Gaza City, Gontornews — Warga Palestina bersiap menandai peringatan 71 tahun Hari Nakba dengan demonstrasi dan pawai di Tepi Barat yang diduduki dan Jalur Gaza. Aksi ini akan mewarnai perayaan kontes lagu Eurovision yang berlangsung di Israel.
“Nakba” atau “malapetaka”, memperingati ratusan ribu warga Palestina yang diusir dalam perang yang menyebabkan berdirinya Israel pada tahun 1948.
Warga di Kota Gaza pada hari Rabu (15/5) mengambil bagian dalam pemogokan umum untuk menandai hari berkabung. Pemogokan massal diadakan di kota, pemilik toko menutup toko-tokonya.
“Ini adalah hari yang sangat menyedihkan bagi rakyat Palestina, ini adalah hari yang gelap bagi rakyat kami. Tujuh puluh satu tahun telah berlalu, dan Insya Allah kami akan segera kembali ke tanah air kami,” kata penduduk Gaza, Baker Ibrahim.
Pada hari Selasa, menjelang Hari Nakba, puluhan aktivis sayap kiri memprotes perlakuan Israel terhadap warga Palestina di Tel Aviv, tempat semifinal Eurovision pertama diadakan.
“Kami di sini untuk memprotes pertumpahan darah tak berujung di Gaza,” kata salah satu penyelenggara, Noa Levy.
Para pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan “Boikot Eurovision” dan “lagu-lagu dan gemerlapnya tidak bisa menyembunyikan tanah air yang diduduki”.
Sejak penyanyi Israel Netta Barzilai menyabet tropi tahun lalu dengan lagu popnya “Toy”, memberi Israel hak untuk menjadi tuan rumah Eurovision, semakin banyak tokoh budaya telah menekan penyanyi untuk menarik diri dari kontes.
Lusinan seniman Eropa, yang dipimpin oleh mantan pentolan Pink Floyd Roger Waters, menandatangani surat yang menyerukan agar kontes dipindahkan ke negara lain.
Sejumlah demonstrasi menandai hari berkabung dan protes Eurovision direncanakan di seluruh negeri pada hari Rabu. [RM]























