Musibah hilangnya anak Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Emmeril Kahn Mumtadz (Eril), ketika berenang di Sungai Aare, Bern, Swiss, 26 Mei 2022, menjadi perbincangan masyarakat Indonesia. Dikabarkan Eril terseret arus Sungai Aare yang cukup deras ketika mencoba naik ke daratan. Kendati sosok jasad Eril belum ditemukan, namun pihak keluarga pada 3 Juni 2022 meyakini bahwa Eril sudah wafat karena tenggelam.
Musibah bisa menyapa siapa saja. Tua muda, pria wanita, pejabat atau rakyat biasa. Semua musibah terjadi atas kehendak dan izin Allah. Dalam Qur’an surat At-Taghabun ayat 11 Allah SWT berfirman:
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taghabun: 11)
Dalam tafsir Ibnu Katsir, Allah menyatakan tiada sesuatu pun yang terjadi di alam ini melainkan dengan kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Barangsiapa yang beriman kepada Allah pasti ia akan rela pada putusan Allah, baik qada maupun takdir-Nya, dengan iman itulah hati akan mendapatkan ketenangan, karena ia telah yakin bahwa yang dikehendaki tidak akan terjadi. (Abu al-Fida Isma’il Ibn Kasir al-Quraisy ad-Dimasyqy, Tafsir Ibn Kasir, tt, juz 8. hlm. 140)
Musibah dalam pengertian ujian yang diberikan Allah SWT kepada manusia, tidak hanya berupa penderitaan saja, tetapi bisa jadi berupa kebaikan, sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Anbiya: 35:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
Artinya: Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.
Lebih tegas, dalam Tafsir Al-Misbah disebutkan dua hal yang harus kita lakukan saat ditimpa musibah, yaitu: Pertama, segala hal yang terjadi pada diri manusia, yang baik maupun yang buruk, semuanya berasal dari Allah, atau lebih tepatnya atas izin Allah. Kita harus sabar dan ridha, menerima dengan setulus hati atas ketetapan itu.
Kedua, beriman kepada Allah. Pada saat seperti ini iman kita diuji, bahwa ada pesan kasih sayang dan pelajaran yang berharga yang disampaikan Allah di balik peristiwa itu. Maka hanya orang yang beriman yang Allah bukakan mata sekaligus memantapkan hatinya. Dengan demikian, ujian Allah bisa berupa keburukan dan kebaikan. Keduanya berasal dari Allah SWT. Ujian ini akan memberikan motivasi untuk meningkatkan keimanan kepada Allah SWT bagi mereka yang benar-benar taat kepada-Nya.
Sebagai contoh, seseorang yang diberikan anugerah kebaikan, seperti mendapat jabatan yang tinggi, harta yang banyak, boleh jadi seseorang itu akan semakin dekat kepada Allah SWT, dan tak menutup kemungkinan ia juga boleh jadi semakin menjauh dari Allah SWT.
Ayat di atas memberikan pendidikan kepada orang-orang yang beriman. Nilai-nilai pendidikan itu antara lain: 1) Mendidik menjadi insan yang sabar terhadap semua ujian dan musibah yang datang; 2) Mengajarkan ikhlas dalam segala hal; 3) Meningkatkan ketakwaan kepada Allah agar menjadi hamba yang mulia di sisi-Nya; 4) Mendidik menjadi seorang yang tawakal dan ridha terhadap ketentuan Allah.
Makna musibah
Kata musibah berasal dari bahasa Arab ‘ashaba yang dalam kamus bahasa Arab al-Munawwir diartikan sebagai bencana atau malapetaka. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, musibah diartikan dengan kejadian menyedihkan yang menimpa, atau malapetaka, atau bencana.
Musibah merupakan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT. Allah berfirman:
قُلْ لَنْ يُصِيْبَنَا إلاَّ مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللهِ فَاْليَتَوَكَّلِ اْلمُؤْمِنُوْنَ
“Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” (QS. At-Taubah: 51)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَة)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Cobaan itu akan senantiasa bersama orang yang beriman baik laki laki ataupun perempuan baik berkaitan dengan dirinya, anaknya ataupun hartanya sampai dia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa.” (HR. At-Turmudzi no. 2323 dengan sanad yang shahih)
Mengapa musibah datang tanpa diundang? Setidaknya ada enam alasan mengapa musibah datang. Pertama, musibah merupakan pembelajaran bagi manusia. Musibah dapat diartikan sebagai sebuah peringatan dan tanda yang diisyaratkan oleh Allah SWT untuk menguji orang yang berjuang dan sabar.
Sebagaimana firman Allah:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِيْنَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِيْنَ
“Sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sekalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjuang dan orang-orang yang sabar di antara kamu sekalian.” (QS. Muhammad: 31)
Kedua, musibah datang sebagai akibat ulah tangan manusia. Allah SWT berfirman:
ظَهَرَ الفَسَادُ فِيْ البَرِّ وَاْلبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ اَّلذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“ (QS. Ar-Rum: 41)
Ketiga, musibah datang untuk memberikan hikmah. Musibah yang diterima secara positif akan mendatangkan peluang, ibrah, hikmah dan anugerah. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ يُرِدِ للهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ (رواه البخاري)
“Orang yang Allah inginkan kebaikan atasnya maka akan diberinya musibah.” (HR. Al-Bukhari)
Keempat, musibah sudah tertulis di lauhul mahfudz. Allah berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)
Kelima, Allah hendak menghapus dosanya. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُصِيبَةٍ يُصَابُ بِهَا الْمُسْلِمُ إِلَّا كُفِّرَ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا
“Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada satu pun musibah (cobaan) yang menimpa seorang Muslim, melainkan dosanya dihapus Allah Ta’ala karenanya, sekalipun musibah itu hanya karena tertusuk duri.” (HR. Muslim)
Keenam, musibah adalah ujian untuk mendapatkan surga Allah. Nabi SAW bersabda:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ ابْنَ آدَمَ إِنْ صَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى لَمْ أَرْضَ لَكَ ثَوَابًا دُونَ الْجَنَّةِ
Dari Abu Amamah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah SWT berfirman: Hai anak Adam, jika kamu bersabar dan ikhlas saat tertimpa musibah, maka Aku tidak akan meridhai bagimu sebuah pahala kecuali surga.” (HR. Ibnu Majah)
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu
Allah SWT berfirman:
وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz).” (QS. Al-An’am: 59)
Karena itu setiap musibah yang datang harus disyukuri. Menurut Syekh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin, setidaknya ada dua cara untuk dapat mensyukuri musibah, yaitu: Pertama, hendaknya banyak melihat orang yang mendapat musibah lebih parah dari kita. Kalau ditimpa musibah sakit, misalnya, lihatlah orang yang lebih parah sakitnya daripada kita, jangan banyak melihat orang yang lebih sehat sehingga menjadi hamba yang bersyukur, sekalipun sedang ditimpa musibah.
Kedua, kita harus yakin bahwa di balik musibah ada banyak kebaikan. Setiap kesulitan yang menimpa
ada kemudahan yang Allah berikan. Allah Ta’ala berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5)
Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:
Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka sikap sabar dan ihtisab. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.
Lalu bagaimana sikap kita ketika tertimpa musibah? Pertama, bersabar. Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦) (البقرة: ١٥٥-١٥٦)
Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali untuk dihisab).” (QS. Al-Baqarah: 155-156)
Kedua, janganlah berputus asa. Allah SWT telah berfirman:
وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ، وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا (الإسراء: 83)
“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.” (QS. al-Isrâ’: 83)
Ketiga, yakin dan sadar akan musibah yang diberikan Allah. Yakini dan sadarlah bahwa tidak ada beban musibah apa pun yang tidak bisa dilewati. Allah akan memberikan beban sesuai dengan kekuatan masing-masing, sebagaimana firman-Nya:
لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا (البقرة: 286)
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya.” (QS al-Baqarah: 286)
Keempat, menyesali dan membuat perbaikan serta perdamaian. Allah berfirman:
فَكَيْفَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۢ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَآءُوكَ يَحْلِفُونَ بِٱللَّهِ إِنْ أَرَدْنَآ إِلَّآ إِحْسَٰنًا وَتَوْفِيقًا
“Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa suatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.” (QS. An-Nisa: 62)
Kelima, senantiasa taat kepada Allah serta bertawakkal kepada-Nya. Nabi SAW bersabda:
قال رسول الله لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً
Rasulullah bersabda, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sempurna, niscaya Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung-burung. Burung-burung berangkat di waktu pagi dalam keadaan lapar dan pulang di waktu sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad)
Keenam, mencari ridha Allah. Nabi SAW bersabda:
وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {مَا تَجَّرَعَ عَبْدٌ جُرْعَةً أَفْضَلُ عِنْدَ اللهِ مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ تَعَالَى}.
Nabi SAW bersabda, “Tidak ada seorang hamba yang meneguk satu tegukan (menerima musibah) yang lebih utama di sisi Allah daripada satu tegukan yang berat yang ditahan untuk mencari ridha Allah Ta’ala.” (HR. Imam Ahmad dan Imam At-Thabarani)
Ketujuh, bersyukur. Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.” [QS. Ibrahim: 7] []






















