Oleh Dr Hidayat Nurwahid
Sebagai negara yang merdeka, Indonesia memiliki sejarah yang begitu panjang dan tidak terlepas dari peran para tokoh dalam menghadirkan kemerdekaan tersebut. Khususnya tokoh-tokoh yang tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Dikenal dengan nama Panitia 9, BPUPKI terdiri dari empat tokoh Islam: dua dari organisasi Islam yaitu Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim dari NU dan Abdoel Kahar Moezakir dari Muhammadiyah. Dua tokoh Islam lainnya berasal dari Partai Islam yaitu Abikoesno Tjokrosoejoso dan H Agus Salim.
Selain itu juga ada dari tokoh bangsa yang berjumlah empat orang yaitu Ir Soekarno, Drs Mohammad Hatta, Mr Mohammad Yamin dan Mr Achmad Soebardjo. Sementara satu tokoh berasal dari non-Muslim yaitu Mr Alexander Andries Maramis.
Kesembilan tokoh tersebutlah yang kemudian berhasil menghadirkan Piagam Jakarta yang merupakam cikal bakal Kemerdekaan Indonesia hingga saat ini, yang dirumuskan pada tanggal 22 Juni 1945.
Dalam merumuskan Piagam Jakarta tersebut, peran tokoh Islam sangat berpengaruh. Hal itu terlihat dari isi Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea ketiga yang berbunyi “Atas Berkat Rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Jika dikaji lebih dalam setiap makna yang terkandung dalam isi UUD 1945 tersebut sangat membuktikan bahwa Kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh Islam yang sangat hebat.
Ungkapan dalam isi pembukaan UUD 1945 tersebut sangat dalam. Hal itu juga merupakan pengaruh dari tokoh umat Islam di dalam mempersiapkan Indonesia yang merdeka di dalam berinteraksi dengan tokoh bangsa yang beragam tersebut.
Sebagai negara yang mendeklarasikan kemerdekaannya pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945, yaitu bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriyah, tentu bukanlah hal yang kebetulan saja, para tokoh bangsa berkumpul dan berdialog untuk mempersiapkan kemerdekaan bangsa ini.
Jatuh tepat pada awal Ramadhan yang artinya adalah Rahmat, maka dalam pembukaan UUD 1945 dituliskan “Atas Berkat Rahmat Allah Yang Mahakuasa” dan dengan niat yang luhur untuk menghadirkan Indonesia yang merdeka.
Selain itu isi pembukaan UUD 1945 pada alinea ketiga juga menggambarkan bahwa tokoh-tokoh yang memikirkan kemerdekaan Indonesia tersebut merupakan tipe negarawan yang islami.
Melalui sejarah ini juga telah dicontohkan bahwa para negarawan yang Muslim bisa bersama-sama dengan tokoh lainnya dalam menghadirkan usulan yang luar biasa kuat dan dapat diikuti oleh semua kalangan, sekalipun mereka bukan dari kalangan Muslim. Oleh karena kalimat-kalimatnya memiliki nilai unggul yang luar biasa dan memberikan makna mendalam tentang Indonesia kita.
Kekayaan yang dimiliki Indonesia, yang menjadi alasan para menjajah Indonesia sangatlah besar. Bahkan sampai pada kemerdekaan, mereka bangsa penjajah tidak ridha dengan kemerdekaan tersebut.
Maka pascakemerdekaan Indonesia itu, Belanda dengan membonceng sekutu kembali ingin menguasai Indonesia melalui Surabaya. Namun hal itu tidak dibiarkan, maka kembali muncul tokoh muda dengan semangat membara dan teriakan Allahuakbar membakar semangat kalangan muda Indonesia untuk bertempur melawan Belanda dan sekutu.
Sebelumnya, KH Hasyim Asy’ari dari NU mengunpulkan para ulama di seluruh Madura dan Jawa Timur untuk berkumpul dalam rangka melawan penjajah Belanda. Sampai pada dikeluarkannya fatwa jihad demi menjaga kemerdekaan Indonesia dari kembalinya penjajah.
Maka munculah Resolusi Jihad yang merupakan penyebab pertempuran 10 November. Di antara fatwa yang dikeluarkan adalah kewajiban bagi seluruh masyarakat yang berada di Suraba dan sekitarnya untuk melawan Belanda sebab kembalinya Belanda akan kembali menjajah Indonesia, sementara Indonesia telah merdeka.
Isi fatwa selanjutnya adalah bagi mereka yang wafat di medan perang dalam rangka berperang melawan Belanda maka baginya adalah mati syahid dan syuhada.
Demikianlah Islam berperan dalam mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia hingga hari ini. Oleh karena itu, kemerdekaan Indonesia bukanlah kemerdekaan yang komunis atau liberalis namun kemerdekaan yang islamis. n






















