Jakarta, Gontornews– Agama Islam, agama minoritas di Selandia Baru memang demikian adanya. Berdasarkan sensus tahun 2013 populasi penduduk Muslim di negara itu berjumlah 1,1 persen. Sedangkan warga yang tidak beragama mencapai 38,5 persen,” tulis data CIA seperti dikutip dream.co.id.
Masih dari sumber yang sama, warga Selandia Baru keturunan Malaysia, Andrew Lim, di laman Quora menilai secara umum Selandia Baru aman dan ramah terhadap imigran.
“Setelah tinggal 12 tahun di Selandia Baru, saya mengatakan bahwa negara ini secara umum aman dan ramah terhadap imigran,” tulisnya.
Sebagai seorang non-Muslim, Andrew memiliki pengalaman tersendiri dalam melihat komunitas Muslim. Menurutnya, Muslim diterima baik di negara itu. Dikatakannya umat Islam Selandia Baru kebanyakan berasal dari Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Timur Tengah. “Warga lokal kulit putih dan (suku) Maori yang jadi mualaf juga ada,” imbuhnya.
Meski terbilang aman dan ramah terhadap imigran, tekanan dan diskriminasi ternyata dirasakan oleh umat Islam. Sejumlah Muslimah di sana pernah mengalami diskriminasi akibat jilbab dan niqab yang dipakai. Hamda Barkhad adalah satunya. “Orang-orang di jalanan dan di toko mengamatiku seolah aku orang Mars,”kata keturunan Ethiopia yang lahir di Somalia, Hamda, seperti dikutip Radio NZ mengatakan.
Selain itu di negara yang kerap dikenal sebagai salah satu negara yang ramah terhadap Muslim, peristiwa yang semestinya tidak terjadi, ternyata terjadi di sana. Apalagi peristiwa itu terjadi ketika umat Islam hendak menggelar shalat Jumat. Menurut keterangan kepolisian Selandia Baru, jumlah korban yang meninggal dalam peristiwa penembakan di Masjid Linwood dan Masjid Al Noor di Kota Christchurch, Selandia Baru itu sebanyak 50 orang.
“Korban meninggal bertambah menjadi 50 orang. Tadi malam kami berhasil membawa seluruh korban dari tempat kejadian,” kata Komisioner Kepolisian Selandia Baru, Mike Bush, seperti dilansir Reuters (17/3).
Selain itu, kata Mike, jumlah korban luka juga berjumlah 50 orang. Aparat kepolisian Selandia Baru lantas menangkap tiga lelaki dan satu perempuan, terkait kejadian itu dan empat pelaku itu sudah dibekuk.
Imam Masjid Linwood, Ibrahim Abdul Halim, menceritakan adegan mengerikan ketika shalat Jumat berlangsung, di mana tembakan terdengar di masjid. Semua orang berbaring di lantai dan beberapa wanita mulai menangis, beberapa orang langsung meninggal.
Meski begitu kecintaan komunitas Muslim terhadap Selandia Baru tidak akan terguncang oleh pembantaian itu. “Kami masih mencintai negara ini. Para ekstremis tidak akan pernah bisa mengusik kepercayaan kami. Kami bahagia. Mayoritas warga Selandia Baru sangat ingin mendukung kita semua, untuk bersolidaritas penuh,” ujarnya, dikutip AFP.
Teror yang terjadi di hari Jumat sekitar pukul 1.40 siang waktu setempat itu membuat geger dunia. Apalagi selama ini, Selandia Baru dikenal sebagai salah satu negara yang ramah terhadap Muslim. Menurut Tutut Wulansari, WNI yang pernah tinggal 15 bulan di Wellington ini, kehidupan Muslim di Selandia Baru sangat harmonis dengan etnis atau pemeluk agama lainnya.
“Di sana tidak rasis. Secara pribadi, selama di sana nyaman banget sebagai Muslim. Apalagi saya pakai jilbab,” cerita wanita yang biasa disapa Wulan ini kepada Dream, Jumat (15/3).
Bagi Wulan, kondisi kehidupan masyarakat Muslim di Wellington sangat damai. Termasuk saat menjalankan ajaran Islam di depan umum. “Bahkan kalau saya shalat di bus, orang-orang juga tidak ribut atau kalau lagi bepergian kemudian shalat di taman atau di lahan terbuka, nggak ada masalah,” lanjut wanita yang juga istri diplomat ini.
Kesan mendalam dirasakan wanita yang kini tinggal di Copenhagen, Denmark ini. Baginya masyarakat Selandia Baru sangat ramah dan sangat menghormati orang-orang yang berbeda etnis. Namun, peristiwa penembakan brutal yang menghilangkan puluhan nyawa umat Islam itu seolah menjadi sejarah dan hari paling kelam di Selandia Baru. “Ini (aksi teror) akan menjadi sejarah dan hari paling kelam di Selandia Baru,” ucap Wulan sedih. [Muhammad Khaerul Muttaqien]
























