Kabul, Gontornews — AS pada hari Sabtu (7/8) memerintahkan warganya untuk segera meninggalkan Afghanistan ketika Taliban secara signifikan berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, termasuk mengambil alih dua kota provinsi dari pasukan pemerintah Afghanistan.
“Kedutaan Besar AS mendesak warga AS untuk segera meninggalkan Afghanistan menggunakan opsi penerbangan komersial yang tersedia,” kata misi AS di Kabul dalam sebuah pernyataan dikutip Arabnews.com.
“Mengingat kondisi keamanan dan pengurangan staf, kemampuan kedutaan untuk membantu warga AS di Afghanistan sangat terbatas bahkan di Kabul,” tambahnya.
Langkah AS ini mengikuti peringatan serupa oleh Inggris pada hari Jumat yang meminta warga negaranya untuk sesegera mungkin meninggalkan Afghanistan karena situasi keamanan yang makin memburuk.
Taliban telah menyerbu puluhan distrik, dan penyeberangan perbatasan dengan Pakistan, Iran dan Asia Tengah, sejak penarikan pasukan pimpinan AS dari Afghanistan dimulai pada 1 Mei untuk mengakhiri hampir 20 tahun pendudukan.
Kemajuan kelompok itu telah memicu kekhawatiran bahwa Taliban akan berkuasa kembali seperti tahun 1990-an sebelum tentara koalisi pimpinan AS menginvasi negara itu dengan dalih memerangi terorisme.
AS dan negara-negara Barat lain kuatir akan terjadi perang saudara di Afghanistan jika Taliban berkuasa ketika pasukan asing menyelesaikan penarikan pasukannya pada akhir bulan ini.
Perkembangan itu terjadi kurang dari sehari setelah utusan khusus PBB untuk Afghanistan, Deborah Lyons, mengatakan bahwa perang di Afghanistan telah memasuki “fase baru, lebih mematikan dan lebih merusak” dengan lebih dari 1.000 warga sipil tewas dalam sebulan terakhir selama serangan Taliban.
“Jenis perang yang sekarang ini berbeda, yang mengingatkan pada Suriah atau Sarajevo, di masa lalu,” katanya dalam pertemuan khusus Dewan Keamanan PBB tentang Afghanistan di New York.
Kekuatan besar seperti AS dan Inggris menolak untuk “mendukung kembalinya kekuasaan Imarah Islam” Taliban dalam pertemuan tersebut.
Sejak Jumat, kelompok itu telah menguasai dua ibukota provinsi dan membunuh seorang juru bicara penting pemerintah di Kabul, mengintensifkan kampanyenya untuk mengalahkan pemerintah Kabul yang didukung AS sejak April.
Jurubicara Taliban, Zabihullah Mujahid, di media sosial pada hari Jumat menyatakan kemenangan atas pasukan pemerintah di Provinsi Nimruz barat daya Afghanistan dengan jatuhnya ibukota, Zaranj.
“Rumah gubernur, markas polisi, markas intelijen dan semua bangunan terkait dibersihkan dari kehadiran musuh antek,” kata Mujahid dalam sebuah posting Twitter.
Zaranj menjadi kota besar pertama yang jatuh ke tangan Taliban sejak Washington mencapai kesepakatan dengan kelompok itu pada Februari 2020 untuk penarikan pasukan, sementara kota Shiberghan di Jawzjan menjadi ibukota provinsi Afghanistan kedua yang jatuh ke tangan Taliban dalam waktu kurang dari 24 jam. []






















