Jakarta, Gontornews – Siapa yang tidak kenal buah belimbing, bentuknya yang segi lima mirip coretan gambar bintang anak kecil pada buku gambarnya. Dagingnya yang asam cenderung manis serta kandungan airnya yang banyak membuat buah tropis ini menjadi primadona bagi sebagian besar masyarakat Asia Tenggara.
“Kalau mau mendapatkan belimbing dengan kualitas baik, sedari awal, bungkus belimbingnya dengan plastik atau semacamnya,” kata seorang pembudidaya belimbing di Lenteng Agung, Jakarta selatan.
Belimbing dianggap buah tropis karena hanya di temukan di daerah Asia Tenggara, India dan Pakistan. Karena popularitasnya, penyebaran tanaman belimbing meluas hingga ke Ameria Serikat (Florida) dan Amerika Latin.
Rasanya yang cenderung asam, sangat cocok dikonsumsi di musim panas atau menjelang memasuki musim hujan (pancaroba). Jika buah ini matang dengan sempurna, kandungan gulanya sangat tinggi sehingga terasa sangat manis. oleh sebab itu, belimbing kerap disajikan dalam bentuk segar seperti jus, manisan atau asinan.
Belimbing juga merupakan sumber vitamin C yang baik yang sangat berguna untuk menjaga daya tahan tubuh, kesehatan kulita dan kecantikan. Kandungan antioksidan dan flavonoid dalam belimbing juga berperan untuk mengurangi penuaan dini, perbaikan sel yang rusak serta mencegah penyakit kanker.
Selain itu, belimbing mengandung 30 kalori atau yang terendah diantara buah-buah tropis lainnya. Pun dengan kandungan serat yang bermanfaat untuk melancarkan gangguan buang air besar. Sebaiknya, belimbing disajikan dalam bentuk segar sehingga tidak mengalami penurunan kandungan nutrisi.
Buah yang dikenal dengan nama Kamrakh di India ini bebas kolesterol sehingga tidak berbahaya bagi tubuh. sebagaimana dilansir laman nutritionandyou.com, belimbing memiliki kandungan fosfor yang tinggi (12 mg) dan berguna untuk menyaring limbah dalam ginjal dan mengurangi nyeri otot setelah bekerja.
Bagi mereka yang berada dalam masa pertumbuhan, fosfor berguna untuk memelihara dan memperbaiki jaringan dan sel serta memproduksi beberapa faktor genetik, DNA maupun RN. Belimbing juga bisa digunakan sebagai penambah nafsu makan dan menghindarkan seseorang dari potensi mati rasa, kelemahan dan mengalami perubahan berat badan.
Hal sebaliknya tidak dianjurkan bagi penderita penyakit ginjal karena mengonsumsi belimbing dapat mengakibatkan keracunan. Hal ini tidak lepas dari kandungan asam oxalat, sejenis racun yang mematikan apabila dikonsumsi dalam konsentrasi tinggi.
Dalam keadaan sehat, kandungan asam oxalat dari buah pemilik nama ilmiah Averrhoa carambola ini terbuang melalui air seni. Namun tidak demikian dengan penderita penyakit ginjal yang asam oxalatnya justru terakumulasi karena tidak terbuang dengan air seni sehingga menyebabkan keracunan.
Meski demikian, temuan tersebut lantas dibantah oleh beberapa peneliti karena mengonsumsi makanan seperti Bayam, yang kaya akan asam oxalat, tidak menunjukan gejala yang sama. Sehingga disimpulkan, penyebab keracunan tersebut adalah karena zat lain bukan asam oxalat.
Baiknya, belimbing dikonsumsi secara tidak berlebihan sehingga menciptakan keseimbangan dalam tubuh. Khayru al-umūri āwsaṭuhā (sebaik-baiknya perkara adalah berada ditengah/seimbang). [Mohamad Deny Irawan/DJ]






















