London, Gontornews — Para pencari suaka di Inggris banyak yang mengalami pelecehan rasisme seperti pemerkosaan. Padahal mereka tinggal di tempat-tempat penampungan atau akomodasi yang disediakan oleh pemerintah Inggris.
Harian The Guardian, sebagaimana dikutip Arabnews.com, melaporkan, sejak awal tahun ini setidaknya telah terjadi 70 kasus atau insiden rasis di akomodasi yang disediakan oleh negara itu.
Data yang dirilis dari 1 Januari 2020 hingga 13 Juli 2021, memaparkan contoh-contoh kasus rasisme seperti pelecehan seksual, ancaman, dan penyerangan, termasuk di sejumlah lokasi yang disorot oleh aktivis dan politisi sebagai perbuatan yang tidak pantas, apa pun alasannya.
Seorang pencari suaka dari Yaman menjadi korban pelecehan rasis pada dua kesempatan terpisah, ketika aktivis sayap kanan menargetkannya di hotel penampungan dekat London yang disediakan oleh Kantor Dalam Negeri Inggris.
“Mereka sedang mengemudi di sekitar hotel merekam kami di video,” kata pencari suaka kepada The Guardian. “Mereka menghina kami, memaki kami dan meneriakkan kata-kataa seperti ‘Pergi dari negara kami, mengapa Anda memakan makanan kami? Pergi dari kami, kalian orang asing di sini.’ Kami terlalu takut untuk pergi ke luar hotel.”
“Kami melarikan diri dari negara-negara di mana ada banyak penyiksaan dan penganiayaan dan merasa aman ketika kami tiba di sini,” katanya, “tetapi ketika kami melihat serangan rasis semacam ini, kami merasa kami tidak dilindungi.”
Keamanan pencari suaka, di hotel khususnya, tampaknya telah memburuk. Data menunjukkan jumlah insiden rasis meningkat dari 13 kasus di tahun 2020 menjadi 40 pada tahun 2021.
Pada 7 Agustus, kelompok sayap kanan Britain First mengunggah video yang mengatakan sejumlah anggotanya telah menyamar sebagai jurnalis untuk menargetkan pencari suaka di hotel-hotel di kota Hull.
Clare Moseley, pendiri kelompok pendukung pengungsi Care4Calais, menyebut penargetan pencari suaka yang “rentan” sebagai “pengecut yang ekstrem.”
Selain hotel, sejumlah tempat penampungan pencari suaka seperti bekas barak militer juga telah disorot sebagai tempat pelecehan rasis.
Di Penally Barracks di Pembrokeshire, Wales, yang ditutup pada bulan Maret lalu, terjadi satu kasus pelecehan rasis.
Sedangkan di Napier Barracks di Folkstone, Kent, empat insiden tercatat pada tahun 2020, dan 12 insiden pada tahun 2021.
Tempat itu menjadi fokus perhatian media Inggris setelah dikosongkan sementara pada April di tengah wabah virus corona. Penduduk mengklaim mereka terpaksa hidup dalam kondisi berbahaya dan tidak higienis.
Para aktivis kemanusiaan percaya bahwa jumlah sebenarnya kasus pelecehan rasis yang diderita oleh pencari suaka selama periode tersebut jauh lebih tinggi. “Angka yang ditampilkan di sini bukanlah representasi akurat dari tingkat pelecehan rasial yang dialami oleh orang-orang pencari suaka,” kata Maddie Harris dari Humans for Rights Network.
“Orang-orang yang mencari keamanan di penampungan berskala besar seperti hotel dan barak tentara telah terancam bahaya,” tambahnya.
Seorang jurubicara Kantor Dalam Negeri Inggris mengatakan kepada The Guardian: “Insiden permusuhan atau rasis di tempat-tempat penampungan pencari suaka tidak dapat dibenarkan, dan kami memastikan setiap insiden akan diselidiki secara menyeluruh.” []


















