Bandung, Gontornews – Bulan suci Ramadhan tahun ini segera berakhir. Waktu-waktu akhir Ramadhan, menurut Prof Dr H Sofyan Sauri, MPd, merupakan momen fastabiqul khairat. Momen untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. “Hidupkan malam-malam terakhir Ramadhan,” ujar Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu dalam pengajian “Rabu Sono (Silaturahim Online Ngaji Online)” yang digelar oleh Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Taman Kanak-Kanak dan Pendidikan Luar Biasa (PPPPTK TKPLB) Bandung, Rabu (27/4).
Pada sepuluh malam terakhir, kata Prof Sofyan, kita harus bersungguh-sungguh dalam menghidupkannya, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, berdoa, dzikir, dan ibadah-ibadah lainnya. Istri Nabi Muhammad SAW, ‘Aisyah, menceritakan: “Dahulu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam jika memasuki sepuluh malam terakhir, beliau menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya, serta mengencangkan tali pinggangnya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Guru Besar kelahiran Cianjur, 20 April 1956, itu menyebutkan, sepuluh malam terakhir merupakan momen mencari malam yang istimewa (lailatul qadar). Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, jika ada di antara kalian lemah, maka jangan sampai luput dari tujuh malam yang tersisa (terakhir).” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
“Karena itu, manfaatkanlah waktu dengan baik, jangan dilalaikan,” tandasnya dalam kajian bertema Memanfaatkan Momen Akhir Ramadhan.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR Muslim No. 1175).
Lalu, amalan apakah yang dianjurkan di akhir Ramadhan? Dosen Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor itu, menyebutkan delapan amalan yang dianjurkan. Pertama, i’tikaf, yakni ibadah yang dilakukan dengan berdiam diri di masjid. Hadits Nabi Muhammad SAW menyebutkan: Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. (HR Bukhari No. 2026 dan Muslim No. 1172).
Kedua, membaca Al-Qur’an. Menurutnya, Al-Qur’an Al-Karim memiliki kekhususan kuat berkaitan dengan bulan Ramadhan. Allah berfirman, yang artinya: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” [Al-Baqarah: 185].
Ketiga, qiyama Ramadhan atau shalat tarawih. “Siangnya kita puasa, malamnya shalat tarawih. Siang dan malamnya baca Qur’an. Minimal itu yang harus kita lakukan. Ibadah yang lain-lainnya itu tambahan,” jelas Prof Sofyan.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan qiyama Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.“ (HR Bukhari dan Muslim).
Keempat, menghidupkan malam lailatul qadar dengan ibadah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi SAW bersabda, yang artinya: “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari).
Kelima, memperbanyak doa. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Dalam setiap malam bulan Ramadhan Allah ‘azza wa jalla berseru sebanyak tiga kali: Adakah orang yang meminta maka Aku penuhi permintaannya. Adakah orang yang bertobat maka Aku terima tobatnya. Dan adakah orang yang memohon ampunan maka Aku ampuni dia.” (HR Al-Thabrâni dan al-Baihaqî). “Mumpung kita masih di bulan Ramadhan perbanyaklah berdoa dan bertobat,” paparnya pada kajian yang dihadiri lebih dari 260 jamaah.
Keenam, mengeluarkan zakat fitrah. Sahabat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci jiwa orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak ada manfaatnya dan perkataan yang keji dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat Id, maka terhitung sebagai zakat yang diterima dan barangsiapa menunaikannya setelah selesai shalat Id, maka itu adalah shadaqah dari shadaqah-shadaqah biasa.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Ketujuh, tobat dan istighfar. “Tobat dan istighfar adalah amalan yang dituntut pada seluruh keadaan,” terang dosen Pendidikan Bahasa Arab UPI itu. Allah berfirman, yang artinya: “Dan bertobatlah kalian seluruhnya kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” [An-Nûr: 31].
Kedelapan, memperbanyak sedekah dan mengurangi tidur. Allah berfirman, yang artinya: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan rezeki yang Kami berikan. (QS As-Sajdah: 16). “Di bulan Ramadhan ini kurangi tidur dan banyaklah berdzikir,” terang Prof Sofyan pada kajian yang diselenggarakan secara online melalui aplikasi Zoom.
Kajian Rabu Sono ditutup dengan sesi tanya jawab dan doa yang didawamkan untuk memperoleh ampunan dan lailatul qadar, yang artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Zat Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, senang pada ampunan, maka ampunilah kami, wahai Zat yang Maha Pemurah.” (HR Tirmidzi).
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah SWT dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah SWT. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18). []






















