Suatu ketika Kiai Syukri mengajukan sebuah pertanyaan reflektif kepada kami, para wakil pengasuh cabang: “Mengapa Muhammadiyah mampu eksis dan terus berkembang, sementara Taman Siswa—yang didirikan Ki Hajar Dewantara—stagnan bahkan hampir punah?”
Ketika jawaban kami belum tepat, beliau menjelaskan dengan lugas dan tajam: “Karena Muhammadiyah berdiri di atas idealisme perjuangan Islam, sedangkan Taman Siswa bertumpu pada semangat nasionalisme.”
Apa yang dilandasi Islam—al-Qur’an dan nilai tauhid—akan kokoh, hidup, dan berumur panjang. Sebaliknya, landasan selainnya rapuh, laksana bangunan di tepi jurang. Apa yang ditegakkan di atas ketakwaan dan tauhid ibarat benteng yang kukuh, sedangkan landasan duniawi semata tak lebih dari sarang laba-laba: tampak ada, namun sangat rentan.
Idealisme perjuangan Islam—meninggikan kalimat Allah, beramal lillāh, dan menegakkan ‘izzatul Islām wal muslimīn—itulah bahan bakar pergerakan yang tidak pernah padam.
Beliau kemudian melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih spesifik: “Kalian tahu mengapa NU dan Muhammadiyah maju dan berkembang?”
Jawabannya tegas: “Karena keduanya memiliki basis gerakan pendidikan.”
NU berkembang karena ditopang jaringan pesantren yang luas di seluruh Nusantara. Muhammadiyah maju karena memiliki basis sekolah yang kuat, dari taman kanak-kanak hingga universitas, jumlahnya tak terhitung.
Di sinilah letak kemantapan kita. Gontor adalah lembaga pendidikan. Namun di dalam pendidikan itu hidup dan tumbuh pembinaan politik, ekonomi, pergerakan, kemasyarakatan, keilmuan, dan kehidupan secara utuh.
Maka teruslah bergerak. Karena sesungguhnya, di dalam gerak itu ada keberkahan. []
8 Februari 2026



















