Mukadimah
Sejarah tidak pernah berdiri di ruang hampa. Di setiap babak perjalanan bangsa dan daerah, selalu ada sosok-sosok ulama yang menjadi penerang jalan, menanam nilai, dan menjaga keseimbangan antara ilmu, iman, dan amal.
Sayangnya, seiring berjalannya waktu, jasa para ulama sering terlupakan — padahal merekalah penjaga ruh bangsa, benteng akhlak umat, dan pelita di tengah gelapnya zaman. Karena itu, penting bagi kita untuk terus menggaungkan semboyan: JASHIJAU — Jangan Sampai Hilangkan Jasa Ulama.
Kesadaran untuk menghargai jasa ulama bukan sekadar ekspresi nostalgia, tetapi bagian dari adab Islam yang tinggi. Sebab Rasulullah SAW telah bersabda:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ
“Barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia belum bersyukur kepada Allah.” (HR Abu Dawud, No. 4811)
Kisah Awal: Titah dari Masyayikh Gontor
Sekitar tahun 1985 hingga 1991, tiga orang muda alumni Gontor mendapat amanah langsung dari almarhum KH Abdullah Syukri Zarkasyi — salah satu putra Trimurti Gontor — untuk membersamai perjuangan seorang ulama besar Banten, KH A Rifai Arif di Pondok Pesantren Modern Darel Qolam, Gintung, Banten.
Tiga kader muda itu yaitu: 1. Al-Faqir KH Ikhwan Hadiyyin, pendiri dan pimpinan PPM Darel Azhar Rangkasbitung, Banten; 2. KH Imam Bajuri, pendiri dan pimpinan Ponpes Al-Iman, Ponorogo; 3. Almarhum KH Muridan Rusydi, pendiri dan pimpinan Ponpes Modern As-Sakinah Tugu, Sliyeg, Indramayu.
Mereka diutus bukan sekadar untuk mengajar, tetapi membawa nafas pembaruan pendidikan pesantren modern ke tanah Banten — wilayah yang kala itu masih sangat kuat dengan tradisi pesantren salafiyah dan kultur keagamaan klasik yang fanatik terhadap pola qawliyah (tekstual) dan taqlidiyah (tradisional).
KH A Rifai Arif: Ulama Modern yang Tetap Santun
KH A Rifai Arif merupakan sosok ulama intelektual dan intelektual ulama — seorang yang berilmu luas, berpikiran maju, namun tetap rendah hati dan bersahaja.
Beliau dikenal smart, humble, dandy, dan bijak-bestari.
Gaya kepemimpinannya memadukan ketegasan intelektual dengan kelembutan spiritual, mengharmonikan antara rasionalitas modern dengan hikmah sufistik.
Beliau mampu membawa sistem pendidikan modern ke tengah masyarakat Banten tanpa merusak akar tradisi. Banyak orang kagum padanya bukan karena penampilan, melainkan karena keseimbangan nilai dan kedalaman budi yang beliau pancarkan.
Dalam tutur dan tindaknya, beliau menjelmakan tiga watak luhur khas Jawa yang sangat Gontorian:
“Satrio pinandito — nglurug tanpa bolo, digdaya tanpa aji-aji, menang tanpa ngasorake.”
Artinya: Seorang satria yang berjiwa pendeta, berani maju tanpa bala tentara, berdaya tanpa kesaktian, dan menang tanpa merendahkan lawan.
Sinergi Nilai: Gontor dan Banten
Ketika nilai-nilai Gontor — kedisiplinan, kemandirian, intelektualitas, dan wawasan global — bertemu dengan keikhlasan dan keuletan tradisi Banten, lahirlah sinergi yang indah dan harmonis.
KH A Rifai Arif dan para santri Gontorian membuktikan bahwa:
Modernitas tidak harus meniadakan tradisi, dan tradisi tidak harus menolak pembaruan.
Dari sinergi ini lahirlah model pendidikan baru di Banten — pesantren modern yang tetap berakar pada ruh kesalafiyahan.
Kini, puluhan pesantren modern berdiri di tanah Banten, dan banyak di antaranya merupakan buah dari pengaruh, teladan, serta doa KH A Rifai Arif beserta para kadernya.
Landasan Spiritual dalam Al-Qur’an dan Hadis
Perjuangan ulama dalam menyinari umat sesungguhnya merupakan amanah kenabian.
Al-Qur’an menegaskan: “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri.” (QS At-Taubah [9]: 122)
Ayat ini menggambarkan peran ulama — mereka yang yatafaqqahuna fid-din (mendalami agama) dan menjadi penjaga kesadaran umat.
Rasulullah SAW pun bersabda:
الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ
“Para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR Tirmidzi, No. 2682)
Mereka bukan pewaris harta, tetapi pewaris ilmu, hikmah, dan amal shalih. Tanpa mereka, rantai pewarisan nilai kenabian akan terputus.
Relevansi JASHIJAU di Era Modern
Dalam dunia modern yang serba cepat dan individualistik, banyak generasi muda yang lebih mengenal influencer daripada ulama, lebih dekat dengan gadget daripada kitab, dan lebih terpesona oleh teknologi daripada hikmah.
Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali semangat JASHIJAU.
Meneladani ulama bukan berarti memuja figur, tetapi menghargai nilai-nilai:
Keikhlasan dalam berjuang,
Ketulusan dalam mendidik,
Kesederhanaan dalam hidup, dan
Keberanian dalam mempertahankan prinsip.
Sebagaimana Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS Al-Mujādilah [58]: 11)
Penutup: JASHIJAU Sebagai Gerakan Moral
Kini, ketika dunia sering mengagungkan kekuasaan, jabatan, dan ketenaran, kita perlu kembali pada nilai yang diajarkan para ulama sejati — nilai kesantunan dalam berpikir, kejujuran dalam berjuang, dan keikhlasan dalam mengabdi.
Karena itu, JASHIJAU bukan sekadar slogan, melainkan seruan moral dan spiritual:
> Jangan biarkan jasa ulama hilang ditelan zaman.
Mereka mata rantai ilmu, iman, dan amal yang menyambungkan kita dengan generasi kenabian.
Sebagaimana sabda Nabi SAW:
> مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim, No. 2699)
Maka berterima kasihlah kepada para ulama — karena melalui tangan dan doa mereka, kita semua menjadi bagian dari mata rantai perjuangan Islam yang tak pernah putus. []
DA. 29 Oktober 2025





















