Hawaii, Gontornews – Stasiun pemantau atmosfer Mauna Loa di Hawaii mengungkapkan bahwa kadar CO2 di atmosfer telah melonjak melampaui ambang batas aman. Akibatnya, standar global kandungan CO2 di atmosfer diperkirakan melesat untuk pertama kalinya sejak tahun 2015.
BBC.com melansir jika peristiwa El-Nino mengambil bagian terpenting dari peningkatan kandungan CO2 di atmosfer.
Badai El-Nino menciptakan kondisi kekeringan di beberapa daerah tropis yang kaya akan vegetasi. Dengan kondisi tersebut, vegetasi kurang mampu menyerap CO2. Selain kekeringan, Badai El-Nino juga memicu terjadinya kebakaran hutan di beberapa wilayah tropis.
Dalam bulletin Greenhouse Gas, organisasi meteorologi dunia (WMO) mengatakan, peningkatan kandungan CO2 di atas rata-rata di atmosfer telah terjadi pada satu dasawarsa terakhir.
Dalam pantauan Mauna Loa, ada setidaknya 400 molekul CO2 dalam tiap satu juta molekul di atmosfer. Menurut para ahli, meningkatnya kadar CO2 di atmosfer hingga di atas 400 ppm terakhir kali terjadi tiga sampai lima juta tahun silam.
Sedangkan menurut National Oceanic Atmospheric Adminsitration (NOAA), peningkatan kadar CO2 sebelum tahun 1800 berada di angka 280 ppm.
Melihat fenomena ini, pada 2016, WMO akan menjadikan ukuran 400 ppm sebagai patokan pengukuran CO2 untuk beberapa tahun ke depan. WMO menambahkan, meski El Nino telah menghilang, faktor manusia dalam perubahan iklim belum dapat dikendalikan.
“Tahun 2015 merupakan era baru dalam memberikan rasa optimisme serta tindakan iklim sebagaimana kesepakatan perubahan iklim dunia di Paris,” kata Sekretaris Jendral WMO, Petteri Taalas.
“Tapi, tahun itu juga menjadi sejarah yang menandai era perubahan iklim yang terkonsentrasi pada pencapaian rekor tinggi efek gas rumah kaca,” tambahnya.
Tidak hanya CO2, laporan tersebut juga merinci penyebab gas rumah kaca lainnya dari metana dan dinitrogen oksida. Pada 2015, tingkat metana di atmosfer lebih tinggi 2,5 kali ketimbang kandungan serupa di era praindustri. Sedangkan kandungan nitrogen oksida atmosfer, meningkat 1,2 kali dalam sejarah.
Selain kendungan CO2, metana dan nitrogen oksida di atmosfer, laporan ini juga menunjukkan meningkatnya gas pemanas pada iklim dunia. Antara tahun 1990 dan 2015, gas pemanas mengambil 37 persen efek radiasi yang berasal dari industri, pertanian dan sektor domestik.
Kesepakatan awal yang dihasilkan pada pertemuan di Rwanda adalah agar negara-negara di dunia perlu memfokuskan pada penanggulangan efek gas rumah kaca secara bertahap.
“Tanpa menanggulangi emisi CO2, kita dapat mengatasi perubahan iklim dan menjaga kenaikan suhu di bawah 2 derajat Celcius sejak era praindustri, kata Petteri Taalas.
“Oleh karena itu, yang paling penting adalah bahwa perjanjian Paris berlaku tepat pada 4 November sehingga kita bisa melacak negara-negara mana yang telah melakukan kesepakatan tersebut,” ungkapnya.
Lebih dari 200 negara di dunia menandatangani perjanjian iklim di Paris. Pertemuan tersebut akan dilanjutkan di Maroko untuk memutuskan langkah-langkah konkret terkait penanggulangan perubahan iklim global. [Mohamad Deny Irawan/Rus]





















