Probolinggo, Gontornews — Kiai Hasan Genggong, demikian biasa dipanggil. Ia memiliki nama lengkap KH Muhammad Hasan bin Syamsuddin bin Qoiduddin. Kiai Hasan Genggong lahir pada 27 Rajab 1259 atau 23 Agustus 1840, bertepatan dengan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Desa Sentong, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, dari pasangan Kiai Syamsuddin dan Nyai Khadijah.
Kiai Hasan Genggong, merupakan salah satu pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong ini, merupakan sosok panutan di zamannya. Kealiman dan kewalian Kiai Hasan tak diragukan lagi. Bahkan, pengasuh kedua Pesantren Zainul Hasan Genggong ini juga dikenal sebagai wali kutub.
Kiai Hasan Sepuh, sapaan akrab beliau, mempunyai budi pekerti yang sangat tinggi serta welas asih. Tak hanya kepada sesama manusia, Kiai Hasan juga memberikan kasih sayangnya kepada makhluk lain seperti binatang.
Berdasarkan situs resmi Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, diungkapkan bahwa jejak kesantrian Kiai Hasan Genggong dimulai sejak usia belia sampai dewasa. Dari mondok di sejumlah pesantren di tanah air, berlanjut nyantri ke Mekkah dan Madinah.
Di masa mudanya, Kiai Hasan Genggong pernah mengenyam pendidikan baik di dalam negeri dan di luar negeri, diantaranya; Pesantren Sentong, Krejengan dibawah asuhan KH. Syamsuddin, Pesantren Sukonsari, Pojentrek-Pasuruan Asuhan KH Mohammad Tamin, Pesantren Bangkalan selama 3 tahun asuhan KH. Mohammad Cholil dan selama 3 tahun di Mekkah Al Mukarramah.
Di kalangan ulama sepuh Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Hasan Genggong senantiasa dijadikan sebagai sosok yang selalu diminta nasihat dan pertimbangan persoalan NU dan umat.
Saat proses awal pendirian organisasi NU, almarhum Kiai Hasan Genggong juga diminta pendapat dan nasihat oleh almarhum KH Wahab Hasbullah; KH As’ad Syamsul Arifin; dan para pendiri NU yang lain atas rekomendasi dari Syaikhona Kholil Bangkalan dan Syeikh KH Hasyim Asy’ari.
Kiai Hasan Sepuh yang dikenal sebagai sosok ulama dengan kezuhudannya, selalu menjadi tempat rujukan ketika ulama pendiri NU akan mengambil keputusan. Ketika NU lahir pada 1926 pada saat bumi nusantara masih dicengkeram penjajah Belanda, Kiai Hasan Genggong menjadikan Pesantren Genggong sebagai basis perjuangan kemerdekaan.
Pada masa penjajahan, Kiai Hasan Genggong turut berkontribusi dalam mengusir penjajahan, khususnya di wilayah Jawa Timur. Betapapun kondisi fisiknya pada saat-saat memuncaknya angkara penjajah, nampak lemah karena usia, namun Almarhum tetap berusaha menghadiri rapat-rapat akbar di pelosok-pelosok tanpa mengenal payah.
Begitu juga pada masa penjajahan Jepang, ia dengan sikap tegas melawannya. Ketika itu musim paceklik tengah melanda masyarakat, khususnya di daerah sekitar pondok Genggong.
Perjuangan Kiai Hasan Genggong melawan penjajah mengembara hingga detik-detik kemerdekaan bangsa Indonesia. Sinyal kemerdekaan itu jauh sebelumnya telah dirasakan oleh Kiai Hasan.
Hal ini menjadi jelas ketika ia memerintahkan kepada putranya yang bernama K. Nasnawi (wafat), untuk membentuk barisan perjuang dengan nama “Anshorudinillah”, sebagai barisan untuk mempertahankan Negara Agama.
Dan ini terbukti. Sebab tidak lama kemudian pemberontakan di Surabaya meletus. Kemudian timbul inisiatif dari komandan polisi Kraksaan, Abd. Karim, untuk menjadikan barisan tersebut sebagai pasukan inti di garis depan. Kemudian, berdasarkan hasil musyawarah, nama Anshorudinillah itu diganti menjadi “Barisan Sabilillah”.
Dalam situasi yang gawat ini, tidak sedikit para pejuang angkatan 45 yang datang kepada Kiai Hasan untuk memohon doa restu, demi kejayaan dan keselamatan perjuangan bangsa melawan penjajah yang akan memasuki kembali wilayah bumi tercinta ini.
Pondok Genggong juga dijadikan sebagai kubu pertahanan gerilyawan- gerilyawan. Di sini Kiai Hasan Genggong memberikan gemblengan kepada santri-santrinya memberikan santapan batin serta mendoakan bagi gerilyawan- gerilyawan demi keselamatan mereka.
Saat mengisi pengajian kitab tafsir di bulan puasa pada tahun 1955, Kiai Hasan mengatakan bahwa santri kembali ke pondok Genggong kala itu diganti tanggal 10 Syawal yang biasanya tanggal 15 Syawal karena menurut Kiai Hasan tanggal 11 Syawal akan ada pengajian besar. Ternyata pada 11 Syawal tersebut Kiai Hasan Genggong wafat di tengah-tengah santri yang sudah kembali ke pesantren. [Fath]




















