Sydney, Gontornews – Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim asal UNSW Science Sydney, Australia, berhasil membuktikan bahwa lemak, yang terbakar akibat proses penurunan berat badan, keluar tubuh sebagai karbondioksida. Temuan ini membantah temuan sebelumnya yang menyatakan bahwa lemak tubuh yang terbakar menjadi panas atau energi.
“Jawaban yang benar adalah sebagian besar massa tubuh dihembuskan keluar sebagai karbondioksida,” kata penulis utama yang juga pakar fisika, Ruben Meerman, sebagaimana dilansir Science Alert.
Meerman tertarik melakukan penelitian tentang biokimia penurunan berat badan setelah ia berhasil menurunkan berat badannya sebanyak 15 kg (33 pound). Saat dirinya bertanya tentang ke mana perginya berat badannya, sang dokter menjawab bahwa lemak yang hancur dan terbakar berubah menjadi panas dan energi.
Kegalauan Meerman lantas membuatnya berkolaborasi dengan Andrew Brown dari UNSW School of Biotechnology and Biomolecular Science untuk menemukan reaksi biomolekuler yang mengakibatkan penurunan berat badan.
Dalam prosesnya, Meerman dan tim menemukan bahwa kelebihan karbohidrat dan protein dari asupan makanan yang kita makan berubah menjadi trigliserida (senyawa yang terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen) dan berada di tetesan lipid di dalam sel lemak. “Untuk menurunkan berat badan, Anda perlu mencegah trigliserida agar tidak bertemu dengan karbon,” paparnya.
Hasilnya, mereka menyimpulkan bahwa saat menurunkan berat badan sebanyak 10 kg, lemak yang terbakar akan berubah menjadi 8,4 kg karbondioksida, dan 1,6 kg air yang keluar melalui cairan urin, air mata, keringat dan cairan tubuh lainnya.
“Perhitungan kami menunjukkan bahwa paru-paru adalah organ utama ekskretoris (proses pembuangan limbah-limbah metabolik dalam tubuh) bagi lemak,” ujar Meerman dalam jurnal yang diterbitkan British Medical Journal. [Mohamad Deny Irawan]




















