Tokyo, Gontornews — Pemerintah Jepang memutuskan hanya akan merawat pasien Covid-19 dengan gejala berat atau berisiko fatal di rumah sakit. Sementara mereka yang mengalami gejala ringan atau tidak bergejala, pemerintah Jepang menyarankan isolasi mandiri.
Putusan ini merupakan respon dari lonjakan kasus Covid-19 yang menyebabkan kapasitas sistem pelayanan kesehatan menegang. Sejauh ini, Jepang sedang mengalami lonjakan kasus harian dengan lebih dari 10.000 kasus harian secara nasional. Sementara ini Tokyo menjadi kota dengan rekor kasus Covid-19 harian tertinggi dengan 4.058 kasus pada Sabtu.
Direktur Showa University Hospital, Hironori Sagara, mengatakan beberapa rumah sakit di Tokyo berada dalam situasi kritis. βAda warga yang mendapatkan penolakan berulang kali untuk masuk (ke rumah sakit),β kata Sagara kepada Reuters.
βDi tengah kegembiraan Olimpiade, ada kondisi tenaga medis yang sangat parah,β imbuhnya.
Sekretaris Kabinet Jepang, Katsunobu Kato, menjelaskan bahwa angka penularan pada kelompok lanjut usia sangat sedikit karena telah menerima vaksin. Lain halnya dengan komunitas masyarakat berusia 40 hingga 50 tahunan yang mengalami gejala berat Covid-19.
βInfeksi pada orang yang lebih muda meningkat dan orang-orang berusia 40-an dan 50-an yang bergejala parah terus meningkat,β jelas Kubo.
βDengan orang-orang yang bergejala demam mendapatkan perawatan rumah sakit, (menyebabkan) beberapa orang tidak dapat perawatan dan (terpaksa menjalani) pemulihan dari rumah,β jelasnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Jepang, Yoshihide Suga, mengumumkan perubahan kebijakan, Senin. Pemerintah meminta masyarakat melakukan isolasi di rumah dan hanya pergi ke rumah sakit jika kondisi memburuk. Suga berharap kebijakan ini dapat memberikan kelonggaran bagi sistem kesehatan, khususnya ruang rawat inap, bagi pasien bergejala berat secara luas.
Meski demikian, beberapa warga pesimis dalam menanggapi aturan tersebut. Mereka menyebut kebijakan ini hanya akan menyebabkan lebih banyak kematian. βMereka menyebutnya perawatan dari rumah. Tetapi, sebenarnya itu adalah pengabaian dari rumah,β kata pemimpin oposisi Jepang, Yukio Edano kepada NHK.
Sebelumnya, Jepang memperluas wilayah daurat Covid-19 dengan memasukkan 3 prefektur yang berbatasan langsung dengan Tokyo seperti Chiba, Saitama dan Kanagawa. Tidak hanya itu, Jepang jga menetapkan status darurat serupa ke prefektur Osaka hingga 31 Agustus mendatang. [Mohamad Deny Irawan]




















