pesanan-baju-kaos
32 °c
Pecenongan
Sat
Sun
Friday, 9 October, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Wawancara

Kisah Kepahlawanan Ulama dari Masa ke Masa

Dr Alwi Alatas, Dosen Sejarah International Islamic University Malaysia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
3 January 2025
in Wawancara
0
Kisah Kepahlawanan Ulama dari Masa ke Masa

Foto: Hidayatullah.com

Dari waktu ke waktu, upaya melawan penjajahan asing terjadi di wilayah Indonesia dan banyak di antaranya dipengaruhi atau digerakkan oleh para ulama. Dosen Sejarah International Islamic University Malaysia Dr Alwi Alatas menjelaskan para ulama adalah pewaris para Nabi, pemimpin umat dan penanggung jawab dalam membimbing dan mengupayakan kemaslahatan umat. Sebaliknya, penjajahan menghilangkan banyak kemaslahatan dan memberikan pengaruh negatif di tengah masyarakat.

“Hingga hari ini para ulama terus berperan dalam upaya melawan penjajahan asing. Sebagian ulama ada yang berperan sebagai guru yang mengajarkan ilmu di tengah masyarakat, sebagian lainnya ada yang terlibat di dunia pergerakan dan aktif mendorong upaya perlawanan terhadap penjajahan. Namun ada kalanya aspirasi ulama dicurigai dan dimusuhi. Padahal sebagian ulama yang kadang bersikap keras dalam mengkritik, itu karena kecintaan yang besar terhadap agama dan juga negara,” jelasnya.

Wartawan Majalah Gontor, Muhammad Khaerul Muttaqien, berkesempatan mewawancarai Dosen Sejarah International Islamic University Malaysia Dr Alwi Alatas seputar kisah kepahlawanan ulama dari masa ke masa melalui email. Simak uraiannya di bawah ini!

Siapa saja yang berperan menggerakkan masyarakat melawan penjajahan?

BACA JUGA

UNIDA Ingin Duduk Bersama Universitas-universitas Kelas Dunia

Belajar Jadi Pengusaha Teladan dan Bermanfaat bagi Umat

Abad Kedua Gontor Dimulai Hari Ini!

Titik Terang Kembalikan Lunturnya Adab dalam Dunia Pendidikan  

Kembali ke Fitrah: Apa yang Berubah Setelah Ramadhan?

Dari waktu ke waktu, upaya melawan penjajahan asing terjadi di wilayah Indonesia dan banyak di antaranya dipengaruhi atau digerakkan oleh para ulama dan para pemimpin kesultanan Islam. Saya tidak banyak mendalami tentang peranan kesultanan-kesultanan di Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan. Tapi saya kira banyak kesultanan telah memberikan dukungan mereka bagi kemerdekaan Indonesia.  Misalnya saat Portugis menguasai Melaka, Kesultanan Aceh dan Demak mengirim pasukan untuk membebaskannya, walaupun sayangnya tidak berhasil. Tetapi di Jawa, Fatahilah dan pasukannya telah dikirim untuk menghalangi masuknya Portugis ke Sunda Kelapa, yang berhasil dengan gemilang. Selain itu Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Siak Sri Indrapura juga termasuk di antara kesultanan yang memberikan sokongan penuh bagi Republik Indonesia.

Pada masa-masa berikutnya, penjajah Belanda secara gradual menguasai wilayah Indonesia. Pada era-era tertentu terjadi perlawanan terhadap Belanda, dan agama seringkali memainkan peranan yang penting. Kaum Padri yang berperang melawan Belanda di Sumatera Barat pada abad ke-19 dipimpin oleh para ulama. Perang Diponegoro mendapat dukungan dari ulama seperti Kiai Maja. Masyarakat Aceh yang melawan invasi Belanda di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 banyak mengambil inspirasi perjuangan dari agama Islam dan kepemimpinan para ulama.

Apa kontribusi spesifik ulama dalam perlawanan terhadap Belanda dan Jepang?

Saya kira para ulama pada umumnya berperan penting dalam perjuangan, baik langsung terlibat dalam perlawanan fisik maupun tidak. Kontribusi ulama dalam hal ini saya kira dapat dibagi dua. Pertama, kontribusi di luar perlawanan fisik. Dalam hal ini mereka berperan membina kesabaran di tengah masyarakat, menjauhkan mereka dari rasa putus asa, menyiapkan bekal moral dan spiritual yang membuat mereka mampu bertahan di tengah kesulitan. Mereka juga memberikan kontribusi dalam menanamkan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern, misalnya, menyebutkan bahwa sebelum pemerintah kolonial memperkenalkan sekolah bagi masyarakat pribumi di abad ke-19, para ulama telah berperan membangun literasi lewat pendidikan di pesantren-pesantren tradisional. Kedua, kontribusi saat terjadi perlawanan fisik. Nilai-nilai agama yang diajarkan oleh para ulama memberikan keberanian dan sifat rela berkorban dalam melawan penjajah dan membebaskan negeri.

Bagaimana organisasi Islam, seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Nahdlatul Ulama, dan lain-lain berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia?

Organisasi-organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan yang lainnya memiliki peran masing-masing yang khas. Pada akhir era Belanda, organisasi-organisasi ini berhimpun dalam wadah besar bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang bertujuan menyatukan gerak langkah kaum Muslimin dan menyikapi politik kolonial. Walaupun bukan merupakan organisasi politik, MIAI menjalin kerjasama dengan Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Pada era Jepang, MIAI dibubarkan dan sebagai gantinya berdiri Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), yang terus berkiprah hingga ke era kemerdekaan. Selain itu, banyak tokoh organisasi Islam terlibat di tataran politik, antara lain lewat BPUPKI dan PPPKI, maupun di tengah masyarakat dalam memperjuangkan kemerdekaan. Saya pernah membaca bahwa ada banyak ulama yang direkrut oleh Jepang untuk menjadi pimpinan Pembela Tanah Air (PETA), karena mereka merupakan tokoh masyarakat. Walaupun mereka nantinya tidak meneruskan karir di militer, mereka telah ikut mempersiapkan para pejuang yang nantinya berperan dalam perjuangan kemerdekaan. Salah satu tokoh Muslim yang menjadi pemimpin PETA yaitu Kasman Singodimedjo.

Apa benar proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 tidak terlepas dari pesan tertulis ulama Muhammadiyah, KH Abdul Mukti, yang tinggal di Madiun kepada Bung Karno agar memproklamasikan Kemerdekaan RI pada bulan Ramadhan?

Memang ada narasi yang beredar tentang ini, tetapi saya belum pernah mendalami tentang hal ini, sehingga tidak dapat memastikannya. Bagaimanapun, narasi ini berbeda dengan apa yang sudah diterima luas di dalam sejarah Indonesia, bahwa kemerdekaan Indonesia diproklamasikan setelah proses negosiasi yang cukup alot di antara Bung Karno dan Bung Hatta dengan sekumpulan pemuda, yang kemudian berujung pada proklamasi kemerdekaan. Terlepas dari itu, tokoh-tokoh Islam, termasuk dari Muhammadiyah, memiliki peranan yang penting dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia melalui BPUPKI, PPKI, ataupun jalur perjuangan lainnya.

Bagaimana fakta sejarah Resolusi Jihad Pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, dan Hari Pahlawan 10 November?

Resolusi jihad merupakan salah satu kontribusi yang agung di awal perang kemerdekaan. Ketika itu KH Hasyim Asy’ari – semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas – mengeluarkan fatwa berupa kewajiban umat (di sekitar Surabaya) untuk berjihad menghadapi penjajah Eropa yang hendak masuk kembali ke Indonesia. Fatwa ini kemudian ditegaskan kembali dan disebarluaskan oleh para ulama di Jawa Timur. Masyarakat Surabaya dan sekitarnya dengan serta merta menyambut fatwa tersebut. Mereka berbondong-bondong datang ke Surabaya dengan senjata apa saja yang ada pada mereka. Bung Tomo, yang memiliki hubungan baik dengan beberapa ulama di Jawa Timur, mengobarkan semangat perjuangan masyarakat dengan pekik merdeka dan takbir. Maka ketika Inggris menyerang Surabaya dengan persenjataan berat, masyarakat melakukan perlawanan habis-habisan dengan senjata-senjata mereka yang sederhana, sehingga jatuh banyak korban. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai hari pahlawan. Dalam konteks ini, kita tidak bisa mengabaikan bahwa bara api kepahlawanan itu telah dikobarkan oleh fatwa jihad ulama.

Siapa sebenarnya yang mengusulkan agar warna Bendera Indonesia Merah-Putih dan Lambang Negara Burung Garuda?

Dikatakan bahwa warna bendera merah dan putih sudah dikenal dan digunakan oleh beberapa kerajaan di Indonesia pada masa lalu. Bendera merah putih ini mulai digunakan pada kongres pemuda di tahun 1928. Walaupun dilarang untuk digunakan di era kolonial, merah putih kemudian ditetapkan sebagai bendera resmi Indonesia dan dikibarkan pada saat proklamasi 17 Agustus 1945. Ada yang menyebutkan bahwa warna bendera merah putih ini merupakan usulan dari Habib Idrus bin Salim al-Jufri, pendiri al-Khairat, Palu. Tapi sejauh yang kami ketahui, informasi ini tidak akurat. Lebih tepatnya Habib Idrus al-Jufri membuat syair di awal kemerdekaan Indonesia yang mengekspresikan rasa syukurnya. Di dalam syair itu ia memuji Bung Karno dan juga menyebut bendera merah putih sebagai kebanggaan Indonesia. Adapun lambang negara Burung Garuda, yang merancangnya pertama kali panitia yang dipimpin oleh Sultan Hamid II Algadri dari Pontianak. Lambang ini kemudian disempurnakan menjadi seperti yang digunakan sekarang ini.

Mengapa fatwa atau nilai agama yang disampaikan ulama bisa mempengaruhi semangat perjuangan melawan penjajah?

Karena para ulama bersikap istiqamah dan mampu membimbing masyarakat luas, maka kata-kata mereka menjadi sesuatu yang diikuti oleh masyarakat. Otoritas mereka dipegang kuat-kuat oleh masyarakat. Ketika mereka berfatwa, termasuk dalam perjuangan melawan penjajah, maka fatwa itu akan diikuti dengan penuh kesungguhan oleh orang banyak.

Bagaimana peran ulama dalam mempertahankan kemerdekaan?

Para ulama terus berperan di era pascakemerdekaan hingga ke hari ini. Mereka menjadi guru di tengah masyarakat, yang menanamkan bagi mereka makna dan nilai-nilai kehidupan serta memberikan panduan moral dan spiritual. Nilai-nilai itu telah tercermin, misalnya, di dalam Pancasila lewat kosakata seperti “Ketuhanan Yang Maha Esa”, “adil dan beradab”, “hikmah” serta “permusyawaratan”. Mereka juga memberikan kontribusi di bidang-bidang yang lain, baik sosial kemasyarakatan maupun politik dan kenegaraan. Adakalanya aspirasi mereka ini dicurigai dan dimusuhi oleh pemerintah. Sebagian ulama kadang bersikap keras dalam mengkritik, tetapi sebenarnya mereka melakukan hal itu karena kecintaan yang besar terhadap agama dan juga negara. Mereka tidak mau agama dimusuhi dan dipinggirkan dari peran kemasyarakatan dan kenegaraan. Selain itu, kadang mereka juga khawatir masyarakat dan negara ini terjerumus ke dalam kerusakan dan kehancuran. Hal-hal semacam ini perlu disikapi dengan komunikasi yang baik, dan bukannya dikecilkan atau dihadapi dengan permusuhan, karena bagaimanapun juga agama Islam dan para ulama memiliki kontribusi yang tidak kecil di republik ini.

Apa tantangan yang dihadapi ulama dalam menghadapi perjuangan ini?

Tantangan terbesar para ulama istiqamah dengan ilmu yang dimiliki dan tidak tergoda dengan dunia. Ulama adalah pewaris para Nabi, tetapi kadang ada juga ulama yang buruk (suu’). Kalau ulama sampai tergoda dengan dunia, maka mereka tidak akan membimbing umat dengan ilmu mereka, malah justru merusak mereka atas nama ilmu agama. Ini saya kira tantangan terbesar yang dihadapi oleh para ulama. Cara mengatasinya dengan selalu mengikhlaskan niat dan selalu ingat akan akhirat.

Tantangan lainnya untuk era modern ini tidak pahamnya sebagian ulama terhadap pemikiran Barat modern sehingga tidak dapat merespons dengan tepat gagasan-gagasan baru yang muncul di tengah masyarakat, yang membingungkan banyak orang. Para ulama hari ini juga perlu memahami dengan baik pandangan alam Barat (Western worldview) dan pandangan alam Islam (Islamic worldview) sehingga dapat merespons tantangan yang ada sekarang ini. Karena tantangan utama di era modern ini merupakan penjajahan dalam bentuk pemikiran, yang sebetulnya lebih berbahaya dibandingkan penjajahan fisik yang pernah terjadi dahulu.

Apa kritik dan saran Anda untuk pemerintah, ulama dan Masyarakat, bagaimana seharusnya mereka berperan dalam memajukan Indonesia?

Hendaknya semua selalu jujur dan bersungguh-sungguh dalam mengupayakan kemaslahatan umum, serta berusaha menjalankan adab yang baik. Para ulama perlu ikhlas dan juga zuhud (menjauhi dunia), sehingga nasihat mereka kepada pemerintah dan kepada orang banyak dapat memberikan pengaruh yang signifikan. Mereka perlu menguasai dan penyebarluaskan ilmu yang benar, bukan ilmu yang tercemar oleh pemikiran dan ideologi menyimpang. Pemerintah harus mengelola negara dengan sebaik-baiknya serta meninggalkan praktik-praktik korupsi, karena Indonesia yang sudah kaya dengan sumberdaya alam ini semestinya dapat memberikan kemakmuran yang maksimal bagi masyarakat sekiranya dikelola dengan amanah. Dan masyarakat perlu meningkatkan ilmu dan kemampuan mereka dalam hal apa saja yang dapat memberikan manfaat kepada sesama. []

Tags: PahlawanSejarah IndonesiaUmat Islam
Share9Tweet6Send
Previous Post

Mukjizat Al-Qur’an (Bagian 4)*

Next Post

Amnesia Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

6 October 2026
DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

8 October 2026
Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

5 October 2026
Berbudi Tinggi dan Berjiwa Besar: Fondasi dan Mahkota Kepribadian Santri

Berbudi Tinggi dan Berjiwa Besar: Fondasi dan Mahkota Kepribadian Santri

25 September 2026
Tirakat Orangtua Untuk Anak

Tirakat Orangtua Untuk Anak

11 October 2023
Drama Contest PMDG Kampus 12 Siak: Santri Asah Keberanian dan Kemampuan Berbahasa Asing

Drama Contest PMDG Kampus 12 Siak: Santri Asah Keberanian dan Kemampuan Berbahasa Asing

0
Magnet Rezeki Center Undang Majalah Gontor Ikuti Seminar Hybrid Serentak di Beberapa Kota

Magnet Rezeki Center Undang Majalah Gontor Ikuti Seminar Hybrid Serentak di Beberapa Kota

0
DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

0
Pimpinan Gontor Resmikan Masjid Pesantren Baitussalam Gunungkidul

Pimpinan Gontor Resmikan Masjid Pesantren Baitussalam Gunungkidul

0
Prodi IQT UNIDA Gontor Dalami Jurnalistik Media Islam di Majalah Gontor

Prodi IQT UNIDA Gontor Dalami Jurnalistik Media Islam di Majalah Gontor

0
Drama Contest PMDG Kampus 12 Siak: Santri Asah Keberanian dan Kemampuan Berbahasa Asing

Drama Contest PMDG Kampus 12 Siak: Santri Asah Keberanian dan Kemampuan Berbahasa Asing

8 October 2026
Magnet Rezeki Center Undang Majalah Gontor Ikuti Seminar Hybrid Serentak di Beberapa Kota

Magnet Rezeki Center Undang Majalah Gontor Ikuti Seminar Hybrid Serentak di Beberapa Kota

8 October 2026
DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

DAS Jadi Ruang Tumbuh Santri Darrurohmah Cirebon

8 October 2026
Pimpinan Gontor Resmikan Masjid Pesantren Baitussalam Gunungkidul

Pimpinan Gontor Resmikan Masjid Pesantren Baitussalam Gunungkidul

8 October 2026
Arsitektur Peradaban Gontor: Sintesis Tasawuf, Sunnatullah, dan Hakikat Pendidikan

Arsitektur Peradaban Gontor: Sintesis Tasawuf, Sunnatullah, dan Hakikat Pendidikan

6 October 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result