Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah SWT dengan takut yang sebenarnya yaitu para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui, dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah SWT lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 6: 308).
Para ulama berkata, “Siapa yang paling mengenal Allah SWT, dialah yang paling takut pada Allah SWT.” Khoirul Fata, dosen dan alumnus al-Azhar University Cairo, Mesir, mengutarakan, “Dalam nash al-Qur’an dan as-Sunnah sudah jelas bahwa tujuan hidup umat Islam pada hakikatnya adalah menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya.” Sedangkan sumber pengetahuan terkait perintah dan larangan tersebut tidak mungkin diperoleh kecuali dengan mempelajarinya. “Maka, hukum mempelajari ilmu agama fardhu ‘ain,” ujar Dosen Universitas Islam Darussalam (UNIDA) Gontor itu kepada Majalah Gontor.
“Barangsiapa yang Allah SWT kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah SWT akan memahamkan dia tentang agama.” (HR Bukhari No. 71 dan Muslim No. 1037).
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam Kitabul ‘Ilmi, hlm. 21 menerangkan, arti kata faqih dalam hadis bukanlah hanya mengetahui hukum syar’i, tetapi lebih dari itu. Seseorang bisa dikatakan faqih, jika ia memahami tauhid dan pokok Islam, serta yang berkaitan dengan syariat Allah SWT. Dituliskan dalam kitab tersebut, seandainya tidak ada dalil dari al-Qur’an maupun As-Sunnah tentang keutamaan ilmu kecuali hadis ini saja, niscaya sudah mencukupi dalam memberikan motivasi agar menuntut ilmu syar’i dan memahaminya.
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di juga ikut menjelaskan, “Ilmu yang bermanfaat merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda bahwa Allah Ta’ala menghendaki kebaikan untuknya.”
Dan sebaliknya, barangsiapa yang berpaling dari mempelajari ilmu agama, maka berarti Allah Ta’ala tidak menghendaki kebaikan untuknya. Karena dia terhalang dari melakukan sebab-sebab yang dapat mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan.
Kepada Majalah Gontor, Dr Ulya Fikriyati Lc MAg menambahkan, “Belajar ilmu agama itu wajib bagi setiap umat Muslim.” Meski demikian, ilmu nonagama pun juga penting. Sebab, sejatinya Islam tidak pernah mendikotomisasi ilmu menjadi ilmu agama atau nonagama. “Islam mengajarkan integrasi ilmu dan iman,” jawab dosen Institut Ilmu Keagamaan Annuqayah (INSTIKA), Sumenep, Madura, itu.
Di dalam al-Qur’an, kata ilmu dan seluruh derivasinya disebut sebanyak 856 kali. Artinya Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap ilmu. Baik ilmu agama maupun ilmu nonagama.
Tujuan ilmu, baik itu agama maupun nonagama, mengimani adanya Tuhan Yang Maha Esa, Sang Maha Pencipta. “Iman kepada Tuhan selanjutnya harus dimanifestasikan dalam bentuk kebaikan kepada semua makhluk dan alam,” ulas wisudawan terbaik program doktor UIN Sunan Ampel Surabaya tahun 2018 itu.
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintakan ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, termasuk ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” (HR Abu Daud No. 3641. Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini shahih).
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan, barangsiapa yang berjalan untuk menghadiri majelis ilmu, maka dia setara dengan kedudukan mujahid fii sabiilillah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi masjidku ini, tidaklah ia mendatanginya kecuali untuk kebaikan yang akan dipelajarinya atau diajarkannya, maka dia setara dengan kedudukan mujahid fii sabiilillah.” (HR Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah No. 227).
Keutamaan ilmu
Dikutip muslim.or.id, di antara faktor pendorong agar seseorang bersemangat mempelajari sesuatu yaitu pengetahuannya bahwa sesuatu tersebut memiliki banyak keutamaan. Semakin banyak keutamaan yang akan didapatkan, maka semakin besar pula semangat untuk mempelajarinya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang manusia mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim No. 1631).
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafidzahullah berkata, ”Jiwa itu mempunyai sifat tertarik untuk mendengar dan mengetahui keutamaan sesuatu.” Karena terkadang dia menyangka bahwa keutamaan dari sesuatu itu hanya satu dan tidak berbilang.
Ketika keutamaannya banyak, maka akan semakin banyak pula sisi ketertarikannya terhadap sesuatu tersebut. “Jiwa akan perhatian kepadanya, bersemangat mendapatkannya, dan menjelaskan kepada manusia tentang keutamaan yang akan mereka dapatkan kalau memegang teguh tauhid ini,” jelas Syaikh Shalih.
Ilmu agama Islam jelas akan sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia selama hidup di dunia. Karena ilmu itu bukan datang dari manusia melainkan wahyu Allah SWT yang diturunkan lewat perantaraan Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW.
Keutamaan demi keutamaan mempelajarinya telah dibuktikan oleh para pecinta ilmu Ilahiy dan orang-orang yang mengamalkannya. Seperti anjuran menjaga amanah, bertanggung jawab, menjalankan hak dan kewajiban dalam bermasyarakat, memperhatikan kebersihan, dan masih banyak lagi. Semuanya sudah disampaikan dalam risalah Islam secara lengkap sebagaimana tertulis di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Akan tetapi, sambung Dr Ulya, perlu diingat bahwa belajar ilmu agama tidak harus dilakukan melalui lembaga formal sekolah saja. Sebab ilmu agama juga bisa diperoleh di keseharian manusia dengan banyak mentadabburi kesempurnaan ciptaan Allah SWT dan belajar dari para ulama di sekitar kita.
Khoirul Fata, alumnus Gontor Putra tahun 2004, menambahkan, belajar ilmu agama di pondok pesantren akan jauh lebih maksimal. Alasannya karena ajaran agama bukan sekedar teori yang bisa ditelaah melalui bacaan atau pengajaran saja. “Ajaran agama juga tecermin melalui cara berpikir, perilaku, dan moral,” tegas dosen Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah, itu. Ketiga hal tersebut akan sangat mudah ditemukan dalam kehidupan para santri di pesantren. “Sebab pola kehidupan di sana tersistem sebagai pengejawantahan dari ajaran agama Islam,” terang pria kelahiran 10 Oktober 1984 itu.
Senada dengan pendapat Fata, Dr Ulya pun mengamini bahwa belajar agama di pesantren jauh lebih maksimal hasilnya. Karena pesantren tidak hanya mengajarkan materi dalam kurikulum saja. “Pesantren juga mengajarkan nilai-nilai yang tersembunyi di berbagai kegiatan sehari-hari,” pungkasnya.[]






















