Indonesia saat ini telah masuk sebagai negara darurat narkoba. Dari pulau hingga kabupaten bahkan desa sekalipun semua tidak ada yang bebas dari narkoba. “Pulau mana yang clear dan clean dari narkoba. Tidak ada. Kita bicara provinsi, provinsi mana di Indonesia yang clear dan clean terhadap narkoba. Tidak ada. Bicara kota, kabupaten, kota, kabupaten kita mana yang clear terhadap narkoba. Tidak ada,” tutur Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Polisi Drs Budi Waseso kepada tim Gontornews.com beberapa waktu lalu.
Bukan hanya itu jika kita bicara camat, lurah, desa pun tidak ada yang clear dari narkoba. “Tidak ada. Kita bicara RT RW. Tidak ada. Berarti menyeluruh, merata. Dari segi usia, sekarang bayi belum dua tahun yang terkontaminasi yang ditemukan ada dua yang terbukti, orang tua yang paling tua yang terkontaminasi narkotika juga sudah diwakili. Berarti kan sudah menyeluruh secara usia,” ujarnya.
Namun, kata mantan Kabareskrim Polri, itu persentase terbesar pengguna adalah generasi produktif. “Mahasiwa dan SMA yang produktif yang menjadi sasaran. Termasuk juga karyawan-karyawan, pegawai-pegawai juga termasuk, dan orang-orang, pekerja yang mempunyai financial yang mumpuni. Yaitu di antara salah satunya adalah kelompok artis,” imbuhnya.
Menurut pria yang popular dengan sebutan Buwas itu, Indonesia perlu belajar dari perang candu 1839 – 1842 Tiongkok yang dikuasai Inggris dengan supply candu hingga menyeluruh masyarakat Tiongkok termasuk kekuatannya, pasukan tempurnya. “Segala macam itu sudah lumpuh dengan masalah candu. Nah, maka sekarang kita harus belajar bahwa Indonesia sebenarnya sudah seperti itu. Arahnya ke sana,”paparnya.
Untuk mengupas tuntas hal-hal yang berkaitan dengan narkotika dan peredarannya di Indonesia, wartawan Majalah Gontor Muhammad Khaerul Muttaqien, Fathurroji dan Muhammad Deny Irawan berhasil mewawancarai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia Komjen Pol Drs Budi Waseso pada 05/09/2017 di Gedung BNN pusat Jl. MT. Haryono No. 11. Cawang, Jakarta Timur. Berikut petikan wawancaranya:
Menurut Anda apa dampak narkotika bagi bangsa dan negara?
Ini persoalan yang besar, karena Indonesia ancamannya ancaman nyata untuk ke depan generasi kualitas kita akan hilang. Karena narkotika itu dampaknya pada kehancuran, kerusakan permanen pada syaraf otak dan itu pengaruhnya pada organ tubuh manusia secara keseluruhan. Maka di kala sudah ada penyalahgunaan narkotika maka terjadi kerusakan permanen pada syaraf otak dan tidak akan bisa menjadi orang yang sehat, tidak akan bisa menjadi manusia yang berkualitas dalam ilmu atau pendidikan. Tidak mungkin. Jangan-jangan besok nanti pemimpin kita adalah impor. Loh bisa terjadi. Omongan saya itu kadang-kadang dianggap lelucon atau dianggap aneh-aneh, tapi itu fakta. Dulu saya bilang penjagaan narapidana narkotika itu harus pakai buaya, tidak manusia. Dulu saya ditertawakan. Ada-ada saja itu Pak Buwas. Faktanya sampai hari ini tidak bisa penjagaan oleh manusia. Karena di lapas masih terus terjadi peredaran luas. Fakta kan. Maka tidak mungkin lagi penjagaan itu dengan penjagaan manusia, karena manusia terkontaminasi dengan alasan-alasan pembenarannya gaji kurang sarana dan prasarana dan macam-macam. Itu kan alasan, alasan pembenaran. Padahal yang namanya aparat itu harus sumpah jabatan.
Dalam mempengaruhi generasi muda unggulan biasanya jaringan itu bagaimana melakukannya?
Macam-macam, seperti tadi misalnya budaya, terus pemahaman-pemahaman yang salah. Ini keren nih pakai ini buat vitamin buat kuat untuk belajar, di antaranya itu. Atau mempengaruhi teman-teman dekatnya supaya bisa memberikan narkotik kepada mereka-mereka.
Apakah yang seperti itu sudah ditemukan?
Beberapa ada. Bukan hanya pesantren. Sekolah-sekolah agama Kristen juga ada agama-agama Budha, Hindu juga ada. Jadi hampir menyeluruh di lembaga-lembaga pendidikan. Ini keprihatinan kita, bagaimana secara cepat harus kita lakukan langkah-langkah pencegahan untuk menyelamatkan mereka, karena mereka generasi-generasi penerus kita ke depan.
Apa kesulitan lembaga yang Anda pimpin dalam menekan peredaran narkotika di Indonesia?
Kita sulit melakukan penekanan atau dua hal yang harus kita tangani serius demand and supply. Nah, yang bahaya ini sekarang demand-nya. Demand-nya terlalu membesar.
Sampai berapa kira-kira?
Data hasil random dari peneliti UI tahun 2016 jumlahnya 6,4 juta. Tapi, itu kan data random, kalau kita realnya bisa 10 kali lipat. Tapi itu jumlah yang sangat besar dan kita memprihatinkan jumlah itu. Sebenarnya kita bisa lihat dari data itu saja bahwa narkotika sangat luar biasa di Indonesia. Ancamannya jelas dan pasti. Kenapa? Sekarang kita lihat. Saya sudah diberi data tahun 2016 oleh Cina bahkan Myanmar juga mengiyakan. Cina memberikan data, narkotika yang terkirim ke Indonesia jenis sabu 250 ton tahun 2016. Nah, sekarang kita berpikir begini, 250 ton sabu itu dari Cina tapi kalau dipikir dibandingkan dengan, tadinya saya tidak percaya masa iya masuk terus ke mana barang itu kok gak ada yang keluar dari Indonesia gak mungkin perkiraan saya, tapi kalau dilihat dari 6 juta penyalah guna itu, itu juga yang terdata yang tidak terdata kan banyak, karena masalah narkotika itu banyak yang disembunyikan, orang banyak yang tidak mau mengaku, karena merupakan aib. Kalau kita lihat dari 6 juta saja, kita ambillah prediksi yang terendah, satu minggu, satu orang menggunakan 1 gram sabu, itu yang paling rendah yang mengonsumsi, maka dalam satu minggu itu membutuhkan untuk 6 juta itu adalah 6 ton sabu untuk dikonsumsi. Maka dalam satu bulan harus 24 ton, maka setahun 300 tahun, maka benar yang 250 ton dari Cina itu betul masuk dan tidak pernah ada yang keluar dari Indonesia, karena tidak ada negara-negara lain yang mengkomplain bahwa ada narkotika yang masuk dari Indonesia. Berarti, semua terserap di Indonesia. Celakanya lagi kita ini disupply oleh 11 negara, dari 11 negara ini dikendalikan oleh 72 jaringan plus sekarang belum kita tahu berapa jaringan Filipina yang membuat jaringan di Indonesia kita belum temukan pasti. Tapi pasti dan sudah ada mereka sudah bekerja di Indonesia.
Ke-72 jaringan ini aktif mengedarkan narkotika di Indonesia dengan satu sama lain tidak ada hubungannya, karena mereka bersaing untuk merebut pangsa pasar. Dari 72 ini ada yang murni perdagangan, ada yang mereka memang ada tujuannya bekerja untuk negara bangsa ini yaitu penghancuran negara sebagai alat proxy war dari 72 jaringan. Kalau kita bicara biaya belanja negara dengan jumlah narkotika yang masuk ke Indonesia cuma kita bicara sabu saja, maka tidak kurang dari 250 triliun rupiah setiap tahun belanja narkotika, ini kalau kita bicara fakta sabu tadi. Karena satu kilo sabu di sini dijual obral 1 miliar rupiah. Tapi kan kita ini ancamannya bukan soal harga, tapi ancamannya soal nyawa manusia. Itu kita baru bicara sabu belum bicara yang lain, misalnya ekstasi. Bayangkan kemarin Belanda itu 1,2 juta pil ekstasi bisa masuk itu sudah bisa mengindikasikan bahwa negara-negara luar termasuk Eropa itu tidak peduli dengan Indonesia dan Indonesia juga target untuk cepat kehancurannya bagaimana, dari sisi narkotika loh ya ini. Saya sudah tiga, empat kali ke Amsterdam, kita ngantongin permen saja di sana digeledah dan diperiksa berkali-kali, itu baru permen. Diperiksa ketat di sana. Tapi sekarang bagaimana mungkin 1,2 juta pil ekstasi bisa keluar dari Belanda melalui penerbangan kalau tidak ada unsur kesengajaan dari negara itu untuk mengirim narkotika ke sini. Ini yang harus diwaspadai. Sampai hari ini Belanda tidak mau memberitahukan asal-usulnya bagaimana kejadian itu, memang Belanda tertutup soal itu, dengan alasan ekstasi di sana tidak dilarang. Lah ini kan kacau kalau sudah begini. Itu salah satu alasan negara-negara untuk menghancurkan negara kita, seolah-olah di kita tidak dilarang, ya silahkan saja Anda yang butuh kok, Anda yang menyalahgunakan kok, kita tidak ada kewenangannya untuk melarang. Seperti itu yang harus kita waspadai.
Menurut data dari lembaga Anda, ada berapa macam narkotika yang masuk ke Indonesia?
Semua masuk. Semua macam ada di Indonesia. Bahkan yang 800 jenis baru itu sudah 66 kita temukan. Itu yang kita temukan loh ya, bukan berarti yang lain tidak ada, itu yang baru kita temukan.
Yang paling laku yang mana?
Semuanya laku. Terutama yang paling banyak itu sabu.
Dari kalangan pejabat bagaimana?
Ada yang pakai, tapi persentasenya kecil. Tapi secara kualitas lebih hebat karena apa, dia terselubung. Kan mereka terprotek.
Nah yang pejabat itu bagaimana penanganannya?
Tetap kita tangkap, mereka dalam jaringan pengembangan ya kita tangkap.
Lalu apa yang harus diwaspadai mengingat peredaran narkotika yang begitu masif?
Bangsadan negara ini harus mewaspadai tentang narkotika dengan ancamannya. Karena ini jelas ancamannya. Bahkan presiden sudah menyatakan darurat narkoba bahkan perang, tapi seluruh elemen bangsa ini tidak berbuat apa-apa. Termasuk kementerian, lembaga, hanya beberapa saja, ya kalau BNN dan kepolisian sudah wajib hukumnya. Tapi tidak mungkin masalah narkotika yang nasional, yang berhadapan dengan dunia internasional dihadapi dengan dua lembaga. Gak mungkin. Nah, sekarang ini yang jelas bagaimana kita penanganan demand-nya, demand ini harus ditekan betul sementara kita bertanding dengan pengembangan pangsa pasar yang dibuat oleh jaringan. Jaringan ini mengembangkan terus, dengan segala lininya. Pesantren dihajar. TK dihajar. SD dihajar. SMP dihajar. SMA dihajar. Semua dihajar. Sementara kita tidak serius menangani secara masif. Dia masif kita tidak.
Jaringan masif mengedarkan, kita tidak serius menangani. Kita alakadarnya. Ini kelemahan kita. Maka kita bisa menekan persentase kecil dibandingkan pengembangan pangsa pasarnya. Sebenarnya banyak pemikiran saya, hanya pemikiran saya tidak bisa dilaksanakan karena tidak disambut. Misalnya, pencegahan itu dilakukan dengan memberikan masukan atau edukasi kepada masyarakat secara masif. Contoh, narkotika, masyarakat harus diberikan edukasi dari sudut pandang yang berbeda secara utuh. Secara sederhananya begini, sekarang kan masing-masing instansi pemerintah, lembaga, kementerian punya kewenangan dalam mengedukasi tentang narkotika dengan sudut pandang dari kementerian dan lembaga itu sendiri. Contohnya, Polri, Jaksa, Hakim bicara narkotika dari sudut pandang hukum, masyarakat jika disalahgunakan menyangkut masalah sanksi hukum. Lalu Menteri Kesehatan atau dinas kesehatan di daerah bicara narkotika dari sudut pandang kesehatan bahwa menggunakan narkotika golongan 1 dengan ini akan berdampak bla bla bla menyangkut kesehatan. Dari Menteri Pendidikan bicara narkotika dari sudut pandang pendidikan bahwa Anda mengikuti pendidikan tidak akan pintar tidak akan pandai manakala menggunakan narkoba maka cita-cita Anda, pendidikan Anda tidak akan berhasil. Menteri Agama bicara narkotika dari sudut pandang agama, agama apapun tidak ada yang membolehkan, dilarang dalam agama apapun. Semuanya bicara narkotika dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga masyarakat teredukasi dengan lengkap. Bahwa narkotika ini memang bahaya. Jadi nyoba aja gak mau apalagi pakai. Maka kalau ini demandnya bisa kita tangani dengan baik. Maka tidak perlu lagi kita berharap dari supply atau kita was-was dengan supply. Tidak usah. Supply kita biarkan saja tidak akan laku. Seperti yang saya lihat di negara-negara lain.
Di Rusia itu sabu, ekstasi tidak laku, karena pemahamannya udah lain. Luar biasa di Rusia itu penyalahgunaan jumlahnya sedikit, tetapi tetap ada penyalahgunaan heroin, kokain, morfin di Rusia. Kolombia juga begitu, tapi jumlahnya kecil. Luar biasanya Indonesia seluruh narkotika itu ada. Lengkap dan laku. Mau jenis baru yang bukan masuk dalam kategori narkotika pun laku. Hebatnya orang Indonesia ini kalau di negara lain orang ingin bicara sehat orang Indonesia tidak ingin bicara sehat malah ingin sakit. Meracuni diri sendiri. Ayo kita lihat saja, minuman dioplos-oplos makanan dioplos-oplos. Ini ada akibat pergeseran pemahaman, generasi kita telah dirusak dari segala penjuru termasuk narkotika di antaranya. Pemahaman-pemahaman yang diseimbangkan dari modernisasi kalangan muda sekarang. Modernisasi itu budaya Barat. Kita justru mengadopsi budaya-budaya asing itu baru modern dengan cara kita menghilangkan budaya-budaya kita yang nilainya sangat tinggi itu. Menurut orang-orang luar, kekuatan Indonesia itu karena budayanya yang begitu kuat, budaya ketimuran itu yang harus dihancurkan dulu. Nah sekarang sudah bergeser maka kehidupan malam itu adalah budaya baru yang dianggap modern, maka anak-anak muda sekarang masuk dalam kehidupan-kehidupan budaya asing. Di situlah dia mudah terkontaminasi dari penyalahgunaan narkotika. Itu cara-caranya. Di negara-negara lain memang luar biasa, di negara Indonesia saya tidak tahu bagaimana caranya bilamana hanya diserahkan ke BNN dan Kepolisian. Tidak mungkin bisa, dan kita tidak pernah mau belajar dari sejarah tahun 1839 – 1842 di Tiongkok itu. Tidak pernah mau belajar dan sekarang sudah bergeser juga mata pelajaran supaya generasi kita tidak kenal sejarah maka tidak ada pelajaran sejarah di sekolah. Itu salah satunya. Kita tidak pernah berpikir bahwa itu adalah salah satu cara negara-negara asing yang ingin menghancurkan Indonesia dengan cara-cara itu. Untuk menghancurkan Indonesia sangat-sangat luar biasa. Sebenarnya sudah masif, hanya belum terjadi secara menyeluruh saja, malah kita lebih parah daripada Timur Tengah, maka perang saudara ini sudah mau diciptakan juga sebenarnya. Dengan otak yang sudah dipengaruhi narkotika sekarang sudah error cara pemahamannya karena narkotika, nanti dipancing emosinya dengan segala pembentukan kelompok-kelompok secara besar di Indonesia yang bebas sebebas-bebasnya, maka ini mudah dibenturkan. Kita boleh lihat nanti. Sekarang lihat, jumlah partai politik di Indonesia itu terbanyak di dunia. Tapi kita lupa bahwa itu adalah upaya membenturkan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Itu akan dijadikan wahana untuk perpecahan negara ini. Buktinya sekarang antara partai dengan partai tidak pernah kompak. Selalu ada selisih paham, paham kecil-kecil saja dijadikan permasalahan. Agama, sesama agama Islam saja beda tafsir saja dipermasalahkan, karena itu yang dibentuk sebenarnya. Tapi diperkuat dengan cara otaknya dicuci dengan narkotika. Sudah error. Itu akan mempermudah, mempercepat keinginan negara-negara yang ingin menghancurkan Indonesia.
Apa target Anda ke depan?
Kalau keinginan saya menggebu-gebu, tapi saya menyadari, memahami karena keterbatasan usia, kontrak saya di sini. Tapi saya tidak pernah menyerah. Di kala diberi tanggung jawab, saya bekerja sebaik-baiknya, semaksimal mungkin saya kerjakan. Selama di BNN saya bekerja terus, begitu ada pejabat yang bermasalah saya panggil saya beri pemahaman. Begini-begini langkahnya. Pekerjaan saya harus dimulai pukul 05.30 sampai larut malam. Karena memang itu pekerjaan yang harus saya kerjakan. Saya tidak lagi bekerja karena digaji oleh negara sekian dan tugas saya kan sebagai kepala BNN hanya itu. Bukan. Tapi pertanggungjawaban apa yang menjadi kewajiban sebagai kepala BNN saya laksanakan maksimal. Saya tidak akan berkeluh kesah dengan gaji apapun yang diberikan negara tidak pernah mengeluh, dari saya mulai letnan dua, saya tidak mengeluh. Saya lakukan apa yang bisa saya lakukan tapi tidak melanggar hukum. Contoh saja saya letnan satu, kapten, saya jadi tukang ojek tidak apa-apa. Itu saksi hidup saya adalah istri saya bahwa saya pernah jadi tukang ojek. Itu yang saya berikan contoh bahwa kita memang harus berbuat sesuai dengan ranah dan tanggung jawab dan kewajiban kita. Jadi saya penegak hukum pengabdian saya pada negara sebagai aparat penegak hukum di kepolisian maka saya harus patuh dan taat pada hukum. Maka di kala saya sebagai abdi negara menghadapi kesulitan, saya harus berpikir tidak membebani negara, karena saya abdi negara. Kalau abdi itu pengabdian nothing to lose, keikhlasan. Pengabdian itu, berharap gak boleh apalagi meminta, mimpi saja tidak boleh. Ini benar. Itu kata almarhum ayah saya begitu. Ayah saya juga abdi negara, tentara pejuang. Saya sebagai abdi negara ya harus mengabdi sampai hari ini adalah pengabdian saya, kalau jam kerja saya jam 08.00 sampai jam 16.00 selesai, itu jam kerjaan wajib. Tapi saya tidak bisa begitu karena beban saya, tugas saya ini tidak bisa diselesaikan dengan jam-jam, maka saya harus menambah sendiri dengan pemahaman saya, karena apa, saya diberi sarana dan prasarana, pangkat sudah beda dengan anggota saya, sarana dan prasana yang diberikan kepada saya beda. Tunjangan jabatan saya beda dengan anggota, maka kewajiban saya sudah beda. Karena beban saya lebih besar daripada anggota saya. Oleh sebab itu wajarlah kalau saya bekerja melebihi anggota saya, bukan terbalik-balik. Nah, itu pemahaman saya.
Apakah keluarga mendukung karir Anda? Apakah ada yang mengeluh?
Ya pasti. Sebagai manusia normal pasti anak saya sedikit protes. Kan saya tidak pernah punya waktu untuk keluarga walaupun Sabtu dan Minggu. Karena Sabtu Minggu ada banyak pekerjaan yang harus saya lakukan.
Lalu mendidik anak bagaimana?
Ya istri, tapi kan saya bisa komunikasi dengan teknologi, ada HP bisa komunikasi. Saya tanamkan kepada anak-anak saya hal-hal yang positif termasuk adat budaya. Menghargai budaya-budaya asli itu harus, walaupun saya asli orang Jawa istri orang Minang, kedua-duanya harus dihargai. Anak-anak saya harus memahami, mengenal, mencintai dua budaya yang berbeda yaitu budaya Jawa dan budaya Minang dan saya menyampaikan tentang bahaya-bahaya segalanya termasuk narkotika karena saya sebagai kepala BNN.
Kaitannya dengan pesantren, bagaimana masukan untuk pesantren ke depan, karena seperti yang Anda sampaikan itu kan sudah begitu masif?
Saya ingin bagaimana pondok pesantren punya peran aktif dalam menangkal (peredaran narkoba). Karena terus terang saja, pondok pesantren menjadi target sasaran dari jaringan narkotika. Kenapa, karena mereka tahu kekuatan yang sangat luar biasa itu di pondok pesantren, di mana ini anak-anak santri. Nah dengan kekuatan secara rigitnya dalam masalah agama, akan dijadikan kekuatan bagi Bandar Narkotika untuk melakukan perlawanan, maka para santri-santri ini yang diincar. Di pendidikan, sekolah-sekolah, baik itu SMA, apalagi mahasiswa kelihatan sekali. Di perguruan tinggi-perguruan tinggi selalu target sasarannya itu generasi-generasi yang mempunyai kualitas. Nanti, yang muncul yang pandai itu pasti dipengaruhi narkotika. Karena, itu dari jaringan yang mempunyai program untuk menghancurkan negara. Karena, ini kan asset negara, maka generasi yang berkualitas yang harus dihancurkan duluan. Karena the next negara ini tidak akan dipimpin oleh orang-orang yang punya kualitas. Saya ingin kurikulum pemahaman narkotika dimasukkan dalam pendidikan pesantren dan sudah saya buat bukunya. Itu yang ingin saya dorong. Beberapa pesantren sudah saya berikan, saya ingin pemahaman di seluruh pesantren yang ada di Indonesia bahwa masalah narkotika harus dikenalkan dan dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di pesantren dari kacamata pesantren atau pendidikan agama. Sudah saya buat bukunya. Supaya para santri paham narkotika, bahwa belajar di pesantren untuk menjadi manusia yang berkualitas dan bermutu bagi bangsa dan negara ke depan. Bahwa negara ini akan saya pimpin ke depan. Maka saya harus menjadi manusia-manusia yang berkualitas dan lebih baik daripada generasi-generasi terdahulu saya, itu yang harus kita tanamkan.
Menurut Anda langkah apa yang paling efektif untuk mencegah narkoba?
Semua lini. Dari agama iya. Contoh saja saya membuat buku mata pelajaran tentang bahaya narkotika dari anak TK. Saya tidak main-main. Tiga bulan sejak menjadi kepala BNN saya buat, tiga bulan saya garap dengan mendatangkan para ahli. Selain TK juga membuat buku yang mengenalkan bahaya narkotika untuk anak SD, SMP, SMA dan materi khusus untuk pesantren, dai. Saya membuat ini supaya dari awal masyarakat kita generasi bangsa sudah dikenalkan dengan permasalahan-permasalahan yang sudah tahu sehingga dia punya daya tangkal.
Selain itu saya ingin para pendakwah menyampaikan tentang bahaya narkotika dari perspektif agama-agama yang membuat para ahli-ahli agama untuk menjadi pedoman. Karena Indonesia sudah darurat, ancamannya besar pada umat karena Indonesia ini terdiri dari berbagai umat beragama. Ini bukti nyata bahwa saya ini serius. Buku yang kami susun ini diadopsi oleh tiga negara; Myanmar, Thailand, dan negara Sisil, negara kecil di Afrika yang dia merasa narkotika menjadi ancaman. Bayangkan pemikiran saya ini diapresiasi direspon oleh negara lain, tapi di negara sendiri malah dianggap tidak penting padahal ancamannya sudah jelas. Produksi narkotika dalam negeri cuma satu di Indonesia yaitu ganja dan produksi terbesar adalah Aceh. Upaya-upaya saya untuk memberantas itu di antaranya dengan membuat grand design untuk penanganan narkotika atau ganja di Aceh itu sudah saya paparkan di kementerian, tinggal menunggu keputusan presiden. Dari 2016 dan sampai hari ini belum ada kelanjutannya, tapi saya tetap bekerja dengan keterbatasan saya bagaimana pengentasan produksi ganja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Aceh, karena saya jadikan Aceh sebagai pilot project nasional karena tanaman ganja sudah menyeluruh di seluruh Indonesia.
Nah ini Grand Design ini saya menyatakan di sini bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan oleh kementerian dan lembaga, ini melibatkan seluruh kementerian dan lembaga yang di Indonesia karena sudah darurat berarti semua harus punya program. Harapan saya sampai tahun 2025 bagaimana Indonesia akan mencapai generasi emas ini bisa tertangani dengan baik, ini mengubah kebiasaan dan pola tanam dari tanaman ganja menjadi tanaman lain yang produktif dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.[]





















