Jakarta, Gontornews–Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan 148,4 juta penduduk terpapar bahaya gempa bumi dan 3,8 juta penduduk terpapar bahaya tsunami. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya mitigasi bencana.
Sutopo mengatakan mitigasi bencana, khususnya tsunami, perlu dilakuakn karena ketersediaan waktu untuk menyelamatkan diri sangat sempit. Ia menyebutkan golden time atau ketersediaan waktu untuk menyelamatkan diri bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan tsunami sejak gelombang datang hanya kurang dari satu jam.
Mitigasi ini untuk menyiapkan warga menghadapi bencana. Ia mengatakan, pada akhirnya bencana akan menimbulkan korban jiwa. Namun, kerusakan dan korban jiwa dapat diminimalisir kalau warga dalam kondisi siap.
“Menyiapkan menghadapi bencana yang nanti akan datang. Kapan? Ya kita tidak tahu. Kan tidak bisa diprediksi, tetapi Kita harus siap,“ tutur dia.
Mitigasi tersebut baik berupa mitigasi struktural yang terkait dengan alat-alat maupun dalam menyiapkan masyarakat yang siap menghadapi bencana. Namun, Sutopo mengakui ada kendala dalam melakukan mitigasi bencana, yakni anggaran dari pemerintah yang terus mengalami penurunan.
Dulu, ia menyebutkan, anggaran untuk mitigasi bencana pernah mencapai hampir Rp 2 triliun. Saat ini, hanya Rp 700 miliar. Menurut Sutopo, dengan anggaran yang semakin kecil setiap tahunnya, kemampuan Indonesia dalam memitigasi bencana pun ikut berkurang.
“Soal anggaran ini kita akan bicarakan bersama dengan DPR. Persetujuan tentang anggaran melalui DPR dan pemerintah. Kalau BNPB sudah mengajukan jauh-jauh hari. Namun dalam praktiknya setiap tanun justru mengalami penurunan,” kata Sutopo.
Selain soal dana, persoalan lainnya, yakni minim riset. Sejak 1629 hingga 2018, Sutopo mengatakan, setidaknya telah terjadi 176 kali tsunami besar maupun kecil.
Sejarah gempa dangkal yang membangkitkan tsunami menujukkan kawasan Timur Indonesia lebih rawan tsunami. “Namun masih minim riset, sarpras tsunami, sosialisasi, dan mitigasi tsunami, baik struktural ataupun nonstruktural,” kata Sutopo.






















