘hanya’ 691.827 ton pada bulan November.
Menurut data yang dirilis oleh asosiasi pengelola minyak sawit, the Solvent Extractor’s Associaton of India, permintaan minyak sawit global melonjak lebih dari 50 persen sejak pertengahan Juli 2019 yang lalu.
Angka ini dikhawatirkan akan menurunkan angka produksi serta meningkatnya harga bahan bakar nabati tersebut. Angka ini akan terus meningkat karena biaya pengiriman ke India juga akan ikut meningkat.
Dengan menurunnya pembelian minyak sawit asal India, sejumlah produsen minyak sawit terbesar di dunia seperti Malaysia membuat pasokan memadai.
“Naiknya harga (minyak sawit) yang sedemikian cepat bukanlah hal yang diharapkan oleh pasar,” ungkap GG Patel dari perusahaan riset di bidang pertanian, GGN Research.
“Perbedaan harga yang sangat besar dapat berdampak pada pengurangan impor,” tambahnya sebagaimana dilansir Free Malaysia Today.
Dengan meningkatnya harga minyak kelapa sawit, sejumlah produsen mulai beralih ke minyak bunga matahari yang dianggap lebih murah. Alhasil, impor minyak bunga matahari meningkat 62 persen menjadi 258.000 ton.
Sementara sejumlah permintaan berbagai minyak nabati turun hingga 21 persen menjadi 1,09 juta ton. Selain minyak kelapa sawit dan minyak bunga matahari, minyak kedelai juga diminati pasar global, terutama dari Amerika Serikat, Brazil dan Argentina, meski angkanya juga turun sekitar 58 persen dari permintaan pada Oktober, menjadi 166.000 ton saja. [Mohamad Deny Irawan]






















