Jakarta, Gontornews — Dalam sebulan, bisa sampai 25 kontainer rotan dikirim ke mancanegara. Keuntungan dari penjualan disalurkan untuk pengembangan Pondok Tahfidz Al-Qur’an Bina Madani yang ada di Ciawi dan Magelang. Bagaimana kisahnya?
Jauh hari sebelum terbersit mendirikan sebuah lembaga pendidikan pesantren Tahfidz Al-Qur’an Bina Madani, KH Masrur Syamhari mendapatkan amanah menjadi salah satu pengurus di sebuah organisasi internasional bernama Hai’atul Ighotsah Islamiyah ‘Alamiyah dari tahun 1992 hingga 1997.
Kemudian tahun 1997 ia mendapatkan amanah sebagai Supervisor di Rabithah Alam Islami hingga tahun 1999. Selama di dua organisasi ini, ia banyak bertugas mengenalkan tahfidz Al-Qur’an ke masyarakat yang saat itu masih belum santer gaungnya di negeri ini.
“Saat itu saya banyak berkenalan dari para donatur, masyayikh dari Arab Saudi. Saya diberi tugas baru bagi saya, yaitu mengenalkan tahfidh al-Qur’an,” kisahnya kepada Majalah Gontor beberapa waktu lalu.
Tahun 2001, Kiai Masrur mendapatkan tawaran menjadi Ketua Yayasan Al-Kahfi. Di situ ia dirikan SDIT Al-Kahfi di bilangan Kramatjati Jakarta Timur. “Akhirnya ketika membangun gedungnya tiga lantai, saya berandai bisa membebaskan lahan, tapi permintaannya tinggi akhirnya sulit,” jelasnya.
Untuk pengembangan al-Kahfi selanjutnya, ia pun membuat Lembaga baru Bernama Kafila International Islamic School yang tak jauh dari lokasi SDIT Al-Kahfi. “Sebagai pendiri saya dirikan sekolah itu untuk membuat agar anak anak yang tidak mampu bisa sekolah disitu,” terangnya.
Saat itu, tercetus ide untuk mengambil anak-anak terlantar untuk dididik. Kiai Masrur melakukan survei ke salah satu alumni Gontor Ustadz Abdul Ghofar yang mengajar anak anak di bawah jembatan Kalijodo. “Akhirnya saya survey ke lokasi dengan menyamar, karena mereka takut, saat ramai-ramainya digusur kalau ada orang baru dicurigai,” jelasnya.
Akhirnya Kiai Masrur mengambil tiga anak dari Indonesia timur untuk disekolahkan di Kafila. Mereka dari NTT, dan Makassar. Tidak mudah mendidikan anak-anak jalanan yang sudah punya kebiasaan bebas.
Tahun 2003, akhirnya keinginan untuk mendirikan pesantren tahfidz bernama Bina Madani mulai terwujud. Di atas lahan 5000 meter persegi, Kiai Masrur mulai mendidik anak-anak dari Indonesia Timur secara gratis, yang saat itu mereka sembari kuliah di UNIDA Bogor.
“Mereka para santri ini belajar menghafal al-Quran gratis saat itu, karenanya kami harus mencari sumber dana untuk menutupi operasional pondok ini,” ungkapnya.
Untuk itu, Kiai Masrur mencari usaha bisnis salah satunya adalah usaha properti di daerah Kota Gede. Ia bangun cluster perumahan lalu ia jual. Bisnis properti ini ia lanjutkan di Cirebon, skalanya lebih besar lagi yaitu dengan lahan 4 hektar untuk dibangun perumahan.
Tahun 2006 ia juga dirikan percetakan dan penerbitan bernama Griya Ilmu. Buku-buku yang ia cetak adalah sebagian besar buku-buku dari Saudi Arabia terkait dengan pengobatan Nabi. “Percetakan ini keuntungannya juga untuk menopang pesantren saat itu,” ungkapnya.
Kiai Masrur juga memiliki usaha money changer dan perusahaan jasa layanan haji dan umrah bernama Terminal Haji Tours and Travel. Semua bisnisnya ini guna mendukung keberlangsungan pesantren yang ia rintis.
Begitu juga Kiai Masrur mengembangkan usaha di bidang furniture di Cirebon dengan bendera PT Indigo Mandiri Sejahtera. Perusahaan yang fokus membuat furniture, tempat tidur, meja, bangku dan sofa yang terbuat dari rotan baik yang orisinil asli maupun sintetik dari plastic kualitas ekspor.
Kiai Masrur mengatakan perusahaannya ini berorientasi bisnis untuk ekspor ke mancanegara diantaranya Australia, Amerika, Eropa, untuk Eropa ada Jerman, Belanda dan Belgia. Selain itu juga pasar di Malaysia, Singapura, Thailand dan hampir seluruh dunia.
Perusahaan ini sangat berbeda dengan perusahaan-perusahaan lain yang hanya profit oriented, karena setiap keuntungan perusahaan ini untuk pengembangan Pesantren Tahfidz Al-Quran Bina Madani yang ada di Ciawi dan Magelang yang berjumlah santrinya sebanyak 800 orang.
Saat ini, perusahaan yang ia bangun telah memperkerjakan warga sekitar 350 orang, hal ini bisa sedikit mengurangi pengangguran di wilayah Cirebon. Dalam sebulan, sebanyak 25 kontainer bisa mengirim kerajinan rotan ke luar negeri.
“Istilahnya, tiada hari tanpa bangun, kita harus menyiapkan untuk pengembangan pesantren Bina Madani,” ujarnya.
Di antara inspirasi mengapa Kiai Masrur mendirikan pesantren adalah bahwa anak yang menghafal al-Qur’an, rata-rata memiliki prestasi di sekolah. Salah satu contoh ia pernah melihat pesantren di Cirebon, di mana anak-anak yang punya program hafalan al-Qur’an ketika di sekolah luar memiliki prestasi bagus.
Yang menginspirasi lagi, tambah Kiai Masrur soal pembiayaan. Di mana saat itu, orangtua yang akan memasukan anaknya untuk hafalan al-Quran berfikir dua kali lipat, mau kemana setelah hafal al-Qur’an. “Peminatnya saat itu kecil, justru peminatnya dari anak gunung, tapi mereka ekonominya lemah,” ujarnya.
Dari situlah, Kiai Masrur mendirikan pesantren Bina Madani untuk anak yang orangtuanya tidak mampu secara ekonomi. Awalnya tidak sampai 10 anak yang digratiskan. “Makanya sebelum pondok, saya mendirikan usaha, agar kita tidak minta-minta ke orang,” tegasnya.
Minat masyarakat yang mulai banyak mengarahkan anaknya di pesantren tahfidz, akhirnya yang awalnya gratis untuk para santri polanya diubah yaitu dengan sistem berinfaq. Jumlah infaq diambil rata-rata kebutuhan anak selama sebulan di pesantren. “Misalnya 1.5 juta, maka orangtua berinfaq 1.5 juta per bulan,” ujarnya.
Kiai Masrur mengatakan, seluruh bisnis yang ia kelola untuk diserahkan menjadi milik Allah. Segala yang kita miliki akan habis, tapi milik Allah abadi. “Sekarang ada yang kekal dan tidak kekal, bagaimana menjadikanya kekal, maka jadikalanlah yang tidak kekal ini masuk ke pemilik kekekalan, melalui wakaf, infak sedekah maka itu akan menjadi milik Allah. Kalau ingin kekal jadikan itu milik Allah,” tuturnya.
Di awal awal berdiri, ia mendeklarasikan pendidikan di Bina Madani gratis, tapi kalau sekarang ruhnya gratis. Sebab dalam perjalanan waktu orang mulai sadar, bahwa al-Qur’an harus dipelajari. Dan pondok tahfidz kian banyak.
“Maka sekarang yang nyantri orangtuanya ada yang mampu, maka kalau kita gratiskan kurang mendidik. Polanya sekarang kami ubah dengan cara berinfak Bersama,” jelasnya.
Saat ini, Pesantren Hafidz Bina Madani telah berhasil mewisuda yang ketujuh dan wisuda sanad yang keempat di Bina Madani Putri Magelang pada akhir tahun 2021. “Pesantren tahfidz di Indonesia saat ini beredar dimana-mana, pada awal tahun 2000 an kita tidak menyaksikan situasi yang seperti ini. Indonesia saat ini mencapai puncak keemasaanya ketika anak-anak umat belajar Al-Qur’an dengan cara yang benar,” kata Kiai Masrur.
Menurut Kiai Masrur, kondisi umat di Indonesia yang memiliki banyak generasi muda penghafal al-Qur’an harus disyukuri dengan cara memaksimalkan potensi para lulusan pesantren tahfidz yang telah
“Dengan adanya para penghafal Qur’an (huffadz) kita ingin melakukan perubahan di negeri ini dari sebuah sistem yang kita sekarang ini berada di dalamnya. Jadi apapun profesi nantinya jangan sampai materi jadi tujuannya, mereka harus melakukan perubahan dengan akhlaq yang baik,” katanya.
Landasan pesantren ini mewajibkan para santri belajar menghafal al-Qur’an dan akhlaq al-Qur’an karena Kiai Masrur meyakini dengan al-Qur’an kita bisa selamat dunia akhirat, karena di dalamnya ada pedoman, ada rahmat Allah, ada kabar gembira yang dijanjikan oleh Allah SWT.
Kiai Masrur yang juga lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor menegaskan bahwa yang paling nomor satu diperhatikan oleh generasi masa kini adalah akhlaq. “Anak-anak yang telah hafal Qur’an jangan sampai akhlaqnya sama dengan mereka yang tidak belajar Qur’an,” tegas Kiai Masrur. [Fathur]





















