Gontornews — KH As’ad Syamsul Arifin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi pada tahun 2016 ini. Kiai yang berasal dari Madura ini adalah seorang ulama yang turut bergerilya mengusir penjajah dari bumi pertiwi.
Kiai As’ad lahir di Makkah pada 1897 masih keturunan Wali Songo dan termasuk tokoh pelopor berdirinya Nahdlatul Ulama. KH As’ad masih keturunan Sunan Ampel dari ayahandanya Raden Ibrahim (KH Syamsul Arifin) dan masih keturunan Sunan Kudus dari ibundanya, Siti Maimunah.
Kiai As’ad dilahirkan dekat Masjidil Haram kala kedua orangtuanya menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu keislaman. Masa kecilnya kemudian dihabiskan di Pamekasan, Madura dan tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan. Setelah itu Kiai As’ad diajak ayahandanya pindah ke Asembagus-Situbondo, Jawa Timur dan saat remaja kembali lagi ke Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan untuk belajar.
Dia memperdalam ilmu agamanya di Makkah dengan ulama-ulama yang berasal dari Melayu maupun dari Timur Tengah. Ayahanda Kiai As’ad, KH Syamsul Arifin, sudah membabat alas ke Situbondo dan mendirikan pondok pesantren di Dusun Sukorejo tahun 1908.
Pasca KH Syamsul Arifin wafat tahun 1951, Kiai As’ad meneruskan pondok pesantren yang akhirnya dikenal dengan nama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Di bawah kepemimpinan Kiai As’ad, pesantren kian berkembang.
Tak hanya sebagai ulama yang menyebarkan ilmu agama dan memimpin pesantren, Kiai As’ad juga turun gunung bergerilya berjuang mengusir penjajah Jepang dari Jember. Di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Sukowono yang menjadi markas utamanya, Kiai As’ad menyusun strategi dan melancarkan serangan untuk melumpuhkan penjajah, demikian seperti dikutip dari situs NU.
Pasukan yang dipimpin Kiai As’ad cukup kuat, sehingga para serdadu Jepang lari tunggang langgang ke tengah hutan. Gerakan pasukan Kiai As’ad membuat serdadu Jepang ciut nyali dan akhirnya berhasil diusir tanpa peperangan di Garahan.
Dalam sejarah lahirnya NU, Kiai As’ad memainkan peran sebagai mediator antara KH Cholil di Bangkalan dan KH Hasyim Asy’ari di Jombang. Inilah peran penting yang diambil oleh Kiai As’ad hingga akhirnya NU terbentuk pada 1926.
Nama KH As’ad Syamsul Arifin begitu lekat di kalangan warga Nahdliyin. Sang kiai tercatat sebagai tokoh mediator bagi terbentuknya organisasi massa (ormas) Islam terbesar di negeri ini. Selain itu, ia dikenal sebagai kiai yang memiliki keterampilan bela diri dan kanuragan.
Sang Kiai dikenal sebagai ulama yang enggan mengejar jabatan. Semasa politik Indonesia bergolak, Presiden Sukarno pernah menawarkan jabatan menteri agama. Namun, Kiai As’ad menolak dengan dalih ingin mengurus pesantrennya. Kiai As’ad juga menolak saat ditawari jabatan bergengsi di dalam internal NU. Tawaran posisi rais aam hingga rais akbar yang pernah disodorkan warga Nahdliyin tidak diterimanya karena Kiai As’ad ingin fokus mengurus para santrinya.
Di usianya ke 93, Allah memanggil Kiai As’ad, tepatnya pada 4 Agustus 1990 dan dimakamkan di komplek Ponpes Salafiyyah Syafi’iyyah.
Jasa-jasa Kiai As’ad pun dihargai pemerintah. Pada bulan kepahlawanan tahun 2016 lalu, Presiden Joko Widodo menetapkan almarhum Kiai Raden As’ad Syamsul Arifin sebagai pahlawan nasional. Kiai As’ad yang merupakan pemuka agama dari Jawa Timur, ditetapkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 90/TK/Tahun 2016 tertanggal 3 November 2016. [fathurroji]






















