Jakarta, Gontornews — Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Ketuhanan (KLHK) melaporkan luas kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) sepanjang Januari hingga Juni 2023 mencapai 28.019 hektare dan melepaskan 2,84 juta emisi karbondioksida. Berdasarkan data Sipongi+ milik KLHK, lima provinsi dengan angka Karhutla tertinggi yaitu Nusa Tenggara Timur dengan 5.211 hektare.
“Kolaborasi lintas sektor dilaksanakan dalam rangka menjaga keamanan wilayah rawan dari kejadian karhutla,” kata Thomas Nifinluri, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK kepada Antara.
Setelah NTT, provinsi dengan angka karhutla tertinggi adalah Kalimantan Barat seluas 4.172 hektare, Lampung seluas 2.272 hektare, Sulawesi Tenggara seluas 1.961 hektare, Maluku seluas 1.953 hektare.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah telah melaksanakan modifikasi cuaca di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Teknologi modifikasi cuaca kembali dilanjutkan di Pulau Kalimantan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan yang disebabkan oleh El Nino, terutama pada periode Juli sampai Oktober 2023. Rencananya, kegiatan ini akan dilakukan di Kalimantan Barat pada 23 Juni 2023 mendatang dengan menggunakan pesawat Cesna 212. Setelahnya, kegiatan serupa akan dilaksanakan di Riau dan Kalimantan Timur.
Penerapan teknologi modifikasi cuaca yang dahulu dikenal sebagai teknologi hujan buatan merupakan bagian dari upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan dengan cara pembasahan gambut. Apabila titik api muncul di sekitar kawasan milik swasta, pemerintah menugaskan perusahaan swasta itu untuk mengatasi kebakaran tersebut. [Mohamad Deny Irawan]

























