Dalam kalender akademik pendidikan tinggi di Australia, bulan Februari merupakan awal dimulainya tahun ajaran baru. Di waktu inilah kegiatan pengenalan kampus dilaksanakan. Mulai dari orientation week hingga kegiatan-kegiatan lain yang diselenggarakan oleh faculty, school, ataupun Student Union (semacam Dewan Mahasiswa/DEMA). Ragam acara dan dinamikanya agak mirip dengan kegiatan pekan perkenalan dan Khutbatu-l-βArsy di Gontor atau Ospek di UNIDA Gontor. Ada kegiatan orientasi akademik, pengenalan administrasi universitas, sosialisasi core values organisasi, pengenalan kehidupan kampus, dan kegiatan kemahasiswaan lainnya.
University of Sydney Student Union (USU), sebagai DEMA-nya University of Sydney, memiliki peran yang sangat besar dalam kegiatan kemahasiswaan. Persis seperti OPPM di Gontor atau DEMA di UNIDA Gontor, USU merupakan jantung dari dinamika kehidupan mahasiswa. Pihak kampus dalam hal ini juga memberikan support yang sangat besar kepada USU untuk ikut memberikan warna dalam proses pendidikan khususnya dalam membangun dinamika kehudupan kampus. Maka tidak heran jika kampus tertua di Australia yang selalu masuk deretan Worldβs Top 50 Universities (versi QS University Ranking) ini menyediakan sarana dan prasarana khusus untuk Student Union-nya. Termasuk berbagai macam program penting kampus yang pengelolaannya diserahkan kepada USU.

Pekan ini (pekan ke tiga di bulan Februari), kebetulan merupakan awal tahun ajaran baru di University of Sydney. Kampus yang sebelumnya agak sepi karena libur panjang musim panas dan hanya menyisakan research student saja, berubah menjadi sangat ramai dan penuh warna. USU memulai geliat kampus dengan mengadakan program USU Welcome Fest. Acara ini diadakan setiap awal semester untuk menyambut mahasiswa baru dan menyegarkan kembali spirit mahasiswa lama. Acara yang dilaksanakan selama empat hari ini diawali dengan Welcome to Sydney Party, semacam tasyakuran penyambutan mahasiswa baru. Tasyakuran yang dilaksanakan pada malam hari di Manning Bar (music venue yang dikelola USU) ini menampilkan pertunjukan musik, tari, anjangsana, dan disediakan juga makan gratis. Program serupa juga sering dilakukan DEMA UNIDA Gontor dengan nuansa yang lebih islami tentunya.
Keesokan harinya, selama tiga hari berturut-turut, Welcome Fest membuka expo untuk seluruh clubs and societies, semacam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), yang jumlahnya lebih dari 240 organisasi (list lengkapnya bisa dilihat di link ini https://www.usu.edu.au/clubs-societies/list.aspx). Berbagai macam minat dan hobi dari olahraga, musik, tari, game, kaligrafi, fotografi, hingga hobi makan coklat pun ada UKM-nya. University of Sydney yang masuk dalam deretan 10 kampus terindah di dunia menurut the Daily Telegraph dan the Huffington Post ini memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk membuat UKM. Sehingga, jenis dan macamnya pun sangat beraneka ragam. Jumlah UKM yang sangat banyak itu diproyeksikan mampu mengakomodasi minat dan bakat mahasiswa yang jumlahnya mencapai 60.000 orang lebih. Dengan demikian, terbentuk dinamika kehidupan kampus yang turut mewarnai proses pendidikan yang dilaksanakan.
Selama perhelatan Welcome Fest, tiap UKM mendisplay program-programnya, prestasi yang diraih, dan membuka pendaftaran untuk anggota baru di booth-nya masing-masing. Berbagai macam kegiatan seperti game, challenges, dan program menarik lainnya juga diadakan. Mereka seperti sedang bersolek untuk menarik perhatian mahasiswa baru agar mau bergabung dan menjadi bagian dari UKM-nya. Acara semacam ini sangat bermanfaat untuk mahasiswa baru dalam mengenal lebih dalam tentang kehidupan kampus khususnya kegiatan ekstrakurikuler yang akan dijalani dan untuk bersosialisasi dengan mahasiswa yang lain. Lebih dari itu, berbagai kegiatan tersebut juga memberikan andil yang sangat besar terhadap pembentukan karakter mahasiswa dan peningkatan softskill-nya.
Melihat dari dekat bagaimana Student Union di University of Sydney menyambut mahasiswa baru dan mengorganisasi berbagai kegiatan ekstrakurikuler, kami teringat dengan bagaimana DEMA UNIDA Gontor melakukan kegiatan yang sama. Apa yang dilakukan oleh DEMA-nya salah satu kampus paling bergengsi di Australia ini serupa dengan apa yang dilakukan oleh DEMA UNIDA Gontor. Dari sisi kuantitas, UKM dan mahasiswa di UNIDA Gontor memang tidak sebanyak di University of Sydney. Namun dari sisi kualitas, apa yang terdapat di UNIDA Gontor tidak kalah dan mungkin lebih bernilai dari yang ada di Sydney. Hal ini bukan pepesan kosong karena yang dilakukan DEMA atau student union-nya UNIDA Gontor sebenarnya jauh lebih kompleks dan strategis. Mereka tidak hanya mengorganisasi kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa di waktu pagi hingga sore saja, melainkan sepanjang waktu selama mahasiswa tinggal di kampus. Full boarding system yang diterapkan UNIDA Gontor memang meniscayakan hal ini. Di situlah sebenarnya letak keunikan sistem pendidikan perguruan tinggi pesantren. Dengan demikian, terlepas dari perbedaan kuantitas dan karakteristik program, terdapat kemiripan antara dua universitas ini dalam hal penyambutan mahasiswa barunya.[]


















