London, Gontornews — Dua organisasi Muslim termasuk di antara kelompok-kelompok agama di Inggris yang meluruskan kesalahan informasi terkait virus corona di WhatsApp.
Pesan yang menyebarkan berita palsu (hoax) tentang virus berkembang di aplikasi media social itu. Mirip dengan surat berantai, sharing informasi memungkinkan satu pesan dengan cepat menjangkau jutaan orang.
Sebagai upaya untuk melawan tren tersebut, Dewan Muslim Inggris (MCB) dan British Islamic Medical Association (BIMA) bekerjasama untuk memerangi kesalahan informasi itu.
Dr Wajid Akhter, asisten sekretaris jenderal MCB dan wakil presiden BIMA, mengatakan tahun lalu “telah terjadi perang informasi”.
“Orang-orang berbagi kekhawatiran yang mereka miliki. Ada informasi salah, yang disengaja, bergulir di aplikasi WhatsApp. WhatsApp merupakan gurun media sosial tanpa hukum yang sangat spesifik. Orang-orang cukup mengoceh selama 60 detik di depan kamera lalu menyebarkannya melalui WhatsApp, dan kebohongan akan menyebar ke separuh dunia, jadi kami tidak akan menunggu,” ujar Akhter dikutip Arabnews.com.
Dia menambahkan bahwa reputasi MCB di antara komunitas Muslim Inggris menjadi alasan penting untuk keberhasilan kampanye tersebut.
“Sifat manusia lebih cenderung mendengarkan teman atau koleganya,” katanya. “Kami benar-benar orang yang berdoa di samping mereka di masjid. Kami saudara atau teman.”
Kantor Statistik Nasional Inggris menyebutkan bahwa masyarakat dari kelompok minoritas di Inggris lebih ragu menerima vaksin virus corona dibandingkan dengan orang dewasa kulit putih.
WhatsApp telah mengambil langkah-langkah untuk melawan misinformasi di platformnya, termasuk membatasi seberapa banyak satu pesan dapat diteruskan.
Seorang juru bicara platform tersebut mengatakan bahwa penerusan (sharing) “dapat berkontribusi pada penyebaran informasi yang salah.”
Ia menambahkan, “Kami percaya, penting untuk memperlambat penyebaran pesan-pesan ini agar WhatsApp tetap menjadi tempat untuk percakapan pribadi.” []





















