Langkawi, Gontornews — Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengatakan bahwa pihaknya tidak akan melakukan serangan balasan terhadap India yang memboikot pembelian minyak sawit seiring dengan pertikaian kedua negara.
“Kami terlalu kecil untuk melakukan tindakan balasan,” ungkap Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, sebagaimana dilansir Reuters.
“Kita harus menemukan cara dan sarana untuk mengatasinya,” imbuh pria berusia 94 tahun tersebut.
Sebagaimana diketahui, India merupakan pembeli minyak sawit terbesar di dunia dengan Malaysia sebagai eksportir terbesar kedua di dunia. India menjelma sebagai pembeli terbesar minyak kelapa sawit dalam lima tahu terakhir.
Akibat pemboikotan ini, Malaysia tengah mencari pembeli baru untuk minyak sawitnya. Berdasarkan Brenchmark Futures, ekspor minyak sawit Malaysia turun hampir 10 Persen minggu lalu atau penurunan terbesar dalam 11 tahun terakhir.
Adalah pernyataan Mahathir Mohamad tentang ketidaksetujuannya terhadap UU Kewarganegaraan di India yang menjadi permasalahannya. Menurut Mahathir, UU Kewarganegaraan di India tidak adil bagi umat muslim.
Selain soal UU Kewarganegaraan, Mahathir juga menyoroti bagaimana langkah India dalam menginvasi wilayah Kashmir yang disengeketakan.
Di lain sisi, New Delhi juga tidak senang dengan penolakan Malaysia untuk mencabut status penduduk tetap kepada Dai asal Mumbai, Dr Zakir Naik (DZN), yang saat ini menetap di Malaysia. DZN dituduh melakukan tindak pidana pencucian uang serta menyebarkan pidato kebencian di India.
Terkait kasus DZN, Mahathir mengatakan bahwa meski India bisa menjamin proses peradilan yang adil, Naik, sebut Mahathir, juga mengalami ancaman nyata berupa tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh warga India.
Jika itu terjadi, Malaysia siap memindahkan DZN ke negara ketiga yang dapat menjamin keamanannya.
“Jika kita dapat menemukan tempat (yang aman) untuknya, kita akan mengirimnya keluar,” pungkas Mahathir. [Mohamad Deny Irawan]






















