Ponorogo, Gontornews—Dengan bahasa yang luas dan tegas, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Dr KH Hasyim Muzadi mengungkapkan bahwa system pendidikan Kulliyatul Mu’alimin al-Islamiyah (KMI) Gontor merupakan ruh dan fikrah perjuangan Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.
Dalam beberapa tahun Kiai Hasyim pernah bertanya kepada KH Imam Zarkasyi mengapa KMI dipertahankan? Jawabannya karena pendidikan seperti ini yang dibutuhkan. Alumnus Gontor tahun 1962 ini masih mengingat perkayaan dari Trimurti KH Imam Zarkasyi bahwa selama pondok masih menggunakan kedisiplinan yang baik, Insya Allah pondok akan tetap berkembang dan menghasilkan alumni yang baik.
Kiai Hasyim menuturkan, perjuangan trimurti menerapkan system KMI bukan sekedar ikut-ikutan. Sistem KMI menurutnya, diperjuangkan selama puluhan tahun meskipun tidak diakui, ternyata setelah 27 tahun system ini diakui pemerintah.
“Bagi trimurti, diakui atau pun tidak diakui sistem KMI tidak akan diubah. Ini tidak cukup ditepuk tangani tapi diistiqamahi,” terang pengasuh pesantren Al Hikam Malang dan Depok ini dalam acara Silaturahim dan Seminar Nasional bertema Pendidikan Mu’alimin Dalam Sistem Pendidikan Nasional” dalam rangka peringatan 90 tahun pondok modern Darussalam Gontor di Gedung BPPM pada, Kamis (1 /9).
Warisan system pendidikan ini tidak perlu berubah karena yang perlu dipikirkan bagaimana tetap berkembang dengan system dan nilai-nilai yang sudah ada. Warisan kemodernan pun perlu dijaga karena menjadi bagian bentuk revolusi dalam bidang pendidikan.
Kiai Hasyim masih mengingat belajar hukum fikih dari Imam Zarkasyi kelas dua yang diajarkan adalah fikih wadih. Dilanjutkan kelas tiga bulugul marom dan koidah fikhiyah, bidayatul mujtahid, bukan menjadi mujtahid. Demikian juga pelajaran bahasa Arab, yang diajarkan Gontor lebih menekankan untuk percakapan.
Sehingga yang perlu dikedepankan bukan hanya 100 persen ilmu agama dan ilmu umum, tapi integrasi keilmuan agama dan umum. Pesantren, ujar Kiai Hasyim, tak sekedar menyajikan dirosah tapi juga menyajikan kehidupan sehingga pesantren harus menyajikan kehidupan dan keilmuan.
“Pesantren tak hanya bicara pondok tapi juga masyarakat. Maka selalu Pak Zar menyampaikan kalo keluar dari pondok jadilah ikan dalam air jangan jadi tikus di dalam air. Ini menunjukkan antara pesantren dan kehidupan tak ada skat,” pungkasnya. [Ahmad Muhajir/DJ]

















