Dalam lima tahun terakhir ini ketidakjujuran mewarnai kehidupan bangsa Indonesia. Berita-berita bohong (hoax) menjadi makanan keseharian rakyat Indonesia. Puncaknya kebohongan yang disampaikan oleh Ratna Sarumpaet, yang sangat kental beraroma politik. Padahal, kebohongan sebagaimana disebutkan dalam peribahasa Arab, Ra’su al-dhunubi al-kaḍhibu,adalah awal dari kejahatan dan dosa.
Karena itulah bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur. Mengapa? “Seorang pemimpin harus jujur dan dipercaya karena kepemimpinan ‘menggenggam bara’ kemungkinan berbohong, korupsi dan perilaku ketidakjujuran lainnya,” ujar Wakil Rektor 1 Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Dr Hamid Fahmy Zarkasyi MA Mphil.
Tak hanya itu, pemimpin juga harus adil. “Sikap jujur saja tidak cukup karena seorang pemimpin juga memerlukan kemampuan untuk bersikap adil dan amanah,” paparnya.
Untuk mengetahui apa keterkaitan pemimpin yang jujur dengan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya, wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, berkesempatan melakukan wawancara by email dengan putra ke – dari pendiri Pondok Modern Gontor, KH Imam Zarkasyi, yang sedang mengikuti konferensi internasional bertajuk International Union of Muslim Scholar di Grand Cevahir, Istanbul, Turki, 3-9 November 2018. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana Anda mengartikulasikan makna jujur dalam Islam?
Jika merujuk kepada sifat Nabi, maka jujur atau ṣiddīq itu artinya menyampaikan wahyu seperti yang diturunkan Allah, dan jika diartikulasikan dalam kehidupan kita sehari-hari adalah menyampaikan sesuatu kepada orang lain seperti apa adanya. Jujur hadir beriringan dengan sifat amanah, yang artinya bisa dipercaya, tidak pernah berbohong, tidak pernah curang atau memanipulasi.
Mengapa pemimpin harus bersikap jujur dan adil?
Jujur atau ṣiddīq lebih merupakan sikap mental atau akhlaq, maka dari itu kejujuran harus dilengkapi dengan sifat amanah (bisa dipercaya). Kedua sifat tersebut terbentuk berdasarkan pada tingkat keimanan seseorang. Sedangkan sikap adil harus berdasarkan pada ilmu karena berarti Anda harus meletakkan sesuatu pada tempatnya, menentukan sesuatu sesuai dengan proporsinya. Orang tidak akan dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya kalau tidak punya ilmu tentang sesuatu dan tempat. Adil bukan berarti berbagi secara merata, tapi proporsional. Seorang pemimpin harus jujur dan dipercaya karena kepemimpinan ‘menggenggam bara’ kemungkinan berbohong, korupsi dan perilaku ketidakjujuran lainnya. Pemimpin harus adil karena berhadapan dengan berbagai masalah yang memerlukan ilmu pengetahuan.
Apakah Anda setuju, pemimpin merupakan representasi dari kondisi rakyatnya seperti misalnya jika rakyatnya tukang minyak wangi, apakah lantas pemimpinnya pasti juga berasal dari kalangan tukang minyak wangi? Mohon penjelasannya?
Tidak begitu. Terbentuknya pemimpin itu ditentukan oleh kondisi masyarakat. Sabda Nabi atau athar ṣaḥābah menyatakan kaifa takūnu yuwalla ‘alaykum, artinya bagaimana keadaanmu, begitulah pemimpin yang memimpin kamu. Ini menunjukkan lingkaran setan (vicious circle) sistem pendidikan yang menghasilkan kualtias SDM suatu bangsa, termasuk kualitas pemimpinnya. Tapi kualitas pendidikan juga tergantung kualitas penyelenggara pendidikan itu. Pendidikan yang buruk akan menghasilkan kualitas pemimpin yang rendah, dan pemimpin yang rendah kualitasnya atau bodoh akan membuat kebijakan tentang pendidikan yang buruk. Begitu seterusnya.
Siapa saja tokoh atau ulama yang menekankan arti penting kejujuran seorang pemimpin dan apa yang mereka katakan?
Tidak perlu disebutkan banyak. Dari tokoh ulama ada Buya Hamka yang bersikap jujur dan adil dalam masalah Natal bersama. Demi kejujuran dan sikap adil dan berdasarkan ilmunya dia berani melepas jabatannya sebagai ketua MUI. Dia tidak mencari muka pada penguasa dan menjual agama untuk memenangkan ambisinya. Dia jujur.
Dari tokoh nasional Mohammad Hatta yang mengembalikan kelebihan uang kesehatan kepada negara yang menjadi haknya karena negara sedang tidak ada dana, meski ia berada dalam keadaan kekurangan. Sikap amanah dan adil Kasman Singodimedjo juga dapat dipahami dari penyataannya bahwa “Hidup itu berjuang, jika hidup kehilangan makna, maka hidup itu sia-sia”.
Apa sebab seseorang besikap jujur?
Kalau ukuranya adalah Islam, maka itu perwujudan dari iman kepada Allah. Karena yang bersangkutan yakin bahwa Allah akan melihat apa saja yang dia kerjakan. Bagi yang tidak beriman kepada Allah, bisa saja meyakini akan adanya hukum karma, barangsiapa tidak jujur akan mendapat balasan serupa dalam kehidupan. Tapi sikap jujur saja tidak cukup karena seorang pemimpin juga memerlukan kemampuan untuk bersikap adil dan amanah.
Kapan dan di mana kita harus bersikap jujur?
Tidak ada waktu dan tempat khusus untuk bersikap jujur sebab akhlaq dalam Islam adalah seluruh perilaku sepanjang kehidupan.
Di masyarakat timbul sikap antipati atau bahkan kecenderungan untuk tidak percaya terhadap pemerintah karena dinilai menyembunyikan kebenaran dan tidak jujur. Bagaimana cara kita merespon hal tersebut?
Masyarakat tidak bisa disalahkan. Jika pemerintah berkata bohong mereka akan menanggung protes dan ketidakpercayaan masyarakat. Umar ibn Khattab pernah ditegur oleh seorang nenek yang memanggil-manggil Umar untuk melaporkan keadaannya, tapi Umar menjawab “tidak ada waktu,” sambil terus mengendarai kudanya. Akhirnya nenek itu berteriak “kalau begitu Anda tidak ada waktu menjadi khalifah.” Mendengar teriakan nenek itu, Umar pun turun dari kudanya dan mendengarkan keluhan nenek tersebut. Begitulah mestinya seorang pemimpin.
Karena kewajiban pemerintah adalah untuk mendengar suara rakyatnya, dan berkata jujur kepada mereka, tidak menipu mereka serta bersikap amanah dalam memegang kepercayaan rakyatnya. Maka tidak salah jika rakyat bersikap antipati terhadap pemerintah yang berbohong, ingkar janji dan tidak amanah dalam memerintah rakyatnya.
Apa konsekuensi dari sikap berbohong dalam khazanah keislaman?
Tidak perlu ke khazanah Islam, kita rujuk langsung saja kepada sabda Nabi bahwa orang yang dibohongi oleh penguasa dan ikut dalam membenarkan kebohongan itu maka ia bukan dari golonganku, dan bagi yang tidak percaya kepada penguasa maka dia dari golonganku. Di sini kita dibolehkan menentang atau tidak membenarkan penguasa yang berbohong. Dalam tradisi Islam, pembohong tidak dapat dipercaya dalam meriwayatkan hadis dan tidak dipercaya ketika membawa berita apapun.
Malapetaka apa saja yang mungkin ditimbulkan oleh seorang pemimpin yang tidak jujur?
Ketidakjujuran pemimpin bisa berarti pemimpin yang mengatakan bersih dan jujur, tapi di balik itu ia menggelapkan uang rakyat atau mencari kekayaan dari jabatannya. Pemimpin tidak jujur, bisa berarti tidak mampu mengurus negara tapi memberi informasi kepada rakyat seakan-akan dia mampu. Pemimpin yang tidak jujur adalah pemimpin yang menampilkan dirinya seakan-akan dia shalih, ahli ibadah dan dicintai umat Islam, tapi keadaan sebenarnya adalah sebaliknya. Jika seorang pemimpin itu tidak jujur, maka dia tentu tidak amanah dan jika ia tidak amanah pasti ia tidak adil. Jika seorang pemimpin itu tidak amanah maka kepemimpinannya tidak akan membawa kepada kesejahteraan rakyat.
Mengapa orang tidak bisa berhenti berbohong?
Orang yang suka berbohong itu adalah tanda akan kelemahan dirinya. Orang bodoh berbohong agar dianggap pintar, orang miskin berbohong agar dianggap kaya, orang tidak kenal berislam akan berbohong agar dianggap alim, shalih. Itulah orang yang berbohong tentang agamanya (yukadhibu biddīn). Selama ia masih bermental lemah, bodoh dan miskin, ia tidak akan berhenti berbohong. Meskipun orang lemah, bodoh dan miskin tidak lantas harus selalu bermental lemah, bodoh dan miskin. Hal itu terjadi karena dalam Islam, ada orang yang ridha dengan kemiskinannya, yang bodoh tahu akan kebodohannya, yang lemah dalam berpikir atau bekerja mengakui kelemahannya.
Bagaimana cara menghentikan dan memotong rantai kebohongan?
Untuk menghentikan kebiasaan berbohong adalah dengan meningkatkan akhlaq. Tradisi hoax di dalam masyarakat kita sekarang ini disebabkan oleh rendahnya akhlaq, kurangnya kemauan dan kemampuan tabayyun baik secara personal maupun melalui media sosial dan teknologi informasi. Yang sulit diatasi di tengah masyarakat kita ini adalah kebohongan yang disampaikan oleh politisi, pejabat dan negara. Sebab rumus yang sudah ada seperti tradisi politisi/pejabat itu yang tidak boleh salah, tapi boleh berbohong. Berbeda dari ilmuwan yang boleh salah, tapi tidak boleh berbohong atau pengusaha boleh berbohong dan juga boleh salah sangat melekat di masyarakat.
Apakah mengungkapkan sebuah fakta keberhasilan sebuah rezim ke masyarakat luas secara bombastis bisa diartikan sebagai potret keberhasilan sebuah kepemimpinan?
Sudah tentu kalau mengungkapkan suatu fakta secara bombastis dan melebihi sesuatu yang sesungguhnya dicapai adalah suatu kebohongan. Informasi keberhasilan perlu disampaikan kepada rakyat apa adanya. Bahkan kalau mau jujur, kegagalannya juga harus disampaikan. Inilah sikap jujur dan adil.
Apakah Anda setuju dengan pernyataan “kalau Anda jujur, Anda tidak akan terpakai. Bahkan Anda akan sering dicemooh orang jika Anda bersikap jujur.” Mohon penjelasannya?
Ini adalah bahasa politik, dalam politik memang tidak semua yang diketahui disampaikan kepada khalayak, tidak semua fakta bisa disampaikan kepada masyarakat umum. Maka seorang politisi perlu keterampilan berdiplomasi, kemampuan menggunakan argumentasi yang kuat untuk menjelaskan sebuah fakta pribadi atau sosial. Tapi mereka harus tetap jujur dan tidak berbohong.
Apakah Anda setuju dengan “berbohong untuk kebaikan”? Mohon penjelasannya?
Dalam kehidupan sehari-hari ini boleh saja. Sayyidina Umar pernah berbohong kepada istrinya. Dia membawa oleh-oleh untuk istrinya yang katanya berasal dari rampasan perang. Padahal dalam perang itu umat Islam tidak memperoleh rampasan. Istriya juga tahu akan hal itu. Akhirnya istrinya menghadap kepada Rasulullah dan melaporkan kebohongan Umar. Tapi apa yang terjadi? Rasulullah tidak marah, dan hanya tersenyum saja. Namun, hal ini tidak bisa dibawa kepada masalah keumatan di mana kebohongan dapat merugikan banyak kepentingan masyarakat.
Memasuki masa kampanye calon anggota legislatif baik pusat maupun daerah, apa yang perlu mereka lakukan? Apakah mereka perlu berbohong agar mereka bisa terpilih? Bagaimana Anda menyikapi hal ini?
Kampanye para calon legislatif pusat maupun daerah tentang identitas diri, pencapaian diri, dan lain-lain yang tidak sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya adalah kebohongan yang tidak bisa dibenarkan. Ini yang merusak bangsa ini, sebab ketika mereka betul-betul menjadi anggota legislatif mereka tidak dapat memahami dan memperjuangan kepentingan rakyat. Mereka hanya makan uang rakyat dan tidak memperjuangkan nasib mereka.
Apakah seseorang masih bisa dipercaya saat mereka terbukti pernah melakukan kebohongan?
Seharusnya, tidak boleh lagi dipercaya. Koruptor mestinya tidak boleh lagi menjadi pejabat. Bohong dalam Islam adalah salah satu ayat kemunafikan dan bagi yang suka berbohong akan tidak segan-segan ingkar janji dan jika diberi amanah dia akan berkhianat. Sama dengan rangkaian maksiat, yang suka minum, akan lebih dekat kemungkinan untuk berzina dan yang suka berzina akan lebih mudah melakukan pembunuhan.
Apa tolok ukur keberhasilan sebuah kepemimpinan?
Pemimpin yang baik, pertama yang dapat memahami kondisi rakyat yang dipimpinnya, bukan yang minta dipahami; kedua adalah yang mampu merasakan penderitaan rakyatnya bukan yang menyengsarakan rakyatnya; ketiga yang mampu dan berhasil mengajak rakyatnya untuk bersama-sama menyelesaikan masalah yang dihadapi bukan yang membuat kebijakan yang tidak disukai rakyatnya; keempat dan yang terpenting adalah pemimpin yang berhasil menghasilkan pemimpin yang lebih baik dari atau sama dengan dirinya.
Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada masyarakat terkait sikap jujur?
Kepada masyarakat, khususnya umat Islam, saya pesankan agar bersikap jujur dalam segala sesuatu. Dalam al-Qur’an diingatkan bahwa berkata benar dan jujur tentang kebaikan akan mengakibatkan kemudahan (faammā man a’ṭhā wattaqqā wa ṣaddaqa bil husnā fasanuyassiruhū lil yusrā). Dalam pepatah Arab disebutkan al-Ṣarāḥah rāhah yang berarti kejujuran dalam perkataan adalah kelapangan hati, artinya jika Anda berkata jujur maka hal itu dapat membebaskan diri dari tekanan mental.n






















