pesanan-majalah-edisi-khusus
26 °c
Pecenongan
Thu
Fri
Thursday, 13 August, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Inpirasi Jejak

KH Abdul Wahid Hasyim, Menteri Agama di Tiga Kabinet

Fathur Roji by Fathur Roji
31 March 2022
in Jejak
0
KH Abdul Wahid Hasyim, Menteri Agama di Tiga Kabinet

Jakarta, Gontornews — KH Abdul Wahid Hasyim merupakan putra pasangan KH Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas. Ia lahir di Jombang, Jawa Timur pada Jumat 1 Juni 1914. Saat kelahirannya, di rumahnya sedang ramai pengajian.

Kiai Wahid Hasyim adalah satu dari sepuluh keturunan langsung KH Hasyim Asy’ari. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari Kerajaan Demak.

Sedangkan dari pihak ibu, silsilah itu berawal dari Sultan Brawijaya V yang menjadi salah satu raja Kerajaan Mataram. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan sebutan Lembu Peteng.

Kesepuluh anak Kiai Hasyim Asy’ari itu adalah Hannah, Khairiyah, Aisyah, Izzah, Abdul Wahid Hasyim, Abdul Khaliq, Abdul Karim, Ubaidillah, Masrurah, dan Muhammad Yusuf. Sementara dengan Nyai Masrurah, KH Hasyim Asy’ari dikaruniai empat anak yakni Abdul Kadir, Fatimah, Khodijah, dan Ya’kub.

BACA JUGA

KH Ahmad Sahal, Sosok Pendidik yang Sederhana

KH Ali Maksum: Mencerdaskan Bangsa Melalui Pesantren Krapyak

KH Bisri Syansuri, Perintis Pesantren Putri di Indonesia

Ahli Tafsir Alumni Gontor, Prof Roem Rowi Wafat, Ini Kiprah Semasa Hidupnya!

Machmud Singgirei Rumagesan Pahlawan Muslim dari Tanah Papua

Pada usia 12 tahun, selesai dari madrasah, ia membantu ayahnya mengajar. Sebagai anak tokoh terkemuka, Kiai Wahid Hasyim tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda.

Kiai Wahid Hasyim banyak belajar otodidak, mempelajari kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. Ia mendalami syair-syair berbahasa Arab dan hafal di luar kepala serta menguasai maknanya dengan baik.

Usia 13 tahun, ia dikirim ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Ternyata di sana ia hanya bertahan sebulan. Dari Siwalan, beliau pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri.

Di pesantren ini ia mondok dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari. Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan KH Wahid Hasyim hanyalah keberkahan dari sang guru.

Sepulang dari Lirboyo, ia tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Selama berada di rumah semangat belajarnya tidak pernah padam, terutama belajar secara otodidak.

Usia 15 tahun, ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris serta Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri.

Dalam masa pengembangan pesantren pada tahun 1916, Kiai Ma’sum, menantu Kiai Hasyim Asy’ari, dengan dukungan Kiai Wahid Hasyim, mulai memasukkan sistem madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren.

Pembaruan pendidikan Pesantren Tebuireng yang dilakukan Kiai Hasyim Asy’ari, berikut murid dan putranya, bukan tanpa halangan. Pembaruan pendidikan yang digagasnya menimbulkan reaksi cukup hebat dari masyarakat dan kalangan pesantren, sehingga banyak juga orangtua santri memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain, karena dengan pembaruan tersebut Pesantren Tebuireng dipandang sudah terlalu modern. Reaksi itu tidak menyurutkan proses pembaruan Pesantren Tebuireng.

Hal tersebut terus berlangsung dan dilanjutkan oleh Kiai Wahid Hasyim dengan mendirikan madrasah modern di lingkungan pesantren.

Pada tahun 1932, usia 18 tahun, ia dikirim ke Makkah selama dua tahun, di samping untuk menunaikan rukun Islam kelima yakni berhaji, ia juga ingin mendalami berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ke Makkah ditemani saudara sepupunya Kiai Muhammad Ilyas yang kelak menjadi Menteri Agama.

Di usia 24 tahun (1938), KH Wahid Hasyim mulai terjun ke dunia politik. Bersama kawan-kawannya, ia gencar dalam memberikan pendidikan politik, pembaruan pemikiran dan pengarahan tentang perlunya melawan penjajah.

Baginya pembaruan hanya mungkin efektif apabila bangsa Indonesia terbebas dari penjajah. Menikah pada usia 25 tahun, Kiai Wahid Hasyim mempersunting gadis bernama Solichah, putri KH Bisri Syansuri, yang pada waktu itu baru berusia 15 tahun.

Sepulang dari Makkah, banyak permintaan dari kawan-kawannya agar Kiai Wahid Hasyim aktif di himpunan atau organisasi, diantaranya tawaran juga datang dari Nahdlatul Ulama (NU). Ternyata tidak satu pun tawaran itu yang diterima, termasuk dari NU.

Pada 1936 ia justru mendirikan Ikatan Pelajar Islam (IKPI). Pendirian organisasi ini bertujuan mengorganisir para pemuda yang secara langsung ia sendiri menjadi pemimpinnya. Usaha ikatan ini antara lain mendirikan taman baca. Pada tahun 1938 Kiai Wahid Hasyim mulai mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan NU.

Ia ditunjuk sebagai Sekretaris pengurus Ranting Tebuireng, lalu menjadi anggota pengurus Cabang Jombang. Kemudian untuk selanjutnya Kiai Wahid Hasyim dipilih sebagai anggota Pengurus Besar NU di wilayah Surabaya. Dari sini kariernya terus meningkat sampai hingga tahun 1938.

Dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Soekarno pada September 1945, Kiai Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Syahrir pada tahun 1946. Pada tahun ini juga, ketika KNIP dibentuk, Kiai Abdul Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP.

Karier Kiai Wahid Hasyim di pentas politik nasional terus meningkat. Pada usianya yang masih muda, beberapa jabatan ia sandang. Di antaranya ketika Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Ia merupakan salah satu anggota termuda setelah BPH. Bintoro dari 62 orang yang ada. Waktu itu Kiai Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sementara Bintoro 27 tahun. Kiai Wahid Hasyim juga tergabung dalam keanggotaan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Memiliki kemampuan intelektual dan kecakapannya dalam berorganisasi mengantarkan dirinya menduduki jabatan sebagai Menteri Agama hingga tiga kabinet, yakni Kabinet M Hatta, M Natsir, dan Kabinet Sukiman.

Kiai Wahid Hasyim wafat pada 19 april 1953 di usia 39 tahun akibat kecelakaan mobil di Kota Cimahi, Jawa Barat. Atas jasa-jasanya kepada bangsa dan negara, Kiai Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964. Namanya kini juga diabadikan sebagai nama salah satu jalan di bilangan Jakarta Pusat. [Fathurroji]

Sumber: Biografi singkat KH Abdul Wahid Hasyim disarikan dari Buku “99 Kiai Kharismatik Indonesia” karya Kiai A. Aziz Masyhuri, terbitan Kutub, Yogyakarta.

 

Tags: wahid hasyim
Share102Tweet64Send
Previous Post

UNHCR: 3,9 Juta Orang Telah Melarikan Diri dari Perang Ukraina

Next Post

Pilihan Politik Boleh Beda Tapi Ukhuwah Bukan Pilihan, Tapi Kewajiban!

Fathur Roji

Fathur Roji

Jurnalis, Web Content, Penulis Buku Biografi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

5 August 2026
Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

7 August 2026
Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

6 August 2026
Pendekatan Astronomis Penentuan Awal Ramadhan

Pendekatan Astronomis Penentuan Awal Ramadhan

15 January 2026
Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

6 August 2026
Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

0
saiful falah pemerhati pendidikan

Wilayah Bogor Barat Butuh Keragaman Sarjana

0
Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

0
Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

0
Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

0
Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

7 August 2026
saiful falah pemerhati pendidikan

Wilayah Bogor Barat Butuh Keragaman Sarjana

6 August 2026
Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

6 August 2026
Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

6 August 2026
Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

5 August 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Edisi September yang akan datang.
Liputan Khusus :
1. Peta sebaran Pondok Alumni Gontor di Indonesia
2. Prospek dan Tantangan Pondok Alumni-Muadalah
3. KH Hasan Abdullah Sahal: Gontor Sebagai Inspirator Pondok Modern Yang Bersatu
4. Kipran Pondok Pesantren Alumni Gontor di Mancanegarapesan sekarang!
  • KOLEKSI EDISI KHUSUS 100 TAHUN GONTORTiga edisi istimewa telah hadir!
📖 Juli 2026 – Seabad Mendidik Bangsa
📖 Agustus 2026 – UNIDA Gontor Mendunia
📖 September 2026 – Satu Abad, Seribu GontorJadikan ketiganya sebagai koleksi sejarah 100 Tahun Gontor di perpustakaan Anda🛒 Segera pesan sebelum kehabisan!
🔗 https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor #100tahungontor #gontor100tahun #gontornews
  • Silahkan daftar melalui link ini : https://tinyurl.com/iklan-magonatau link bisa lihat di profile
  • Batas Akhir 7 Agustus 2026
Link Pendaftaran ada di profile"Kesempatan boleh datang berkali-kali, tetapi momen 100 Tahun Gontor hanya terjadi sekali. Jangan hanya menjadi saksi sejarah. Jadilah bagian dari sejarah."
  • Sistim pendafaran otomatis akan tertutup pada tanggal 7 Agustus 2026.
  • Edisi Khusus Majalah Gontor dalam rangka 100 Tahun Gontor. Bulan Juli, Agustus dan September.
Link Pemesanan : Lihat di profile#majalahgontor #gontornews #edisikhsusumajalahgontor #100tahungontor #gontor #gontorputri
  • KHUSUS ALUMNI GONTOR 📣Perkenalkan usaha Anda.
Majalah Gontor Edisi Khusus September 2026 – Spesial 100 Tahun Gontor.✔️ Perkenalkan usaha Anda kepada ribuan keluarga besar Gontor di seluruh Indonesia.
✔️ Kontribusi Rp1.500.000.
✔️ Pendaftaran hingga 7 Agustus 2026 atau kuota terpenuhi.📝 https://tinyurl.com/iklan-magon📞 0877-8707-2412 | 0813-1510-6479
  • Ada momen yang bisa diulang, ada pula yang hanya terjadi sekali dalam sejarah. Jangan lewatkan kesempatan memperkenalkan usaha Anda pada Edisi Spesial 100 Tahun Gontor.Link Pendaftaran :
https://tinyurl.com/daftar-umkm-mg#majalahgontor #gontornews #walisantrigontor #gontor
  • Kesempatan yang Tidak Datang Dua KaliJadilah bagian dari Edisi Khusus Majalah Gontor September 2026 dalam rangka 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.Kami mengundang Wali Santri Gontor yang memiliki usaha untuk memperkenalkan produknya kepada ribuan keluarga besar Gontor di seluruh Indonesia melalui edisi koleksi yang akan menjadi bagian dari sejarah.📌 Kontribusi seikhlasnya
📌 Syarat: Anak masih aktif sebagai santri Gontor
📌 Pendaftaran hanya sampai 7 Agustus 2026Kirimkan:
✅ Logo Usaha
✅ Foto Produk
✅ Deskripsi Singkat
✅ Website/Sosial Media (jika ada)📲 Daftar sekarang:
https://tinyurl.com/daftar-umkm-mg📞 Informasi:
0877-8707-2412
0813-1510-6479#majalahgontor #100tahungontor #walisantri #pengusahamuslim #gontornews #pesantrengontor #gontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result