Bogor, Gontornews — Sekolah
Tinggi Ekonomi Islam Tazkia (STEI Tazkia) menyelenggarakan diskusi ekonomi
islam tentang pemikir ekonomi islam asal Turki, Kinalizade, Jum’at (21/12). Dalam
diskusi tersebut, salah seorang pemateri dari STEI Tazkia, Nurizal Ismail berujar
bahwa Kinalizade merupakan tokoh pemikiran islam yang berkonsentarasi pada
ekonomi rumah tangga.
“Jika kita membeli buku-buku sejara pemikiran ekonomi Islam, maka Kinalizade merupakan tokoh yang luput dari pembahasan. Padahal, pemikiran ekonominya sangat penting bagi ekonomi rumah tangga saat ini,” ungkap Nurizal Ismail kepada Gontornews.
Sebagai informasi, Kınalızâde dilahirkan di Isparta, Anatolia pada tahun 916 H/1511 M. Ahlâk-i Alâ’î menjadi salah satu karya monumental milik Kinalizade berisi tentang akhlak yang memberikan warna Turki Utsmaniah dalam perkembangan ilmu pengetahuan. I’lm Tadbir al-Manzil (Ilmu Pengurusan Rumah Tangga/ITM) menjadi bagian penting yang dibahas dalam Ahlâk-i Alâ’î.
Lebih lanjut, Nurizal mengtakan bahwa ITM berasal dari pengembangan pemikiran ekonomi Bryson yang telah terislamisasi. Bagi Kinalizade, ITM merupakan ilmu yang digunakan untuk menjaga ketertiban antara anggota rumah tangga dan ilmu yang digunakan untuk mempertahankan rezeki dengan cara yang tepat baik bagi golongan kelas bawah sampai kepada kelas atas.

Secara spesifik, Kınalızâde menjelaskan bahwa karakter utama manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat berisolasi sendiri. Manusia memerlukan manusia yang lain dengan cara bekerjasama dan produksi untuk memenuhi kebutuhannya.
Selain pembahsana tentang manusia, Kinalizade juga menjelaskan bahwa uang menjadi pembahasan penting baginya yang mana fungsinya sebagai ‘nāmūs-u asgar’ (Hukum yang paling kecil), dan pelindung keadilan (ḥāfıẓ-ı ʽadālet). Dalam kajian fisafat Praktis hukum dibagi menjadi 3 yaitu Syariah (nāmūs-u akbar’), Hukum Pemerintah (Mulk) dan Uang (nāmūs-u asgar).
Bagi Kinalizade, uang sangat terkait dengan hukum karena uang dapat menyeimbangkan ketidaksetaraan yang dihasilkan dari transaksi perdagangan dan ekonomi. Nurizal bahkan tidak segan jika dewasa ini, uang bukan lagi menjadi nāmūs-u asgar, tetapi telah berubah menjadi nāmūs-u akbar’ yang dapat membeli hukum.
Kınalızâde juga menjelaskan tentang deskripsi mata uang yang ideal yaitu jenis metalnya harus langka, mudah dibawah dan tahan lama. Dinar merupakan mata uang yang paling ideal menurutnya. Selanjutnya ada tiga dimensi uang dalam kehidupan manusia yaitu untuk dicari, dijaga dan dikeluarkan.
Cara mendapatkan uang menurutnya ada dua cara yaitu dengan cara usaha dan tanpa usaha. Dengan usaha melalui perdagangan, profesi dan pertanian, sedangkan tanpa usaha melalui warisan, wasiat, sedekah, infak, zakat, wakaf dan hibah. Bagaimana cara menjaganya? Yaitu dengan pengeluaran rumah tangga tidak melebihi pendapatan, tidak memiliki komoditas/barang yang tidak tahan lama untuk disimpan sebagai kepemilikan, dan selalu menyimpan harta yang memiliki nilai stabil dan memiliki laba yang dapat diprediksi.
Dalam hal pengeluaran, seseorang harus memiliki rasa malu karena kekikiran karena, menurut Ḳınalızāde, menghabiskan jumlah seminimal mungkin dan tidak menghabiskan lebih dari yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar juga merupakan kekikiran.
Tindakan yang kedua adalah untuk menghindari dari kesewenang-wenangan dan pemborosan dari konsumsi, ketiga adalah menghindari untuk membelanjakan uang untuk membagakan diri sendiri atau untuk menarik pengakuan orang lain atas dirinya (riya).
Terakhir, tidak boleh menyebutkan pemberiannya kepada orang lain nanti, atau mengingatkan mereka apa pun yang telah dia habiskan untuk mereka. Intinya dalam pengelolaan rumah tangga adalah jalan tengah (iḳtisād) tidak boros dan berlebih-lebihan. Nasihatnya adalah membelanjakan sebagian kekayaan untuk diri sendiri dan keluarga, menabung, dan membelanjakannya di jalan Allah. [Mohamad Deny Irawan]





















